
Cerita 106
Sudah 2 hari Danis gak bisa hubungi Anjas, mungkin nomer ponsel Danis di blokir. Saat dia minta tolong Dimas dan yang lainnya mereka mengiyakan tapi tetap gak ada kabar. bahkan Danis udah muter kemana-mana buat nyari Anjas tapi nihil.
Danis sadar kalau dia memang salah, tapi dia gak nyangka kalau Anjas akan semarah ini.
"Yank... maaf, kamu dimana? aku kangen" kata Danis lirih.
Saat ini Danis lagi duduk di cafe ruang baca sendirian. Otaknya melayang mikirin Anjas.
"Nis..." panggil seseorang.
'Kenapa harus suara ini, aku kangen suaranya Anjas bukan suara Arka' batin Danis sambil menggelengkan kepala.
Arka ngusap bahu Danis, cewek itu kaget. ternyata memang Arka, cowok itu senyum manis ke Danis.
"Sendirian?" tanya Arka, Danis ngangguk terpaksa.
"Boleh duduk?" tanya Arka lagi, meski berat akhirnya Danis ngangguk lagi.
"Kamu kenapa? ada masalah?"
Danis menggeleng, rasanya begitu malas menghadapi Arka, karena dia Anjas sekarang marah, tapi dia juga gak bisa sepenuhnya nyalahin Arka.
Arka mencoba ngajak Danis ngobrol, walaupun Danis keliatan acuh dan malas Arka masih tetap berusaha. Danis hanya nanggapin Arka dengan senyum maksa, sampai ada telphon yang mengharuskan Arka segera pergi.
Arka pamit ke Danis, mungkin ini pertemuan terakhir mereka sebelum Arka ke Jerman. Sekilas Arka ngusap tangan Danis lembut Sambil senyum.
Danis kembali duduk sendirian, dia mengaduk minuman yang dari tadi masih utuh. Mata Danis membelalak ketika dia melihat Anjas berdiri di tangga dengan tatapan tajam mengarah ke Danis.
Secepat kilat Danis langsung ngejar Anjas yang udah mulai naik ke lantai dua. Danis narik tangan Anjas dan ngajak masuk ke dalam rumah.
"Yank... tolong jangan gini, dengerin aku dulu" pinta Danis.
"mataku udah ngeliat semua, gak perlu dengerin penjelasan kamu!" kata Anjas dingin, dia narik tangan Danis kasar.
"kamu salah paham!" Danis mulai nangis.
"aku paham" bentak Anjas, "apa perlu nama penganten cowoknya di ganti? mumpung undangannya belum semua kesebar" kata Anjas dingin.
"enggak yank..." iba Danis.
__ADS_1
Anjas senyum miring "Mungkin bener kata Arka dulu, kayaknya emang kalian main di belakang aku. kalian kan emang jago masalah kayak gitu"
"Anjas!" bentak Danis yang mulai emosi, dia sakit saat Anjas masih punya pikiran seperti itu.
"Apa!?!" bentak Anjas gak kalah emosi.
"aku gak ada apa-apa sama Arka, kamu percaya" kata-kata Danis mulai lembut lagi.
"Ck... kemana aja kamu semalem? pantes gak seorang gadis yang mau nikah jalan berdua sampek malem sama mantanya?" tanya Anjas tegas.
"Maaf yank..."
"Ngapain aja kamu sama dia?" Anjas benar-benar emosi.
"kita cuma ngobrol yank..." jawab Danis gugup, dia sangat benci keadaan ini.
"Ngobrol apa sampe jam segitu? ngobrolin masa depan kalian?" kata Anjas dingin. dia berjalan ke arah dapur, ngambil minum buat nenangin emosinya.
Tadi Anjas dapat laporan dari karyawannya kalau Danis ke cafe lagi nyari dia, Anjas sangat tahu Danis kebingungan nyari dia, karena gak tega dan dia juga ngerasa kangen akhirnya Anjas milih turun buat nemuin Danis. Tapi malah dia disuguhin pemandangan memuakan Danis dan Arka.
Danis dan Arka memang cuma ngobrol yang kadang diselingi senyum Danis dan saat Arka mau pergi dia ngeliat Arka ngusap tangan Danis, di sudut pandang Anjas mereka terlihat seperti pasangan kekasih. dan itu ngebuat emosinya memuncak.
"kita harus ngobrol yank" kata Danis lembut.
"Apa kalian juga ngobrol sambil adegan kayak gini?" sinis Anjas, dia meletakan gelas kasar, ngebayangin apa yang bisa Danis dan Arka lakuin di belakangnya bikin dia emosi lagi.
Anjas narik tangan Danis agar mengikutinya, dan dorong badan Danis ke ranjang. Anjas naik di atas tubuh Danis, mengunci badan mungil Danis dengan tubuhnya.
"Apa kalian juga ngobrol seperti ini?" tanya Anjas, ngeliat Danis yang hanya diam dan terus nangis bikin Anjas geram.
"Apa aja yang udah kalian lakuin Danis!" bentak Anjas.
Entah karena apa, dipikiran Anjas dipenuhi adegan Danis dan Arka sedang berduaan menghabiskan waktu. Dia sangat cemburu.
Anjas nyium Danis kasar, dia terus mencoba menjelajahi bibir Danis walau tanpa balasan, lidah Anjas terus mendobrak pertahanan Danis, puas dengan bibir Anjas beralih kebagian wajah Danis yang lain, sampai pada leher Danis.
Anjas sangat kasar, Beberapa kali Danis coba dorong badan Anjas, tapi tenaganya jelas kalah. Kini bibir Anjas sudah mulai beralih ke dada Danis. tangannya juga sudah menyusup ke dalam baju Danis, tangisan Danis makin keras, Anjas tersadar. Dia pandangi wajah cantik Danis.
"Kenapa? kamu gak rela aku ngelakuin kayak gini?"
"aku bakal ikhlas ngelakuin apapun sama kamu, tapi nanti setelah kita sah yank" jawab Danis lembut, selama ini mereka memang hanya sebatas ciuman bibir, tidak pernah lebih seperti tadi.
__ADS_1
Anjas mundur,dan berdiri. dia melihat tajam Danis "yakin? bukan karena kamu udah ngelakuin sesuatu sama Arka? dan kamu takut ketahuan?"
"Kamu pikir aku ngelakuin apa sama Arka?" geram Danis
"S*ks mungkin!" jawab Anjas enteng, Danis pernah cerita kalau Arka pernah ngelakuin s*ks sama Mega, dan itu ngebikin pikiran negatif Anjas ke Danis timbul.
Plaaak...
Danis nampar pipi Anjas keras. tangisannya pecah lagi. dia balik natap tajam cowok yang dia cintai. Dia sangat tahu Anjas cemburu, tapi ucapannya begitu keterlaluan.
"Sampe segitunya kamu ke aku?" bentak Danis sambil mukul dada Anjas. "jahat... kamu jahat!"
"Apa kamu pikir kamu juga gak jahat ke aku?!? aku nyari kamu kemana-mana, khawatir sama kamu. tapi kamu malah asyik sama Arka" kata Anjas sambil terus biarin tangan Danis yang masih mukul dadanya.
Danis masih sesenggukan, dia gak suka situasi ini. Kepalanya pusing, dadanya sesak. dia butuh Anjas.
Sikap Danis yang seperti ini bikin kepala Anjas juga sakit, dia ngerasa Danis ngehianatin dia.
"Aku mau mastiin 'milikku' masih utuh atau enggak" kata Anjas lagi.
Anjas mulai nyerang Danis lagi, kali ini sikap Anjas gak sekasar tadi, Anjas dorong tubuh Danis ke dinding, dia angkat kedua tangan Danis ke atas kepala. bibirnya terus mengabsen setiap jengkal wajah Danis dan perlahan turun ke leher dan dada Danis. Emosi yang diselimuti nafsu sudah menguasai Anjas.
"Stop Njas!" bentak Danis "Percaya sama aku" Danis meluk Anjas, kepalanya dia tenggelamkan di dada calon suaminya, dia nangis disana.
"Maaf udah bikin kamu marah kayak gini, aku masih utuh, tunggu sampe kita sah. aku bakal nyerahin semua ke kamu yank" cicit Danis pelan.
Semarah apapun Anjas ke Danis, dia gak tega ngeliat orang yang dicintai kayak gini. Anjas ngelepas pelukan Danis kasar.
"Pergi" kata Anjas pelan
"gak mau! aku mau jelasin ke kamu" bujuk Danis
"Pergi atau aku perkosa kamu sekarang!" bentak Anjas, Danis menggeleng, dia tahu tadi Anjas hanya ngasih hukuman ke Danis.
Anjas ngusap wajahnya kasar, dia narik tangan Danis keluar rumah, dia tutup pintu kasar. Danis masih berdiri mematung di depan pintu, samar dia mendengar teriakan frustasi Anjas.
Hatinya sakit, meski dia ngerti kekecewaan Anjas, tapi dia juga ngerasa sesak denger tuduhan Anjas tadi. Air matanya turun lagi.
"Aku sayank kamu, maaf" gumam Danis.
***
__ADS_1