
Cerita 91
Samar-samar Danis ngeliat ada bayangan cowok di bawah, menatap Danis.kedua mata mereka bertemu, gadis itu memperjelas pandangannya.
"Ya Allah..." gumam Danis. dengan cepat dia berlari kebawah.
Danis begitu kaget, dadanya terus bergejolak, lututnya serasa melemah, dia mendekat ke cowok itu, cowok yang seharian ini bikin Danis gila. Anjas.
Anjas terlihat berantakan, rambut acak-acakan, ada sedikit darah di ujung bibirnya, ditambah gerimis yang makin deras bikin tampilan Anjas tambah ancur.
Danis langsung menghambur di pelukan Anjas, dia menenggelamkan kepalanya di dada bidang Anjas. sadar tak ada respon, Danis melepas pelukannya, dia menatap Anjas. air matanya gak bisa dia bendung. Danis menangis lagi.
"kamu kenapa Sayank?" pertanyaan Danis dan tatapannya yang lembut masih belum bisa menyadarkan Anjas. cowok itu masih mematung, otaknya masih merekam dengan jelas kejadian tadi sore.
---Flashback on---
Anjas duduk di atas mogenya, dia berhenti di depan salah satu kampus negeri. dia terlihat menunggu seseorang. saat target udah keliatan dia ikutin. dan menghadang saat mobil itu ada di tempat yang cukup sepi.
Anjas berdiri di samping motornya dengan tangan bersilang di depan dada, ngeliat ke arah mobil Arka. target turun dari mobil dan mendekat.
tangan Anjas udah mengepal, rahangnya mengeras, emosinya udah sampe di ubun-ubun ketika Arka makin dekat.
tanpa aba-aba dia langsung nonjok Arka, cowok itu jatuh ke aspal. Saat Arka mau berdiri, Anjas mendekat dan menarik kerah bajunya. Anjas menindih badan Arka dengan satu kaki yang berlutut.
"udah gue bilang jauhin Danis!"bentak Anjas.
Arka senyum sinis, "kenapa? takut Danis lebih milih aku?"
Anjas diam, sedikit ragu jawab pertanyaan Arka, karena jujur dia memang masih ragu sama perasaan Danis.
tapi dengan cepat Anjas menggeleng "Danis udah lupain lo, cintanya sekarang cuma buat gue."
dengan kasar Anjas nglepas cengkramannya. Arka kembali tersungkur. fisik Arka kalah jauh dibanding Anjas, meskipun dia tinggi dan badannya proporsional, Arka jarang olahraga. beda dengan Anjas. apalagi dia juga pemegang sabuk hitam karate.
"kalau kamu seyakin itu gak bakal ada kejadian ini" kata Arka dengan senyum liciknya.
mereka berdua berdiri, keduanya saling tatap. gak ada yang mau ngalah.
"Danis udah gak cinta sama lo, tapi gue tetep gak trima elo nemuin cewek gue, apalagi meluk cewek gue!" kata Anjas tegas.
"owh.. jadi masalah kemaren? aku emang nemuin Danis, dan ngajak dia buat selingkuh! dan kamu pasti tau jawaban apa yang diberikan Danis"
Anjas kaget, reflek dia langsung mukul wajah Arka beberapa kali, dia emosi. dengan gampangnya Arka ngajak selingkuh Danis.
"Danis pasti gak cerita ke kamu. dia emang pinter nutupin sesuatu!" Arka coba memprovokasi Anjas, dia tau ada keraguan tentang perasaan Danis dari wajah Anjas.
Pikiran Anjas masih kacau, dia blank. dan Arka manfaatin itu, dia balik mukul wajah Anjas, walaupun gag terlalu keras itu membuat sedikit darah muncul di sudut bibir Anjas.
"itu balasan karena kamu udah ngambil Danis dari aku!" kata Arka sinis, dia berlalu ninggalin Anjas.
Arka milih pergi dari sini, berlama-lama disini yang ada wajahnya makin babak belur.
Anjas masih diam "Jutek..." gumam Anjas, matanya berkaca-kaca.
--Flashback off--
***
__ADS_1
"Sayank..." panggil Danis, masih tak ada respon dari Anjas. cowok itu masih memandang Danis dengan lekat.
tanpa nunggu lama, Danis nyium bibir Anjas, hanya kecupan biasa, tapi itu sukses bikin Anjas kedip kedip gak percaya.
"ikut aku" Anjas narik Danis buat naik ke atas motor.
Dan sekarang disinilah mereka, di rumah cafenya Anjas. tempat kesukaan Danis dan Anjas buat pacaran.
Sikap Anjas masih dingin, sekarang Danis lagi ngasih salep buat luka di sudut bibir Anjas. setelah itu dia bantu ngeringin rambut Anjas dengan handuk.
"Cukup Dan..." kata Anjas sambil tangannya nahan tangan Danis. keduanya duduk berhadapan.
"kamu gak mau cerita ke aku?" tanya Danis.
"bukannya kamu yang harusnya cerita ke aku?" tanya Anjas sedikit bentak.
Danis kaget, sikap Anjas keliatan aneh. dia bener-bener gak paham sama maksut Anjas. tapi saat ini dia gak mau emosi, karena sekarang dia sadar bagaimana perasaan nya ke Anjas.
Perlahan Danis meluk Anjas, "aku gak paham maksut kamu, tapi kalau aku buat salah, aku minta maaf. jangan giniin aku Yank. kita bisa omongin berdua" Danis nangis, dia takut dengan sikap Anjas.
Anjas tersengat dengan ucapan Danis, semarah-marahnya Anjas, dia paling gak bisa ngeliat Danis kayak gini.
Mereka sama-sama diam, Anjas masih belum balas pelukan Danis, hatinya masih sakit saat inget omongan cowok brengs*k itu.
Anjas nglepas pelukan Danis, "bilang jujur ke aku Dan, kamu masih cinta sama cowok brengs*k itu?" tanya Anjas masih dengan nada tinggi.
Danis menggeleng "Enggak!"
"liat aku dan bilang kamu udah gak cinta sama dia!" kata Anjas dengan menekan tiap kata.
"buat aku bener-bener yakin kalau kamu cuma cinta sama aku Dan... aku mohon" Anjas berkata lembut, dia hanya bisa menunduk.
"Aku cuma cinta sama kamu Sayank..." kata Danis tulus dan lembut namun terdengar tegas, gak ada keraguan.
Anjas mendongak, menatap netra hitam milik Danis. " katakan lagi!"
"Aku cuma cinta Kamu!"
"lagi"
"aku cuma Cinta kamu!"
"lagi"
"aku cuma cinta kamu, Anjas Pramudya!" kali ini lelaki itu tersenyum.
"Dan...kamu cuma milik aku kan?"
"iya, aku cuma milik kamu" kata Danis sambil nyentuh dada bidang Anjas.
Tanpa menunggu dia langsung mengecup bibir Danis, kecupan yang berubah jadi ******* dan semakin panas, mereka saling menikmati, tangan Danis dikalungkan di leher Anjas,dan dengan posesif Anjas meluk pinggang Danis.
"Awwww...." Anjas menghentikan aktivitas itu. "sakit" lirihnya dengan megang sudut bibirnya.
Danis ketawa, "jangan bikin aku takut"
"takut?"
__ADS_1
"iya, sikap kamu yang tiba-tiba diem, tanpa kabar dan bentakan kamu. bikin aku takut" jawab Danis pelan.
"Maaf sayank...!"
'aku lebih takut lagi kalau kehilangan kamu Dan...' batin Anjas.
"lagian kamu tuh gak cocok tau jadi pendiem, ngilang marah-marah. gak seksi!" kata Danis sambil manyun.
"tapi sekarang udah seksi dong, tergoda gak?" tanya Anjas sambil menaik turunkan alisnya.
"tergoda sih, tapi inget pas kamu lagi nangis jadi mikir-mikir" kata Danis santai.
"Aseeem... sapa yang nangis, kelilipen tadi"
"masa?"
"iya"
"masa bodo" Danis senyum, Anjas ikutan.
Perlahan Anjas ngambil tangan Danis dan menciumnya berkali-kali, setelah puas dia meluk Danis, memposisikan badannya, nyari kenyamanan. Dia betah meluk Danis.
"Jangan pernah lagi ada cowok yang nyium dan meluk kamu selain aku" bisik Anjas, dan dia melepas pelukan itu.
Danis natap Anjas, dia bingung. dia seakan bertanya dengan mata. "Jangan bilang..." Danis berhenti dan menutup mulutnya.
"kemaren sebelum tanding temenku ngirim video ke aku, di video itu tangan kamu dicium dan di peluk sama begundal satu itu" kata Anjas mulai emosi lagi.
"terus?"
"terus? ya aku emosi lah yank, selama main kebayang video itu "
"jadi kartu merah itu juga karena kamu kepancing sama video itu?"
Anjas ngangguk, Danis diam. dia ngerasa berasalah. Danis tau, sepak bola adalah nyawanya Anjas, dan sekarang gegara Danis cowok itu kena hukuman.
"Maaf...."
"kamu gak perlu minta maaf Sayank, aku aja yang gampang emosi" kata Anjas "lagian kamu ngapain sih harus ketemuan sama cowok itu? bikin kesel aja"
"Maaf yank, aku sengaja nemuin Arka biar dia gak gangguin kita lagi"
"lain kali gak usah nemuin dia. aku gak suka"
"iya. janji yank" kata Danis sambil genggam tangan Anjas "Sekarang kamu cerita kenapa bisa sampe kayak gini?" tanya Danis sambil ngusap pipi Anjas.
"Semalem aku dihukum, di omeli sama pelatih dan manajemen juga kena hukuman fisik sampai hampir pagi. terus ketiduran di asrama. tadu aku ketemuan sama temen" kata Anjas sambil lirik Danis
"hukuman fisiknya ditonjok?"
"ya gak lah, lari, push up gitu-gitu pokoknya."
"terus ini?" tanya Danis sambil nunjuk bibir Anjas.
"ditonjok sama orang yang pacarnya aku rebut" jawab Anjas malas
***
__ADS_1