Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 25


__ADS_3

Cerita 25


Danis membasuh mukanya di wastafel kamar mandi. Dia bener-bener ngerasa gila. Dia sudah beberapa kali ciuman dengan Arka, dan menurutnya itu masih dalam batasannya. tapi pikiran yang menyusupinya ternyata menginginkan lebih.


"Dasar setan kampr*t" rutuk Danis sambil memukul kepala pelan.


Bagaimana mungkin saat dia berciuman dengan Arka tadi, pikirannya seakan menginginkan lebih. dan dia juga sempat berfikir kalaupun harus melakukan s*ks dengan Arka dia siap.


Danis memang mencintai Arka, tapi bagaimana mungkin dia berfikir menyerahkan mahkota paling berharga dalam dirinya kepada Arka.


Setelah cukup lama menenangkan diri, Danis keluar menemui Arka. dia melihat pacarnya itu tertunduk, rambutnya terlihat acak-acakan.


"Danis..." sapa Arka ketika Danis duduk di sampingnya.


Arka menggenggam tangan Danis, "Kamu marah ke aku?" Danis menggeleng.


"Aku janji gak bakal ngelakuin lebih dari yang tadi sayank" kata Arka sambil meletakan tangan Danis di dahinya.


"Janji?" tanya Danis. Arka mengangguk, entah kenapa Arka berkaca-kaca.


"Banyak hal yang pengen aku ceritain ke kamu" kata Arka "Tapi..."


"Arka, kalaupun kamu belum mau cerita gak apa-apa. sebisa mungkin aku bakal nunggu... tapi aku minta, sesakit apapun cerita itu. aku pengen dengernya langsung dari kamu, bukan dari orang lain."


Arka menangis, "Maaf aku uda banyak nyakitin kamu. Aku...." dia kembali diam. Danis memeluk Arka yang semakin sesenggukan. meskipun Arka belum cerita apa-apa, Danis seperti mengerti alur cerita ini.

__ADS_1


Setelah Arka mulai tenang, Danis melepas pelukannya dan menyodorkan botol minuman Arka, yang langsung diminum habis. kini keduanya sama-sama diam.


"Sekarang aku cuma butuh tahu 1 hal, dan terserah kamu selanjutnya mau cerita apa enggak, aku bakal nunggu. boleh?" tanya Danis sambil memegang tangan Arka. dia mengangguk.


Danis memegang wajah Arka menghadap dirinya "Kamu pernah s*ks sama Mega?" Arka terlihat kaget dengan pertanyaan Danis, dia ingin memalingkan wajahnya tapi Danis tetap kekeh memeganginya.


"Iya pernah" jawab Arka sambil memejamkan matanya, dia gak bisa ngeliat ekspresi Danis yang pasti sangat kecewa dan benci ke dirinya. perlahan Danis melepaskan tangannya dari wajah Arka.


Untuk kesekian kalinya Danis terasa kesamber petir. dia sangat kecewa dengan Arka. cowok yang dulu dia kenal sangat tegas terhadap moral dan agama. Kini seakan bukan Arka yang ada dihadapannya. dia seperti kehilangan orang yang dicintainya. Arkanya Danis bukan orang seperti itu.


Danis masih membisu di tempat duduknya, dia bingung harus bersikap seperti apa. sedangkan Arka, dia tetap menunduk dan kembali menangis tanpa suara.


keheningan berlangsung sampai beberapa menit.


"Arka... aku kayaknya pulang dulu deh" kata Danis, dia gak kuat kalau terus disini,sedari tadi dia berusaha menahan air matanya supaya tidak jatuh, dia tidak ingin terlihat lemah di depan Arka.


"Enggak usah, aku pulang sendiri"


"Nis aku anterin, ini uda malem" kata Arka yang sekarang sudah berdiri di depannya.


"Lepasin aku Ka, aku bisa pulang sendiri" kali ini Danis bentak, sambil menepis tangan Arka.


Arka kaget mendengar bentakan Danis, tapi dia sadar kalau memang dia salah, sangat salah.


"Maaf" kata Danis sambil berlalu keluar dari rumah Arka.

__ADS_1


Saat Danis sudah di depan pagar, terdengar teriakan Arka, Danis menoleh dan air matanya sudah membanjiri wajah cantiknya.


***


Danis terus berjalan, tanpa menghiraukan tatapan orang yang melihatnya. dia tau sekarang dirinya terlihat sangat kacau, tapi dia gak peduli karena hatinya sekarang lebih kacau dari penampilannya.


Danis mengeluarkan ponselnya dan menelphon Sisil. dia ingin minta jemput, karena dia ngerasa udah gak kuat jalan. Sambil menunggu Sisil mengangkat telphon Danis duduk di sebuah bangku jalan.


"Hallo Nis" sapa Mbak Sisil


"Mbak aku minta tolong jemput aku. Sekarang" kata Danis sambil terus nangis.


mendengar tangisan Danis, Sisil mulai klabakan. saat ini dia sedang lembur mengerjakan proyek Danis yang beberapa hari ini berantakan. "Kamu dimana?"


"Aku di..." belum sempet Danis ngomong hapenya mati, lowbat.


"Brengs*k" teriak Danis pelan.


Kata orang pelakor itu pasti nanti dapat karma, sedang Danis ngerasa Karma itu langsung cepet dateng ke dirinya. tiap kali dia ngerasa bahagia sama Arka, dia langsung di kasih kejutan. belum sempet kebahagiaan nginep di dirinya, tapi rasa sakit segera datang dan menelan itu semua.


Kebahagiaannya seperti hilang, hidupnya yang beberapa jam yang lalu masih indah, kini mendadak mati. dia seperti tidak ada semangat hidup.


"Buat apa hidup, tapi rasanya udah kayak mati gini" kata Danis pelan.


Entah mantra apa yang dibisikan Arka, sehingga dia begitu mencintainya. dan setelah rasa sakit itu bener-bener datang dia seperti enggan hidup.

__ADS_1


***


__ADS_2