Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 81


__ADS_3

Cerita 81


"Daniiiiis...!!!" Panggil Anjas agak keras.


"Eh..." Danis nyubit pipinya.


'ini bukan dunia halu, sakit' batin Danis.


Danis senyum ngeliat Anjas, dengan cepat dia pengen lari nyamperin Anjas, tapi baru selangkah Anjas nyuruh dia berenti. Sekarang malah Anjas yang jalan nyamperin Danis. dia berenti dengan jarak sekitar 2 meter dari Danis. gadis cantik itu mengernyitkan dahinya, agak bingung dengan sikap Anjas.


"Hey Cewek Jutek... jangan protes, cukup dengerin" perintah Anjas. Dengan jarak yang lumayan jauh, Anjas sedikit teriak.


Anjas keliatan makin ganteng dan cool banget, Danis yang udah sadar jadi mikir macem-macem, dan feelingnya saat ini bikin Danis keringat dingin, gugup.


"Aku gak bisa kalau disuruh ngungkapin bualan romantis kayak di drakor yang kamu tonton. tapi aku yakin perasaanku ini lebih indah dan nyata dari itu semua. Dan... aku gak bisa janji apa-apa ke kamu, tapi aku bakal ngelakuin apapun buat bikin kamu selalu bahagia."


Anjas menghela nafas pelan "Jutek, maaf.. aku gak mau nembak kamu buat dijadiin pacar, gak maching sama umur kita. tapi aku mau minta ijin ngajak kamu ke tujuan yang lebih nyata. boleh gak aku jadi imam di hidup kamu? jadi ayah anak-anak kamu?" tanya Anjas tegas.


"Danis Adinatta Putri, Kamu mau gak nikah sama seorang Anjas?" Tanya Anjas lagi.


Deg deg deg...


Jantung Danis berpacu sangat cepat, badannya seperti menggigil, lututnya mulai melemas. Gimanapun juga ini pertama kali dalam hidupnya dilamar cowok buat jadi istrinya, dan cowok itu Anjas.


Kedua mata mereka saling bertemu, Anjas ngasih senyuman yang mematikan buat Danis, dan gadis itu pun membalas senyumnya, ada buliran air yang mulai membasahi pipi Danis, dia menangis.


Perlahan Danis menganggukan kepalanya, "iya aku mau" jawabnya Pelan.


"Apaan? gak denger!" kata Anjas, dia memang cuma denger samar, tapi kurang yakin.


"Iya aku mau nikah sama kamu" teriak Danis, dengan suara isakannya.


Tanpa nunggu lama, Anjas langsung lari ke arah Danis, dan meluk cewek itu erat. "Makasih Jutek" bisik Anjas.


Anjas nglepas pelukannya, perlahan dia makein kalung di leher Danis, dan nyium kening Danis lembut, Danis makin terisak, dan mereka kembali pelukan.

__ADS_1


"Mentang-mentang lagi di bukit teletubies mereka pelukan mulu" semprot Nino, yang usil sama kemesraan pasangan baru.


"Awww...." teriak Anjas sambil nglepas pelukannya, tangan Danis lagi nyubit perut Anjas.


"nyebelin" rengek Danis manja. Anjas senyum dan ngacak rambut Danis lembut.


'Aku milih kamu Njas!' batin Danis.


Sepanjang liburan singkat ini Anjas selalu ngasih keromantisan yang sederhana buat Danis. Seperti biasanya dia gak terlalu lebay dalam nunjukin perasaanya, tapi sikapnya selalu bikin Danis dan yang lainnya baper.


***


"Anjaaaas!" bentak Danis, ini hari pertama setelah drama lamaran kemaren. tapi lihat, saat Danis lagi pulang kerja dan dari tadi nunggu jemputan Anjas, yang ditunggu malah asyik molor.


"kog udah pulang? kamu bolos kerja ya?" tanya Anjas dengan suara serak khas bangun tidur. dia mulai duduk, ngumpulin nyawa.


"ini udah mau maghrib Anjas" kata Danis dengan penuh penekanan.


Anjas ngelirik jam, 17.15. pantesan ibu ratu ngamuk, hampir sejam Danis nungguin Anjas.


"Maaf, Semalem gak bisa tidur. Kepalaku pusing" kata Anjas sambil nyengir.


"Eh... jangan dong, aku mandi bentar. kamu tungguin sini" kata Anjas sambil lari ke kamar mandi.


Lima belas menit kemudian Anjas keluar dari kamar mandi, dengan baju santainya. rambutnya masih basah, bagi Danis pemandangan itu begitu seksi.


Anjas duduk disebelah Danis, "kamu mikirin apa sampek gak bisa tidur?" tanya Danis lembut.


"Mikirin kamu lah, gila aja sekarang kita udah sepasang kekasih lo Dan, semaleman aku kayak orang gila, senyum-senyum terus" Terang Anjas,


Danis senyum denger penjelasan Anjas, "Masih pusing?" tanya Danis sambil ngusap kepala Anjas.


"Dikit" jawab Anjas asal, perlahan Danis mendekat dan nyium kepala Anjas. mereka saling tatap, dan lagsung senyum-senyum.


"Gilak, bisa copot jantung aku Dan kalau kayak gini" kata Anjas sambil narik tangan Danis ke dadanya, detak jantung Anjas seperti lari kencang, gak beraturan.

__ADS_1


"Kamu fikir aku enggak? jantung aku lagi dj.an ini"


"boleh aku raba?" Anjas menawarkan diri.


"enak aja!"


"mastiin aja"


"modus" protes Danis, dia nyandarin kepalanya di bahu bidang Anjas.


"Dan, apapun yang terjadi kamu jangan ninggalin aku tanpa penjelasan ya. jangan pernah ngehindarin aku kayak kemren" kata Anjas sambil nyium rambut Danis.


"Maaf" pinta Danis


"emang kemaren kenapa ngehindar?"


"Sengaja, aku pengen mastiin perasaanku aja" terang Danis.


"Maksutnya?" Anjas masih bingung.


"Sebenernya, hari minggu pas kamu berangkat ke Bandung, aku jalan sama Arka, seharian aku liburan sama dia. dan itu pertama kalinya aku ngerasa milikin Arka sepenuhnya. tanpa dia yang bingung sama Mega. sampe saat itu aku ngerasa perasaanku masih milik Arka." terang Anjas


"Pantes ngilang" Anjas sewot.


"Dengerin dulu" kata Danis sambil ngusap pipi Anjas "Sampe akhirnya Arka mau nyium aku, dan disitu aku langsung ke inget kamu, aku bener-bener ngerasa kangen sama kamu. dan aku ngehindari ciuman itu, ada rasa bersalah gitu, bukan karena Arka ato Mega, tapi aku ngerasa salah sama kamu. jadi aku mutusin selama seminggu kemaren nyuekin kalian berdua."


Danis duduk menghadap Anjas, "Dan akhirnya aku milih kamu" kata Danis lembut sambil nyubit hidung Anjas.


Anjas senyum, "yakin sama pilihan kamu?" tanya Anjas


Danis mengangguk pelan, kedua mata mereka kembali bertemu, Anjas mencoba mencari jawaban dari mata Danis, ya Danis jujur, gak ada kebohongan disana. Perlahan Anjas mendekatkan kepalanya. Kedua bibir mereka saling sapa, mencoba mengenal lebih dalam. Bibir Anjas mulai menerobos masuk, Danis membalas ciuman itu. Ciuman perkenalan yang dilandasi rasa cinta, bukan hanya nafsu.


"Aku sayank kamu" ucap Anjas sesaat setelah bibir mereka pisah.


Danis langsung meluk Anjas, air matanya turun lagi, "Makasih udah nungguin cinta aku" bisik Danis lembut.

__ADS_1


"Kita berjuang bareng ya" pinta Anjas, Danis ngangguk dalam dekapan hangat Anjas.


***


__ADS_2