Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 66


__ADS_3

Cerita 66


Tak berapa lama ada dua orang yang mendekat, dan berdiri di depan keduanya. mereka adalah pengamen jalanan. setelah menyanyikan sebuah lagu yang Danis sendiri gak kenal mereka diam, karena Anjas berbisik di telinga mereka.


Setelah Anjas berbisik keduanya saling pandang, dan tersenyum tipis. Anjas kembali ke duduknya, dan mengambil gitar dari pengamen itu.


"Happy birthday... happy birthday... happy birthday Danis..." Anjas memetik gitarnya dan bernyanyi sambil natap Danis.



jreng...


Selanjutnya Anjas berduet dengan kedua pengamen itu, dan menyanyikan lagu ulang tahun. Anjas dan kedua pengamen itu begitu heboh bernyanyi, sampai beberapa orang melihat ke arah mereka.


Danis tersenyum, dia hampir lupa kalau besok ulang tahunnya, di usia sekarang ulang tahun bukan hal istimewa buat Danis. tapi ngeliat Anjas bernyanyi bikin Danis pengen mewek, meskipun ada rasa malu juga karena diliatin orang.


"selamat ulang Dan... " ucap Anjas sambil megang tangan Danis, kini tinggal mereka berdua disana.


"kan masih besok ulang tahunnya"


"biarin, takutnya ntar ada yang ngucapin duluan." kata Anjas sambil nyolek hidung Danis.


"kadonya mana?" pinta Danis, Anjas nyengir.


"doa sama kadonya nanti, kan belum waktunya. sekarang cuma ngucapin dulu, hehehe"


"nyuri start" protes Danis, Anjas cuma melet "tapi makasih ya, gak nyangka aja kamu kolabs sama pengamen"


"aku sih gak bisa romantis kayak yang lainnya, seadanya aja" kata Anjas


'seadanya kamu tuh bikin aku nyengir mulu Njas' batin Danis


"yang tadi udah cukup romantis lah, siapa juga yang punya ide begituan, langka tau" bela Danis, karena jujur dia baru pertama ngalamin hal kayak gini, dan hal sederhana itu bikin hati Danis berbunga.


"masa? suka?" tanya Anjas, Danis ngangguk dan senyum bikin Anjas reflek ngacak rambut Danis pelan.


"pengennya besok seharian nyulik kamu, biar kita bisa jalan berdua ngerayain ulang tahun kamu. tapi aku malah tanding, maaf ya"

__ADS_1


Danis senyum "santuy lah, kayak abg aja. lagian besok kan aku juga bakal liat pertandingan kamu sama yang lain juga. besok kasih goal dong buat aku"


"kalau aku nge-goalin dapat apa?"


"dapat selamat lah" kata Danis sambil senyum ke arah lain.


"yang lain dong" kata Anjas ngambek "biar aku tuh termotivasi"


Danis ketawa, dan sedikit berfikir "satu gol, seharian jalan berdua. berlaku kelipatannya"


"menguntungkan gak ya?" Anjas pura-pura mikir.


"ya terserah, gak mau ya syukur"


"iya iya... tapi kalau aku bikin 3goal, brarti 3hari kita jalan berdua, pake nginep dong"


"gag pake, kan perjanjiannya seharian, gak semalaman"


"hahaha... gini deh, 3 hari 3 malam, tapi gak berdua, barengan sama anak-anak"


"oke deal... tapi kenapa gak yakin gini ya?" tanya Danis, mancing Anjas.


"wah... itu namanya meragukan, buat kamu mah 3 goal doang bisa di atur"


"gak pake curang ya!" ancam Danis, Anjas hanya senyum.


"jalan yok, udah malam ini" ajak Anjas, dia berdiri dan ngulurin tangan buat Danis, cewek cantik itu membalas uluran tangan Anjas, mereka jalan berdua dengan tangan saling bertautan.


"kog kesini dulu, udah malem Njas, gak enak sama mama papa" rengek Danis. ini udah jam 23.30 dan Anjas malah ngajak Danis ke cafe ruang baca, padahal cafe itu udah tutup.


"aku udah minta ijin mama sama papa kamu tadi"


"diijinin emangnya?" pertanyaan Danis hanya dibalas anggukan oleh Anjas, dia masih sibuk markirin motornya. Danis berjalan di belakang Anjas yang mulai menaiki tangga. Anjas menyalakan lampu balkon.


ceklek...


__ADS_1


Danis menutup mulutnya, balkon Anjas dibuat seromantis mungkin. lampu-lampu di hias di atas, ditengahnya ada dua kursi busa malas dan sebuah gitar. ada bunga juga ditiap sudut ruangan. sedang balon-balon berwarna merah bertaburan di lantai balkon.


"apaan nih?" tanya Danis sambil senyum-senyum seneng.


"nih anak-anak cafe yang bikin tadi, gak nyangka juga sih hasilnya kayak gini" Anjas juga tersenyum. dia narik tangan Danis dan ngajak duduk di kursi malas.


'apa Anjas mau nembak aku? kog mendadak gugup gini sih? m*mpus, jawab apa ntar' batin Danis


"Aku tadi ijinnya ke orang tua kamu mau bikin kejutan ulang tahun sama anak-anak , jangan bilang ya kalau kita cuma berdua"


"boong itu namanya"


"Sekali deh, gak ngulangin. pengen berdua sama kamu doang sih, gak bole?"


"berdua doang, takut ada setan ntar"


"setannya minder sama cantiknya kamu" kata Anjas sambil senyum, dia ngeliat jelas wajah Danis mulai memerah. Anjas meraih tangan Danis dan mencium punggung tangannya lembut.


"beneran ada setan deh kayaknya Njas, mendadak merinding" canda Danis, dia hanya sedikit salting aja sama sikap Anjas yang menurutnya manis.


"setannya cemburu deh kayaknya" kata Anjas santai.


"Dan... jangan pernah berubah ya, aku sayang sama kamu" kata Anjas akhirnya, mata mereka saling bertemu, Danis mencari sesuatu dalam manik mata Anjas, sesuatu yang selama ini selalu dia ragukan. tapi yang ada hanya ketulusan, walaupun Danis yakin dibalik itu ada sesuatu yang Anjas sembunyikan.


Perlahan Anjas mencium kening Danis lembut, kedua tangan mereka masih bertautan. Setelah merasa perasaannya makin membuncah, Anjas melepas ciuman itu, dan mengusap kepala Danis pelan.


"Selamat Ulang tahun Jutek..."


Danis tersenyum, dia merasa terharu dengan perlakuan Anjas, ada sesuatu yang menyesak di dalam dadanya, dia gak tau rasa apa itu, yang jelas Danis hanya ingin tersenyum.


"Selamat ulang tahun Daniiiiiis...!!!" teriak orang-orang dari arah tangga dalam cafe. Danis benar-benar kaget ada banyak orang disana yang sedang membawa kue.


Mereka adalah Mbak Sisil,Mas Fadhil, Raya, Nino, Mita, Prilly, Dimas dan Ricko. Danis melirik Anjas, tanpa suara Anjas berkata "kejutan"


Danis tersenyum lagi, lagi dan lagi. mereka semua seperti sebagian kado kecil yang Anjas berikan hanya untuk Danis. dan malam ini Danis sejenak melupakan seorang cowok yang daritadi terus menghubunginya, Arkana.


***

__ADS_1


__ADS_2