Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 47


__ADS_3

Cerita 47


Hari ini Anjas, Nino, Sisil, Danis ,Prilly dan juga Mita sudah berada dalam satu mobil. mereka di antarkan oleh seorang supir. Rencananya Sisil hari ini mau ngajak ketiga sahabatnya itu buat belanja aja di jogja tapi mendengar tawaran Anjas dia jadi berubah pikiran. Anjas ngajak mereka ke Pantai Glagah, salah satu pantai di kabupaten kulon progo jogjakarta.


Sebenernya Sisil sendiri sedikit curiga sama Danis dan Anjas, seperti ada yang mereka sembunyiin. tapi Sisil milih diam sampai mereka sendiri yang cerita. meskipun dia deket dengan kedua manusia tersebut, tapi dia tidak mau terlalu masuk ke dalam privasi mereka kecuali kalau mereka sendiri yang mengundang.


Setelah menempuh jarak yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di pantai itu. keenam insan itu sangat menikmati pemandangan di depan mereka. terutama cewek-cewek sosmed itu. aktivitas mereka tidak jauh dari kata selfi. Danis sendiri sudah mulai tertawa lepas, Anjas sedikit lega, tidak salah dia mengajak mereka jauh-jauh kesini.



"Nis..." sapa Anjas saat keduanya ditinggal sama rombongan.


"hmmmm..." kini mereka jalan di tengah beton pemecah ombak yang sengaja diberi celah untuk wisatawan berjalan-jalan.


"kamu udah baikan?" tanya Anjas, Danis menoleh.


"Lebih tepatnya memaksa baik-baik saja" kata Danis sambil senyum maksa.


"Makasih ya Njas... aku ngrepotin kamu terus"


Anjas hanya senyum tipis "kamu mah emang gitu, hobinya bikin aku repot."


Danis tersenyum polos. "ngomong-ngomong kamu tau darimana kalau aku kesini sama Mbak Sisil?"


"Inget gak waktu aku nganter kamu malem-malem? yang kamu nangis. itu kan rumahnya mbak Sisil, terus ketemu kamu di depan kantornya mbak Sisil. dari situ nebak aja kalau kamu temennya mbak Sisil. terus semalem kamu sempet nyebut nama mbak Sisil sambil takut gitu. di dunia ini mana ada lagi nama Sisil yang bikin orang takut selain dia" jelas Anjas sambil ketawa.

__ADS_1


"iya juga sih" Dania juga ketawa.


"Nis...."


"iya" jawab Danis sambil noleh ke Anjas.


"aku masih belum bisa balik Malang, tapi nanti kalau uda di Malang boleh gak ketemu kamu lagi?"


"boleh lah"


Anjas senyum "Boleh gak bantuin kamu bahagia lagi?" Danis sedikit gak paham dengan kata Anjas.


"boleh"


Anjas memegang kedua tangan Danis, "boleh gak?" tanya Anjas pelan.


"yakin bisa?" ledek Danis sambil mencoba melepas pegangan Anjas. tapi tangan Anjas begitu kuat memegang tangan Danis.


"kalau kamu beri kesempatan, aku gak bakal sia-siain itu" Anjas bener-bener menatap serius wajah Danis, yang diliatin jadi salah tingkah.


"Gimana ya... Arka tuh bandel banget, susah ngilang dari kepala aku" kata Danis yang mulai jengah di liatin Anjas.


"Danis... kamu cuma cukup jawab, boleh gak aku bantuin kamu ngelupain Arka?" kali ini entah kenapa saat Anjas ngomong itu rasanya begitu lembut dan dalam, Danis jadi sedikit berdesir.


"boleh" jawab Danis gak kalah lembut, kedua tangan mereka masih saling berpegangan. mata mereka masih saling bertemu, keduanya mencoba mencari sesuatu dari tatapan itu.

__ADS_1


Anjas senyum, bagi Danis senyuman Anjas kali ini bener-bener manis, Danis pun membalas senyuman itu.



"ciyee Baper... kapan-kapan aku gak mau mungut kamu yang lagi mewek di pinggir jalan lagi. ujung-ujungnya minta kabur"


Danis ketawa "makasih ya... kamu emang bisa di andelin kalau di ajak kabur, nanti ajakin lagi ya"


"dih kog jadi kamu yang smangat sih" ledek Anjas sambil mencet hidung Danis.


"diiih... sakit ih Anjas ah" protes Danis.


"tapi kamunya ada niatan buat lupain Arka kan?" tanya Anjas serius. Danis hanya diam, dia pengen lupain Arka, tapi dia juga takut kehilangan Arka. intinya Danis masih sayank banget sama Arka.


Melihat Danis yang keliatan mikir, Arka memegang pundak Danis "Bakalan berat nih perangnya" gumam Anjas.


"Yaudah gak usah dipikirin dulu, biarin jalan aja... tapi yang jelas aku bakal maksa nemenin kamu bahagia, karena kamu suka amnesia kalau cuma diingetin doang" kata Anjas, kini tangannya mulai ngacak-ngacak rambut Danis pelan.


"kamu siap-siap ya, secepatnya aku bakal nyuci otak sama hati kamu."


Sekilas Anjas mengedipkan sebelah matanya ke Danis dan dia pun tersenyum lagi, Danis bener-bener dibuat salting dengan senyum Anjas.


"Jangan lama-lama bapernya, ngejar yang lain yuk" ajak Anjas, sambil narik tangan Danis. mereka kembali bergandengan tangan. Entah ini awal yang baik atau buruk. hanya waktu yang bisa menjawab.


***

__ADS_1


__ADS_2