Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 96


__ADS_3

Cerita 96


Anjas bener-bener gelap mata, dia gak nyangka bisa ngeliat pujaannya lagi di kamar hotel dengan cowok. Anjas berlari dan memutar tubuh cowok itu, tangannya sudah mengepal di depan muka cowok itu.


Deg...


"Sial*aaaan...!!!" Anjas mengayunkan tangannya, tapi cuma berhenti di udara.


Matanya membelalak lagi menatap cowok itu.kaget. Anjas nendang angin. mengusap wajahnya kasar.


"Kamu ngapain disini Njas?" tanya cowok itu santai. Danis berdiri di antara Anjas dan Randy kliennya.


"Kakak yang ngapain disini?"bentak Anjas, seumur-umur baru kali ini Anjas ngebentak kakaknya.


Iya, Randy adalah kakak kandung Anjas, dia baru datang beberapa hari dari Bali. dia gak nyangka klien yang ngajak Danis buat ngamar adalah kakaknya sendiri.


"Kenapa emangnya?aku lagi kerja disini?"


"harus ya kerja di kamar hotel? ngerjain apa kalian?" kata Anjas masih dengan nada tinggi.


"Sayaank..." Danis nyoba ngredam kemarahan Anjas. bukan makin redam Anjas makin emosi.


"Diem...!" bentak Anjas sambil narik tangan Danis, mengamankan Danis dibelakang tubuhnya.


"gak usah kasar dong Njas!" bentak Randy gak kalah tinggi "kamu gak apa-apa Nis?" nadanya kembali lembut. Danis hanya mengangguk.


"gak usah sok peduli. kakak Gila ya? Danis ini pacar aku." kata Anjas "apa kakak gak inget sama Kak Ana di rumah???" Anjas coba ngingetin Randy tentang istrinya.


"Kenapa emangnya? aku tertarik sama Danis!" kata Randy nantang.


Mendengar omongan Randy, Anjas makin geram. Gimana bisa orang yang selama ini dia hormati dan sayangi tega ngelakuin ini.


"Gila! kalian gila hah?" bentak Anjas lagi "Kakak tega selingkuhin kak Ana dengan Danis? dia pacar aku kak!"


Rasanya sesak, Anjas ngerasa sesak. kepalanya sangat pusing. semua anggota tubuhnya serasa lemas.


"Njas, ini salah kamu. kamu pikir Danis seneng tiap kali kamu tinggal keluar kota buat main bola? dia kesepian!" Randy coba jadi kompor "belum lagi dengan gaji kamu yang sering molor, bisa kamu bahagiain Danis dengan itu semua?"


Ucapan Randy serasa nusuk jantung Anjas, dia gak pernah mikir sejauh itu, karena selama ini Danis terlihat gak ada masalah sama karirnya.


"kamu pikir aku tega ngeliat Danis yang gak bisa dapat kebahagiaan dari kamu? udalah, kalau emang kamu gak sanggup bikin dia bahagia serahin ke kakak!"


"Mas Randy..." kata Danis coba mencegah ucapan pedes selanjutnya.


tanpa sadar ada air mata yang keluar di ujung mata Anjas. dia bener-bener muak dengan kenyataan ini. dua orang yang dia sayang ngehianatin dia bersamaan.


"Brengs*k...." umpat Anjas pelan sambil nutup matanya. hatinya begitu sakit. Perlahan dia muter badannya menghadap Danis.


"Dan... kamu bilang sama aku, ini semua gak bener kan? kamu gak selingkuh sama Kak Randy kan? Dan... please...." teriak Anjas sambil menggoyangkan bahu Danis.

__ADS_1


"Aku sayank samu kamu Dan, aku janji bakal ngelakuin apapun untuk kamu, jangan giniin aku yank, aku gak bisa tanpa kamu" kata Anjas melas. ada ketulusan di setiap ucapannya.


Danis hanya diam, dia sebenernya gak kuat ngeliat Anjas kayak gini, matanya ikut berkaca-kaca, tapi dia gak bisa ngomong apapun. Melihat Danis hanya diam, seakan membenarkan semuanya Anjas makin sakit.


"Dan...!!" bentak Anjas, "tega kalian" Anjas nunduk, wajahnya sangat berantakan.


tapi wajahnya seketika mendongak karena sekilas dia seperti melihat ada orang di belakang Danis. Anjas menatap orang itu dengan tajam.


Seorang cewek berhijab yang lagi nahan ketawa dengan Handphone ditangannya, dia sedang merekam. Sisil. dia agak sembunyi di balik pintu, Anjas baru sadar karena daritadi dia membelakangi cewek itu.


"Sialaaaaan!" kata Anjas sambil meluk Danis yang berdiri mematung di depannya. Seketika tawa kedua orang membahana disetiap sudut kamar. siapa lagi kalau bukan Randy dan Sisil.


"maaf" bisik Danis lembut, tapi dia juga ikut ketawa.


"cieee... si Anjas.. sampek mewek, hahaha" ledek Sisil dengan rekaman yang masih nyala.


"Matiin gak mbak kameranya!" kata Anjas kesel. sambil ngelepas pelukannya. Wajah Anjas begitu merah, bukan marah, tapi malu. dikerjain habis-habisan sama Sisil, Randy, juga Danis.


"enggak! bakal aku upload di medsos nih biar rame" kata Sisil lagi.


"Yaaaank..." rengek manja Anjas ke Danis.


"Love you Anjasku!" kata Danis pelan, dengan senyum mempesona. tapi dia sedikit mengejek juga.


"bucin!" kata Randy sambil dorong badan Anjas. Seketika dia noleh ke kakaknya itu.


"Berisik!" jawab Anjas sinis "tapi kalian gak beneran selingkuh kan?"


"Enak aja, baku hantam dulu sini sama aku!" tantang Anjas. dia narik Danis buat duduk di pinggir ranjang. "Rencana siapa ini yank?"


"rencana aku? pinter kan?" kata Sisil sambil nyengir.


"iya pinter bikin orang jantungan!" Anjas sinis. "kamu kog ikutan gila kayak mereka sih yank?"


"aku gak ngerti sumpah yank, baru tau tadi sebelum kamu datang"


"ini tuh rencana Sisil, dia sengaja nyuruh aku ngedeketin Danis, pengen liat aja sedalem apa cinta kalian" kata Randy jelasin.


"dan kalian lulus!" kata Sisil sambil ngasih jempol.


"Emang kita lagi ujian?" kata Anjas malas.


"iyalah, ujian kesetiaan" jawab Sisil santai.


"Aaaarggghh... udah emosi banget aku tadi. gilak. duh ngebayangin. amit-amit yank kamu selingkuh sama Kak Randy" kata Anjas sambil nyubit hidung Danis.


"Enggak lah, kalau mau selingkuh juga pikir-pikir dulu aku yank kalau sama mas Randy, nyari yang lebih keren lah, hehehe" kata Danis sambil ngelirik Randy.


"Dasar adik ipar lucknut!" umpat Randy, yang lain malah ketawa.

__ADS_1


"Anggap aja balasan karena udah ngerjain aku kemaren" kata Danis sambil nyubit lengan Anjas. cowok itu cuma manyun, dia emang sebenernya masih kesel.


'untung aku gak respon rayuan mas Randy, bisa mamp*s kalau aku tanggepin kemaren' batin Danis


Randy emang dari awal selalu ngerayu Danis, tapi entah kenapa dia seperti malas nanggepin Randy. walaupun Danis akui kalau Randy itu cowok ganteng, smart, mirip-mirip sama Anjas lah baiknya tapi dia tipe orang yang serius. Mungkin karena dia lebih banyak kerja di kantoran.


Selanjutnya dilanjut dengan obrolan unfaedah dari mereka yang lebih banyak nyudutin Anjas, Setelah itu Sisil pulang di antar Randy, sedangkan Anjas nganter Danis pulang.


"Yank..." panggil Anjas, dia masih asik mainin rambut Danis, sedangkan Danis malah lebih asik mainin ponselnya.


"hmmm..." Mereka berdua lagi duduk di ruang tamu Danis.


"kamu ngapain sih" kata Anjas sambil ngrebut ponsel Danis.


"aku lagi chat sama Raya yank. dia lagi curhat gitu"


"nanti deh dilanjut, aku lagi pengen ngomong serius sama kamu" rengek Anjas.


"Kenapa?" Danis duduk menghadap Anjas.


"aku jadi kepikiran sama omongan mas Randy, kampret emang tuh orang"


"omongan yang mana?"


"jujur sama aku, kamu keberatan sama profesi aku yang cuma pemain bola?"


Danis mengernyitkan dahi "enggak sayank, aku kan malah sering bilang ke kamu. aku tambah cinta saat ngeliat kamu main bola"


Anjas masih diam, ngeliat Danis intens. dia nunduk.


"jujur ya, emang aku rada sedih kalau harus kamu tinggal keluar kota, apalagi image pemain bola yang pacarnya dimana-mana. tapi balik lagi, aku tau impian kamu itu jadi pemain bola yank, dan aku pasti selalu dukung kamu. masalah kamu yang keluar kota anggap aja itu ujian buat kita" kata Danis panjang lebar.


"Maaf ya aku gak bisa nemenin kamu terus"


"iya, uda deh gak usah lebay gitu" kata Danis sambil nyubit lengan Anjas.


Anjas menghela nafas kasar "aku ngerti sih sebenernya maksud mas Randy ngomong tadi, dia pengen aku ngebantuin dia ngurus hotel"


Danis mulai menyimak, karena sekarang dia baru tau. kalau Prama hotel adalah milik keluarga Anjas, dengan banyaknya cabang hotel di beberapa kota di Indonesia, Kak Randy dan Papanya pengen Anjas terjun ngurusin hotel mereka.


Tapi mereka juga gak bisa maksa karena mereka tau Anjas lebih nyaman bermain bola. kadang dia juga ikut ngebantuin, tapi karena jadwal pertandingannya yang padat dia gak bisa bantu sepenuhnya, cuma sesekali.


"kamu yang lebih tau diri kamu yank, lebih nyaman ngelakuin yang mana. kalau dipaksa yang ada kamu malah gak fokus jadinya berantakan"


"Dulu aku udah janji sama Mama, Papa juga Mas Randy. aku bakal brenti main bola dan ikut ngelola hotel kalau impianku udah kewujud"


"emang apa impian kamu yang belum kewujud? masuk Timnas?"


"iya masuk Timnas, dan bawa indonesia ke Piala Dunia, hehehe" kata Anjas sambil ketawa.

__ADS_1


Danis ikutan ketawa, gak sulit bagi Anjas buat masuk Timnas, tapi buat ke piala dunia itu rasanya masih lama melihat sepakbola Indonesia saat ini yang emang masih belum solid.


***


__ADS_2