Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 104


__ADS_3

Cerita 104


Pernikahan Danis dan Anjas kurang sebulan lagi, dan itu membuat Danis dan Anjas makin


sibuk. Anjas memang lagi off tanding karena cedera, tapi dia lebih disibukan dengan terapinya. sekarang dia udah bisa jalan dan mulai latihan bola ringan tapi untuk kembali ke lapangan dokter belum ngizinin.


"Yank, kakek kenapa tiba-tiba nyuruh kita semua ngumpul?" tanya Anjas waktu jemput Danis di kantor.


"Gak tau yank, Mama gak bilang apa-apa. orang tua kamu udah di kasih tau?"


"Udah, mereka lagi perjalanan ke rumah kamu"


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, mereka sama-sama sibuk menebak maksud kakek Danis. Masalahnya terakhir kali kedua belah keluarga bertemu kakek Danis terlihat kurang setuju dengan pernikahan mereka. Entah karena apa.


Kakek Danis adalah orang jawa tulen, sampai sekarang beliau masih meneruskan tradisi kejawennya, menurut beliau pernikahan adalah hal yang sangat sakral dan semua harus diputuskan secara matang.


Saat Danis dan Anjas tiba dirumah Danis kedua belah pihak keluarga sedang berkumpul, mereka bercengkrama akrab, kadang terdengar tawa menggelegar dari kakek Danis.


Setelah cukup lama basa-basi, kakek Danis mulai membahas tentang pernikahan Danis dan Anjas.


"Apaa????!!!" teriak semua keluarga hampir barengan.


Kakek Danis hanya manggut-manggut. "hanya itu caranya, kalau kalian gak setuju mending pernikahannya dibatalin aja"


"Gak bisa gitu dong kek, semuanya udah disiapin" protes Danis, dia mulai berkaca-kaca.


Anjas hanya diam, sambil megang tangan Danis. Sedang para orang tua juga diam, mereka masih bingung harus gimana.

__ADS_1


"Tanggal yang kalian pilih itu kurang baik buat pernikahan Danis dan Anjas" terang kakek Danis.


"Semua hari itu baik Kek" kata Papa Danis.


"Iya memang, tapi hari pernikahan yang ditentukan dengan matang itu akan membawa kebaikan buat masa depan rumah tangga mereka." kakek Danis masih ngotot.


"kalian ini para orang tua pasti paham masalah kayak gini, terserah kalian percaya atau tidak, coba kalian pikir, bisa jadi cederanya Anjas itu juga pertanda yang berhubungan dengan tanggal pernikahan kalian" tambah kakek Danis. Sambil ngelirik Anjas.


"Kek, jangan kayak gitu, itu semua kecelakaan, kalau kakek ngomong kayak gini jatuhnya ada unsur syirik juga kek dalam segi agama" Danis kembali protes.


Bagi kaum milenial seperti Danis, memilih hari pernikahan yang baik menurut adat jawa memang sama sekali tidak terpikirkan. baginya semua hari itu baik.


"kamu meragukan agama kakek Nis?"


"gak gitu maksut Danis kek, cuma..." Danis kehabisan kata-kata, dia hanya mulai menitikan air mata.


Danis nangis dipelukan mamanya, dia gak bisa bayangin kalau pernikahannya terancam batal hanya karena masalah hari. walaupun dilubuk hati Danis juga sedikit memahami maksut kakeknya.


"Apa salahnya kalian hanya merubah hari!" suara kakek mulai meninggi.


Kedua orang tua Danis dan Anjas sebenarnya juga sangat paham maksut kakek Danis, bagaimanapun juga mereka semua orang jawa tulen, dan mereka juga dibesarkan dengan banyak aturan jawa, lepas dari itu apakah sebuah mitos atau fakta. walaupun semakin kesini tradisi itu mulai memudar. Kesalahan mereka tidak membicarakan hal ini dari awal dengan Kakek Danis yang tentu lebih paham.


Setelah perdebatan yang cukup alot, akhirnya mereka semua tidak bisa membantah keinginan kakek Danis. Sebagian rencana mereka dirubah. hari Akad nikah mengikuti saran kakek Danis, sedangkan untuk Resepsi sesuai rencana awal, tapi kakek Danis lebih setuju kalau nama resepsi diganti dengan tasyakuran.


***


Semakin hari kaki Anjas mulai pulih, dia sudah mulai gabung latihan tim, walaupun dia lebih banyak duduk di kursi cadangan. karena sekarang udah masuk babak Semi Final, dan tentu tim Anjas lolos.

__ADS_1


Danis adalah orang pertama yang akan protes dengan kebiasaan latihan bola Anjas, calon suaminya itu seakan lupa kalau dia baru sembuh. tiap hari Anjas selalu latihan dan latihan, walaupun dia juga gak pernah lupa bantuin Danis nyiapin pernikahannya.


"Kamu tuh nurut kenapa sih Yank, aku kan bilang tenaga kamu jangan di forsir. kamu mau nanti pas Hari H kaki kamu cedera lagi?" kesal Danis.


"Ngomongnya jangan gitu dong yank, doa itu harus yang baik-baik" bela Anjas.


"Kamu paham gak sih kalau aku lagi khawatirin kamu!" bentak Danis


Anjas menelan ludah kasar, belakangan ini mood Danis berubah-rubah dan lebih banyak emosi.


"Iya yank, maaf. aku tau kog batasan aku, aku kayak gini juga buat ngelatih kaki aku yank" Anjas masih kekeh sama pendiriannya.


"Kalau kamu terus kayak gini, aku mau kamu berenti aja main bolanya!" Danis kesal.


"Apaan sih yank, kamu bilang mau dukung mimpi aku" Anjas mulai kepancing emosi.


"apa gunanya mimpi kamu, kalau kamunya cedera!" kata-kata Danis mulai gak dikontrol.


"Danis!" bentak Anjas "Aku gak suka kamu ngomong kayak gitu!"


"biarin, biar kamu sadar!"


Begitulah mereka hampir 2minggu ini, masalah sepele selalu ngebuat mereka tengkar. mungkin benar kata orang, saat menjelang pernikahan bakalan ada banyak masalah, salah satunya pertengkaran mereka yang gak kunjung Selesai.


***


__ADS_1



__ADS_2