
Cerita 90
Nanti malam Anjas tanding bola, tapi Danis gak bisa datang jadi suporter langsung ke stadion. Sebenarnya bukan karena dia ada lembur kantor, tapi dia pengen nyelesain masalah.
"aku udah bilang sama kamu jangan gangguin aku, kalau kamu emang sayank sama aku harusnya kamu hormatin keputusan aku!" kata Danis tegas.
Saat ini Danis sedang duduk berdua bareng Arka disalah satu sudut cafe.
"aku tau kamu kepaksa kan pacaran sama dia." Arka ngeraih tangan Danis, "Maafin aku Nis, aku janji bakal secepetnya nyelesain masalah aku" Arka nyium tangan Danis lembut
"lepasin Ka!" kata Danis sambil nglepas pegangan tangan Arka.
Arka keliatan frustasi, dia ngacak-acak rambutnya, hampir setengah jam dia debat dengan Danis.
"oke, kamu bisa pacaran sama cowok itu, tapi kasih aku kesempatan buat buktiin perasaan kita"
Danis mengernyitkan dahinya. dia gak habis pikir dengan cowok didepannya ini.
"kita jalan dibelakang cowok kamu"
Danis tersentak, matanya membesar. "maksut kamu?"
"jadikan aku selingkuhan kamu" kata Arka tegas, dia menatap mata Danis lekat.
"kamu gila Ka! aku gak bakal hianatin Anjas!" kata Danis sambil beranjak dari kursinya.
Arka ikutan berdiri, dia nahan tangan Danis, dan narik tubuh Danis kedalam pelukannya.
"aku bakal bawa kamu balik sama aku Nis. aku bakal bahagiain kamu"
"tapi aku gak pernah bahagia sama kamu!"
ucapan Danis seperti tamparan buat Arka, perlahan dia melepas pelukannya, dan menatap Danis.
"Pergi dari hidupku Ka!" kata Danis sambil berlalu pergi.
tanpa mereka sadari banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. sore itu suasana cafe emang cukup ramai, dan pertujunkan Danis dan Arka tadi berhasil nyedot perhatian seisi cafe.
***
Danis sampe rumah ketika pertandingan Anjas udah mulai 30menit. Dia ikut gabung nonton bareng Mama dan Papanya, sedang Dimas dia pergi nonton langsung ke stadion bareng Niken, Nino dan Raya. Mereka dapat tiket VIP dari Anjas.
Kalau gak milih nyelesain urusan kantor juga ketemu sama Arka dia pasti sekarang juga ikut jejingkrakan di stadion.
"Mbak, si Anjas ada masalah?"
"maksutnya Pa?"
"daritadi dia berantakan mainnya, kepancing emosi terus. biasanya kalau pemain ada masalah suka ikut kebawa ke lapangan"
"tadi sore dia masih cekakaan sih Pa sama Danis di telphon" Danis diem sebentar " tapi gak tau lagi"
__ADS_1
Danis inget kalau dia emang lagi gak ada masalah, malah tadi di telphon Anjas masih sempet manja-manjaan sama dia.
'apa gegara tunangan itu ya?' batin Danis.
Sepanjang pertandingan kedua kesebelasan terus saling rebut bola, tak jarang juga mereka kepancing emosi. lawan main Anjas kali ini bisa dibilang emang musuh bebuyutan dan cukup tangguh. Persik Kediri. meskipun sekarang kedudukan tim Arema masih unggul.
di menit ke 60 Anjas terlibat adu mulut dengan pemain Persik, Anjas tidak terima karena pemain Persik menendang salah satu punggawa Arema dengan keras dan fatal.
Anjas yang biasanya bisa nenangin timnya karena dia kapten hari ini entah kenapa dia tidak bisa nahan emosi, dan malah emosinya makin memuncak.
Priiit...
kartu Merah...
Wasit memberikan kartu merah untuk Anjas, dia masih keliatan gak terima sampai akhirnya dia ditarik oleh rekan-rekan setimnya. Anjas keliatan kacau, Danis sampe berkaca-kaca ngeliat lelakinya.
"Anjas..." gumam Danis
"wah gak bakal bisa tanding lawan Persebaya sama Persib kalau gini"
"maksutnya Pa?"
"dia kena kartu merah, jadi gak bisa ikut tanding antara 2 sampe 3 laga"
Mata Danis membulat, pacarnya gak bisa ikut derbi panas lawan dua klub itu, Danis yakin Anjas sekarang lagi dalam keadaan gak baik-baik saja. dada Danis sesak.
"kamu kenapa Sayank?" gumam Danis lirih.
--TengilkuSayank--
Yank...
are you ok?
langsung kabari aku ya...
tahan emosi yank,
chat yang dikirim Danis masih belum dibaca Anjas, ponselnya juga masih mati. Danis makin gak tenang.
***
Keesokan harinya Anjas juga masih belum bisa dihubungi, hapenya masih mati. bahkan Nino, Raya, mbak Sisil,Mas Fadhil juga Dimas gak tau dimana Anjas sekarang.
kata Nino semalem Anjas ngehindari semua orang, saat didatangi di asrama dan dirumah Araya juga gak ada. Nino juga udah ngehubungi kenalannya yang satu klub sama Anjas, tapi dia cuma bilang Anjas lagi belum bisa ditemui.
"kamu tenang aja Nis, mungkin Anjas lagi ditatar sama manajemen juga pelatihnya. dia kan kapten, sikapnya kemaren emang bikin semua orang kaget" Nino coba nenangin Danis.
Sore ini Raya dan Nino jemput Danis di kantornya. mereka milih nunggu kabar dari Anjas di cafe ruang baca.
"kamu tau Anjas kan No, dia gak pernah kayak gini, setidaknya dia pasti ngehubungin kamu!" Danis dengan segala kekhawatirannya.
__ADS_1
"udah tenang aja, nanti kalau dia udah enakan pasti nongol, palingan dia sekarang lagi malu aja, kapten kena kartu merah" Nino santai, sedikit ngeledek.
"mana punya urat malu si Anjas, malu maluin iya" Raya ikutan ngeledek.
***
--Flashback on--
Sebelum tanding bola
Anjas duduk sendirian di ruang ganti Sambil ngeliat foto Danis, dia senyum, begitu besar cinta Anjas buat cewek ini.
"Love you Dan..." gumam Anjas dengan masih ngusap foto Danis.
drrrtt... drrrtt...
Yana, temen SMA Anjas nelphon, Anjas mengernyitkan dahinya, panggilan pertama di abaikan, panggilan kedua baru di angkat.
"Hallo Njas, aku Yana"
"iya kenapa Yan, aku lagi mau tanding soalnya"
"sory-sory... aku cuma mau nanya, kamu masih pacaran sama Danis kan?"
"iya"
"owh..." Yana diam "aku gak ngerti ini baik atau enggak buat kamu, tapi kayaknya kamu harus liat. aku kirim video ke kamu. udah ya"
Panggilan di akhiri. Anjas masih diam nunggu kiriman dari Yana. Matanya membulat saat dia ngeliat gadis yang amat dia cintai sedang duduk berdua dengan Arka. tangan mereka bersentuhan dalam video tersebut, bahkan Arka nyium tangan Danis.
video yang di ambil Yana cukup jauh dari tempat Danis, dia gak tau apa yang mereka omongin. Danis keliatan marah disitu. dia ngeliat Danis udah mulai berdiri. Rahang Anjas makin mengeras, tangannya juga mengepal saat dia ngeliat wanitanya di peluk Arka.
Meskipun pelukannya cuma bentar dan setelah itu Danis pergi ninggalin Arka, itu cukup ngebuat emosi Anjas tersulut. sepanjang pertandingan dia selalu dibayangi adegan itu.
Sampai akhirnya emosi itu tak dapat dibendung ketika teman setimnya di tendang cukup keras dan fatal oleh lawannya. Anjas menggila disana, dan kartu merah dia kantongi. dengan di seret teman-temannya dia pergi ke pinggir lapangan.
--Flashback off--
***
Setelah di anter Nino dan Raya kerumah, entah kenapa hati Danis sesak, pikirannya dipenuhi dengan Anjas. khawatir. sampai malam Anjas gak nongol di cafe. hapenya masih mati.
"Sayank kamu dimana?" gumam Danis sambil ngeliat gerimis dari balkon atas rumahnya.
Samar-samar Danis ngeliat ada bayangan cowok di bawah, menatap Danis.kedua mata mereka bertemu, gadis itu memperjelas pandangannya.
"Ya Allah..." gumam Danis.
***
__ADS_1