Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 43


__ADS_3

Cerita 43


Danis masih terus mengekori Anjas, dia tidak tau mau dibawa kemana, karena memang dia sendiri tidak mengenal jalanan jogja. tapi seperti biasa, Danis percaya dengan cowok di depannya. Setidaknya dia mengenal cowok itu.


Danis memicingkan matanya melihat sekilas bangunan yang menjulang tinggi di depannya. seperti sebuah hotel, tapi mereka bukan lewat pintu utama, lebih tepatnya pintu belakang.karena Danis juga tidak bisa membaca nama hotel tersebut. Danis mundur selangkah, mulai menarik kata-kata percaya pada orang di depannya.


"Buruan" kata Anjas sambil menarik tangan Danis. mereka naik lift, di lantai 7 (paling atas) mereka berjalan beriringan sampai Anjas membuka sebuah pintu. Angin semilir menerpa wajah Danis. mereka ada di lantai paling atas, dan ini seperti atap hotel yang sudah di sulap menjadi tempat tongkrongan. ada beberapa kursi dan meja disana yang sudah di huni oleh beberapa orang. juga ada kolam renang yang tidak terlalu besar tapi cukup indah dengan semua pemandangannya, ada juga bar kecil di pojok ruangan. dan tentunya ada live musik disana. suasana yang indah, romantis dan anak muda banget.


Anjas terus berjalan sampai mereka berhenti di depan pintu, tak berapa lama ada staff hotel yang membuka pintu itu.


"Masuk" perintah Anjas singkat pada Danis, Anjas masih terlihat bicara dengan staff itu, tak berapa lama Anjas menyusul Danis ke dalam. dan disini Danis masih terlihat bengong. ini seperti ruang pribadi walaupun dekorasi tidak berbeda dengan di luar, hanya di pisah oleh dinding. ada kursi sofa panjang nempel ke dinding dengan meja kotak, juga ada tempat lesehan berbentuk meja besar tapi cukup rendah di tengah ruangan.


"kalo mau nangis disini aja. biar gak malu-maluin kayak tadi. untung aku tadi tanggap dan cepet meluk kamu" kata Anjas membuyarkan lamunan Danis.


"itu mah kamu aja kesempatan." protes Danis, Anjas hanya senyum tipis. Danis milih jalan mendekati pinggir ruangan, disini dia bisa melihat suasana jogja dari atas. banyak lampu-lampu. dia jadi inget waktu Arka ngajak ke paralayang. pemandangannya hampir sama.


"ini salah satu tempat favoritku buat kabur" kata Anjas sambil tiduran di meja besar. kini dia menghadap langit luas.


"kamu jauh juga ya kaburnya?" celetuk Danis yang masih diam di posisinya.


"maksutnya kalau lagi dijogja"

__ADS_1


"kamu sering ke jogja?"


"lumayan" jawab Anjas singkat.


Beberapa menit keduanya masih sama-sama diam, hanyut dengan pikiran masing-masing. yang terdengar hanya suara live musik dari ruangan sebelah. Anjas duduk, dia melihat Danis yang mulai mengeluarkan air mata lagi. Anjas menghela nafas panjang.


"Puas-puasin nangisnya, setelah ini jangan tangisin lagi cowok brengsek kayak gitu".


Dengan cepat Danis menoleh ke arah Anjas, meskipun masih menangis Anjas tau Danis gak suka dengan omongan Anjas.


" maaf, bukannya ikut campur. aku cuma gak suka aja sama cowok yang nyakitin cewek"


"iya iya... aku cuma gak suka aja sama gayanya, sok sokan nglarang aku deket kamu, tapi dianya seenaknya sendiri sama cewek lain"


"maksutnya siapa yang nglarang kamu?" tanya Danis yang mulai duduk di samping Anjas. kemudian dia menceritakan kejadian di Mall saat Arka negur Anjas. mendengar itu Danis ketawa.


"waduh... mulai gak waras nih cewek" gumam Anjas.


"enak aja. cantik gini di bilang gak waras" protes Danis sambil ninju lengan Anjas.


"la kamu, tadi nangis, bengong, bentak-bentak aku, sekarang malah ngakak" Anjas memundurkan badannya.

__ADS_1


"Nggak nyangka aja kalau Arka sampe segitunya."


"ya wajarlah, dia kan cowok kamu, pasti dia salah paham." kata Anjas sambil tiduran.


"tapi maaf ya... tadi aku sempet nonjok wajah jelek cowok kamu itu"


"haaaahh???" kini Danis melongo. "kog bisa?"


"ya habisnya... mendadak gak trima aja aku sama egoisnya dia"


"waaah... kamu ngrusak permainan cantiku Njas" kata Danis sambil mukul tangan Anjas.


"bodo amat. lumayan udah lama gak mukul orang" kata Anjas sambil ketawa.


Mendengar omongan Anjas, Danis mulai memikirkan apa yang akan dia hadapi di depannya. dia gak nyalahin Anjas karena dia gak tau apa-apa dan cuma kesel aja ngeliat Arka sama cewek lain. pikiran Danis bener-bener gelap, dia gak tau harus gimana.


Anjas menarik tangan Danis untuk ikutan tidur disebelahnya "udah gak usah dipikirin, nikmatin aja liburan kamu. jauh-jauh kesini juga"


Danis menghela nafas panjang, sekali lagi Anjas memang benar, dia berniat ke joga untuk jalan-jalan dan sedikit lupain Arka. dan mungkin memang dia bener-bener harus lupain Arka, dan menguburnya dalam-dalam. Hati Danis mulai sedikit tenang. dia tiduran di sebalah Anjas, menatap langit malam yang lagi bercanda dengan bintang dan bulan.


***

__ADS_1


__ADS_2