Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 52


__ADS_3

Cerita 52


"Kalau itu yang kamu mau, Aku janji gak bakal gangguin kamu. tapi aku minta sama kamu, jangan nyuruh aku buat cinta ato bahagia sama Mega. aku gak mau" kata Arka pelan saat Mereka uda sama-sama sandaran di kursi mobil.


Danis masih setia di dalam mobil Arka, walaupun daritadi mereka tidak beranjak dari depan kantor Danis. Setelah nangis di dada Arka, kini Danis udah terlihat lebih santai. Walaupun pikirannya bener-bener kacau. hatinya terus berontak.


"Itu terserah kamu Ka, Setelah aku pergi dari hidup kamu, aku gak bakal kepo sama hati kamu" kata Danis tajam.


Arka menghela nafas panjang, "boleh aku terus cinta sama kamu?"


"Kenapa juga kamu harus nyimpan cinta yang malah bikin kamu sakit"


"Karena cuma itu satu-satunya yang bikin aku buat betah hidup Nis"


"Kamu pinter banget ya bikin aku baper terus. gak usah lebay deh... nanti juga kamu bakal lupa sama aku, apalagi kalau kamu udah nikah, uda punya anak." kata Danis agak maksa.


Arka menggeleng "tapi itu jujur Nis... kamu yang udah bikin aku bertahan sampe sekarang. cuma kamu" kata Arka sambil ngeliat Danis


Danis ketawa maksa " Makasih lo ya paaak".

__ADS_1


"Kamu beneran mau ninggalin aku Nis?"


"Iya Arkaaaaa... daritadi nanya mulu ah, jangan ngrayu aku lagi. kamu pengen aku emosi? pengen waktu kita yang singkat berduaan kayak gini dihabisin buat tengkar lagi?" kata Danis sambil nyubit hidung Arka.


Arka tersenyum tipis "Maaf ya Nis..."


"Udaaaah... ini yang terbaik buat kita. kita balik kayak dulu, kamu sama hidup kamu, aku sama hidup aku. Cerita kita udah harus ditamatin."


"Nis....."


"Udah Ka... Aku masih sayank sama aku, kalau kamu ngomong terus aku pasti nangis lagi. udah ya..."


"Aku Sayank kamu Nis, maaf karena aku terlalu pengecut. Maaf udah banyak nyakitin kamu."


Keduanya kembali larut ke dalam diam. Arka makin mengeratkan pelukannya, seakan tidak mau kehilangan cintanya. Danis juga membalas pelukan Arka, dia ingin menutup bukunya dengan manis, buku tentang dia dan Arka.


Perlahan keduanya mulai merenggangkan pelukannya, mereka saling menatap, pipi Arka masih basah, sedangkan Danis berhasil menahan air matanya agar tidak keluar.


"Kamu tuh jelek tau kalau nangis" kata Danis sambil ngusap pipi Arka.

__ADS_1


"Kan wajah jelekku ini yang bikin kamu cinta" kata Arka sambil nahan tangan Danis. keduanya saling pandang.


Arka dengan lembut mencium pucuk kepala Danis. dia mengusap rambut Danis pelan. memandangi wajah cantik Danis, betapa bodohnya dia udah nyakitin ciptaan tuhan yang indah ini.


"Aku emang gak pantes buat kamu Nis, kamu harus nemuin orang yang bener-bener bikin kamu bahagia. kamu harus bahagia, harus!"


Danis memalingkan wajahnya, dia tidak mau Arka melihat kesedihannya lagi, dia gak mau Arka ngelakuin hal bodoh dengan milih Danis dan mutusin Mega. Meskipun sejujurnya itu yang diinginkan Danis.


Danis memang terlalu bodoh, dia menyukai pacar orang, bahkan dia masuk menjadi pelakor di hubungan itu. tapi dia tidak punya nyali untuk ngrebut Arka sepenuhnya, dia gak bisa bayangin gimana sakitnya Mega kalau Arka sampai beneran mutusin dia, apalagi Arka udah ngrebut mahkota Mega. ditambah sekarang Arka udah tunangan, pasti kedua keluarga mereka juga bakal ikutan sakit. Danis tidak seegois itu untuk bisa bahagia.


Arka... dia memang sangat mencintai Danis, bahkan mungkin Danis cinta pertama dan terakhirnya. Dia mulai merasakan itu saat SMA, tapi Arka dulu sangat pengecut untuk jujur ke Danis. dan sekarang dia sadar setelah semua kesalahan yang dia lakuin dengan Mega, dia gak pantas buat Danis. Danis selama ini gak bahagia sama dia, walaupun dia yakin kalau Danis juga mencintainya. Dia sering nyakitin Danis, memaksa disamping Danis hanya akan membuat gadisnya menangis terus-terusan. Danis pantas mendapatkan orang yang lebih baik, lebih segala-galanya dari Arka. walaupun resikonya dia yang bakal sakit.


"Udah ah sedihnya... makan yok, aku laper" pinta Danis, saat dia yakin kalau Arka juga udah mulai tenang.


"Siap tuan putri... makan di lalapan mas jo?"ajak Arka.


" Boleh"


Arka mulai menjalankan mobilnya, sepanjang perjalanan mereka masih terus ngobrol, walaupun obrolan mereka terkesan dipaksakan. keduanya sama-sama tahu moment seperti ini mungkin tidak akan terulang lagi.

__ADS_1


***


__ADS_2