
Cerita 68
Hari ini mood Danis bener-bener bagus, dan itu bikin kerjaannya cepet selesai. Dia janji mau makan siang sama Anjas, setelah nonton pertandingan Anjas semalem, Danis dan lainnya langsung balik dan gak ketemu Anjas, karena dia langsung balik ke asrama bareng timnya.
"maaf lama" kata Danis sedikit berlari datengin Anjas yang masih nangkring di atas motornya.
"enggak kog, baru dateng juga" jawab Anjas sambil makein helm dikepala Danis, gak lupa dia rapiin rambut yang nutupin wajah cantik Danis.
"mau makan dimana?" tanya Danis saat dia udah naik di boncengan.
"hari ini makan di ruang baca aja ya, mepet kan waktunya" usul Anjas. dan mereka berdua boncengan ke cafe yang jaraknya gak terlalu jauh.
Setelah pesen makan, mereka berdua milih nunggu di ruangan Anjas.
"agak berantakan, belum sempet bersihin."kata Anjas sambil rebahan di ranjang. ruangan Anjas emang gak bersekat. antara ranjang, dapur, ruang tamu plus ruang tv semua los jadi satu, hanya kamar mandi yang dipisah.
" kamu capek banget keliatanya. tau gitu kan gak usah jemput aku dulu tadi" kata Danis yang ngerasa bersalah.
"kan yang bisa ngilangin capek aku cuma kamu"
Danis mencibir " maksutnya suruh mijitin?"
"kalau kamu ikhlas sih monggo" kata Anjas sambil tengkurap, bersiap untuk di pijit.
"aku gak bisa, panggil tukang urut gih" kata Danis mendekat, dan duduk di pinggir ranjang.
"alesan, bilang aja gak mau" Anjas manyun, Danis malah ketawa.
"semalem kamu keren" kata Danis sambil senyum dan nunjukin dua jempol tangannya.
"masa? tapi cuma 2 gol, gimana dong?" pancing Anjas yang udah duduk disebelah Danis.
"yaudah, brarti cuma 2 hari" jawab Danis enteng.
"kan kita mau liburan bareng-bareng, aku udah nyiapin semuanya lo" kata Anjas kesel.
"pokoknya, kita jalan berdua cuma 2 hari. titik!" kata Danis tegas.
"kamu serius?" tanya Anjas dengan wajah dibuat memelas "yauda deh, aku liburan sendiri sama anak-anak"
"lah kog gitu. liburannya batal dong"
"enak aja... liburan mah lanjut. situ gak mau ikut? yaudah bye" kata Anjas sambil berdiri ninggalin Danis yang masih bengong.
__ADS_1
"kog aku berasa dicampakan ya?" kata Danis sambil melipat tangan di depan dada, matanya melirik Anjas.
Anjas berbalik menatap Danis, dan lutut di depannya, dia senyum "ikutan yuk, kita seneng-seneng bareng, mana seru kalau gak ada kamu, ikut ya ya ya???"
"kamu maksa aku?" tanya Danis
"iya aku maksa kamu" jawab Anjas dengan wajah serius.
"dih... orang gak mau di paksa, ya mau" kata Danis lirih. Anjas senyum, dia berdiri dan ngacak rambut Danis pelan.
"kencan 2 hari dan liburan kemudian, oke lanjut" kata Anjas dengan senyum mengembang.
"maksutnya?" Danis melotot
"kencannya kan bonus gol kemaren, liburannya beda lagi dong"
"wah penjebakan ini namanya" kata Danis berkacak pinggang. walaupun dalam hati dia senyum juga.
Setelah makanan datang, mereka berdua makan sambil terus bercanda. karena jam makan siang hampir habis Anjas langsung nganter Danis balik ke kantornya.
"cieeeee... udah sah nih kalian?" tanya Ricko yang juga baru balik kantor sama Mita, Danis yang lagi ngeliat Anjas pergi sama motornya malah nabok lengan Ricko.
"kepo banget sama rumah tangga orang" kata Danis jutek.
"kode tuh yank, bawa nama rumah tangga segala, hehehe" Mita ikut godain.
"dia belum move on dari pesona seorang Danis" jawab Danis ngasal sambil ketawa.
"emang kamu sendiri udah move on?" sindir Mita, mendadak Danis gugup, tanpa menjawab dia langsung berjalan cepat ninggalin Mita dan Ricko.
'sial banget sih Mita, kan jadi kepikiran sekarang' batin Danis, sambil mijat pangkal hidungnya.
***
"Nis, sebenernya kamu sama Anjas gimana sih?" tanya mbak Sisil.
Keduanya kini berada di ruang baca, tepatnya di ruangannya Anjas. Pulang kantor Danis milih nemuin Sisil disini, sambil nunggu Anjas yang masih ada urusan di klub bolanya.
"gak tau mbak, bingung juga akunya"
"kamu masih kepikiran Arka?"
"iya sih mbak dikit, gimana pun juga Arka kadang masih ngalihin pikiran aku." kata Danis sambil nunduk "maaf ya mbak, aku cuma takut aja"
__ADS_1
"takut apaan?"
"aku belum bisa ngartiin perasaan aku, aku masih sering kepikiran Arka kadang juga masih ngarep balik sama Arka, tapi disisi lain aku seneng deket Anjas. mbak paham lah gimana Anjas, deket sama dia tuh bawa banyak banget kejutan"
"kamu egois dong kalau kayak gitu" tuduh Sisil, saat ini emang Sisil berusaha di pihak netral, tapi tetep aja dia kadang sebel sama sikap Danis.
"maaf ya Nis, tapi kalau kayak gini, kamu kayak mainin perasaan Anjas, mungkin dia sekarang baik-baik saja. Dibalik baik-baik ajanya dia, pasti nanti bakal jadi masalah kalau kamu gak cepet ambil keputusan". tutur Sisil yang kini terlihat bijaksana.
Sisil sedikit mengerti cerita tentang Anjas, Danis, dan Arka. Sisil selama ini tidak pernah menyalahkan Danis, toh kalau dia diposisi itu juga pasti bakal bingung. tapi saat ini dia ngerasa harus nekan Danis supaya milih.
" ini bakal jadi bom waktu Nis" tambah Sisil. Danis diam.
Selama ini Danis memang serasa di zona nyaman, dia merasa takut untuk beranjak. dia membutuhkan Anjas, tapi dia juga ingin Arka.
"aku tuh gak ngerti mbak, Anjas itu kayak nyembunyiin sesuatu gitu, dan aku takut, kalau aku ngasih hatiku sama dia eh dia malah cuma mainin aku. mbak tau kan dia selalu dikelilingi cewek, apalagi dia sekarang makin terkenal aja, belum lagi beberapa minggu lalu dia digosipin sama artis. makin ragukan akunya. sedang kalau Arka, aku ngerasa udah paham banget gimana dia" jelas Danis panjang lebar.
"brarti kamu belum ngenal Anjas. coba deh kamu ngobrol, nanya tentang dia. aku yakin sih selama ini kalian lebih banyak ngobrol yang gak berfaedah"
"menurut mbak Anjas gimana sih?" tanya Danis antusias.
"nanyanya jangan ke aku lah, aku mah bakal jelek-jelekin dia, hahaha" kata Sisil sambil ketawa.
Danis ikutan senyum.
"dasar sepupu penghianat" ejek Danis.
"yang jelas Anjas sekarang juga lagi berusaha sih menurut aku" kata Sisil sambil menerawang jauh.
"iya, aku tau" kata Danis sambil menghela nafas.
"emang kamu sama Arka sekarang gimana?"
"dia masih kekeh mau batalin nikahan, dia juga masih chat kayak biasa, trakir ketemu dia waktu aku ulang tahun, cuma bentar sih waktu makan siang" kata Danis sambil bayangin Arka.
"itu juga yang mengaruhin hati kamu. saran aku sih, kamu buruan ngambil keputusan. Anjas atau Arka. kalau kamu masih bingung sama pikiran kamu, mungkin kamu malah bakal kehilangan keduanya"
"gitu ya mbak?"
"iyalah... kamu milih salah satu, dan kalau kamu udah milih, kamu harus fokus cuma sama dia, jauhin yang lain, buang semua pikiran kamu tentang orang itu. kamu harus tegas sama diri kamu sendiri. dan itu harus adil entah kamu milih Anjas atau Arka."
"riweh banget sih mbak hidup aku, lama jomblo sekalinya ada yang serius malah harus milih kayak gini"
"derita loooh" kata Sisil sambil nglempar bantal kursi ke Danis.
__ADS_1
Sisil memang benar, Danis harus dibikin cepat milih biar gak kebablasen. keduanya kembali ngobrol sampai Fadhil datang jemput Sisil, tak berapa lama Anjas juga datang dengan bawa makanan.
***