
Cerita 74
"iya deh iya, gak cemburu. tapi sayang kan?" goda Anjas yang duduk di sebelah Danis.
"enggak"
"terserah deh, suka-suka kamu" kata Anjas. " tapi Maaf ya udah bikin kamu sedih"
"Njas... jadi beneran semua ini? kamu gak lagi mainin perasaan aku?"
"beneran Dan, aku serius. aku beneran sayang sama kamu. kamu udah berhasil bikin aku ngebucin" terang Anjas sambil senyum senyum gak jelas.
"sekarang kamu mau nembak aku?" tanya Danis
"enggak!" jawab Anjas tegas.
"kog gitu? tuh kan, berarti kamu gak serius" protes Danis.
"pengen banget di tembak?udah siap? aku gak nerima penolakan lo!" kata Anjas sambil noel-noel lengan Danis.
"haiish... apaan sih!" Danis salting.
"lagian berasa gak sih kalau akhir-akhir ini kita udah kayak orang pacaran? cuma gak ada status aja. temen berasa pacar, hehehe"
"hobi kamu itu mah, PHPin cewek. jadi kamu punya temen yang berasa pacar berapa??" Danis berkata sambil menatap Anjas tajam.
"cuma kamu doang jutek. gak percayaan amat sih!" kata Anjas sambil ngacak rambut Danis lagi. "tunggu bentar" Anjas beranjak ke dekat ranjang, dia mengambil sesuatu yang dia letakin di atas meja.
"aku belum nembak kamu, sementara aku kasih ini dulu" kata Anjas sambil ngasih sesuatu.
"bunga edelweis?" tanya Danis sambil nerima sebuket bunga abadi itu.
"Waktu dapat bunga itu aku janji sama diriku sendiri, aku bakal ngasih bunga abadi ini ke cewek spesial. cewek yang gak hanya aku suka, tapi juga yang aku cinta. Dan sekarang aku uda nemuin cewek itu"
"Kalau aku nolak kamu apa bunganya harus aku kembaliin?" tanya Danis sambil megang bunga itu.
"gak perlu, meskipun kamu nolak aku, bunga itu tetep buat kamu. kan cintaku abadi buat kamu, kayak bunga ini"
__ADS_1
"misal nih ya, aku nolak kamu kan, dan bunganya tetep kamu kasih ke aku. terus kalau suatu saat kamu jatuh cinta sama cewek lain gimana, harusnya kan kamu kasih ke cewek itu, atau bahkan ke istri kamu" Danis penasaran.
"ya gampang, ntar tinggal aku ambil bunga edelweis yang baru, ribet amat." kata Anjas santai, meskipun ada sedikit sesak saat Danis bilang seperti itu.
"Ngawur..." Danis mukul lengan Anjas. "ini tuh bunga langka, gak boleh sembarangan ambil. bukannya bakalan dihukum kalau ketahuan ngambil??"
"aku gak metik sendiri. orang bunga itu dijual kog di Bromo. udah dijadiin kayak souvenir gitu disana. dijual bebas, gak percaya? dateng aja kesono"
"masa sih? pelanggaran tuh yang jual!" kata Danis kesel. "kamu harus janji sama aku, gak bakal beli bunga edelweis lagi"
"tergantung, aku kamu terima apa kamu tolak. kalau di tolak ya bakal beli lagi aku" kata Anjas santai.
"dasar Playboy Tengil. yauda deh nih aku kembaliin aja" Danis manyun, Anjas ketawa.
"becanda, aku cuma beli bunga itu sekali, dan itu cuma buat kamu. janji gak bakal beli lagi" kata Anjas sambil mainin sebelah tangan Danis.
"terus nanti istrimu gimana? kasian dong"
"istriku ntar bakal aku kasih bunga bank, lebih menggoda" kata Anjas sambih tertawa lagi, tapi tawanya terlihat ketir, ada sesuatu yang mengganjal.
"bener-bener." kata Danis sambil ngangguk-ngangguk dan senyum "Makasih ya" Anjas tersenyum lagi.
"emang boleh aku ikut latihan?"
"boleh, banyak kog yang nonton, bentar doang, cuma latihan ringan kog" kata Anjas sambil berdiri "aku siap-siap dulu"
'kenapa sampek sekarang aku ngerasa kalau Danis masih sayang sama Arka? dan kayaknya kapanpun aku nembak juga bakal ditolak ' batin Anjas
***
Danis duduk sendirian di salah satu tribun stadion, melihat Anjas yang berlarian mengejar bola bersama timnya. melihat itu Danis seperti tersihir, Anjas keliatan lebih ganteng meskipun berkeringat. Danis suka cowok main bola terlihat seksi, dan dia gak nyangka , pemain bola terkenal itu sekarang lagi dekat dengan dia.
Sesekali mata mereka berdua bertemu, Anjas tersenyum, Danis juga. begitu seterusnya sampai latihan usai. setelah sedikit ngobrol bersama semua timnya, Anjas mendekati Danis, dia milih pergi dengan motornya daripada gabung di bus tim.
__ADS_1
"bosen ya?" tanya Anjas
"enggak, malahan seneng liat kamu latihan."
"keliatan lebih menggoda ya?" goda Anjas.
"iya sih" gumam Danis sambil senyum, dia gak sadar dengan omongannya, bikin Anjas gemas.
"yaudah yuk, aku mampir asrama dulu ya. mandi sekalian ada urusan bentar" kata Anjas sambil bantu Danis berdiri.
"Kamu mau ketemu Tasya?" tanya Danis pelan.
"iya, mau bahas iklan sekalian gosip kemaren. rame-rame kog gak berdua. apa kamu ikut aja?"
"ogah"
"entar cemburu lagi"
"Mangkannya kamu jangan ganjen, gak usah pegangan tangan juga. pantes digosipin, orang kelakuan kamu begitu" Sindir Danis. Anjas senyum
"iya iya enggak ganjen. ngaku juga kan kalau cemburu" kata Anjas sambil nyenggol Danis, belum sempat Danis balas, Anjas udah dikerubutin sama fans-fansnya buat minta foto. Danis berinisiatif mau pergi, tapi tangannya malah di genggam Anjas. Dengan sopan Anjas minta maaf ke fansnya dan berjalan ke parkiran, tentu dengan tangan saling bertautan.
Setengah jam lebih Danis nunggu Anjas di cafe deket kantor manajemennya. Sampi akhirnya cowok itu muncul dengan sudah berpakaian casual. mereka berencana nonton, mumpung malam minggu.
"maaf lama" kata Anjas sambil nyruput jus alpukat pesanan Danis.
"haus banget, mau aku pesenin dulu?" tanya Danis yang ngeliat wajah Anjas keliatan capek.
"gak usah, langsung jalan yok, takut gak keburu" ajak Anjas, mereka berdua jalan beriringan keluar cafe.
"kamu gak apa-apa? keliatan capek gitu" kata Danis ngerasa gak enak. "balik aja yok, atau ke ruang baca aja"
"enggak, aku juga belum pernah ngajak kamu nonton kan?"
" kapan-kapan juga bisa Njas" kata Danis sambil natap Anjas, tapi tiba-tiba Anjas berenti. Danis kaget, dan mengikuti arah pandangan Anjas.
"Arka!" gumam Danis, mereka bertiga sama-sama diam, sampai terdengar suara seseorang.
__ADS_1
"tungguin dong Pa," kata orang itu.
***