Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 92


__ADS_3

Cerita 92


"ditonjok sama orang yang pacarnya aku rebut" jawab Anjas malas


"Maksut kamu?" tanya Danis penasaran "Arka?"


"ck.. kamu masih nganggep dia pacar kamu? orang aku gak ngrebut kamu" gumam Anjas kekeh.


Anjas gak gubris Danis, dia cuma diam nunduk. tangannya mainin rambut Danis, dia seperti ketahuan lagi nyuri.


"Kamu berantem sama Arka yank? ya Allah ngapain? ada yang sakit lagi gak?"


"kamu tenang aja, dia cuma nonjok aku sekali, itu aja karena aku lagi gak fokus." jelas Anjas "malah muka dia aku bikin bonyok" kata Anjas lagi, bangga.


Danis ketawa, "Jangan berantem lagi yank"


"kalau dia gak ngeselin juga gak bakal aku nonjok dia. brengs*k cowok itu yank." kata Anjas berapi-api. "pokoknya kamu gak boleh nemuin dia sendirian"


"kalau gak sengaja ketemu?"


"ya ngehindar dong. suka banget sih ketemu sama cowok muka datar gitu"


Danis ketawa "Cemburu ya?"


"Pake nanya, cemburu banget lah"


"Love you Anjasku" kata Danis pelan.


"Aaarrgggghh... kamu manis banget sih yank, kalau tau kamu cinta banget sama aku gini nyesel kemaren kena kartu merah.. asyuuuu"


"Maaf ya, bikin kamu emosi"


"iya, jangan ulangi ya" kata Anjas sambil ngacak rambut Danis.


Sebenernya masih ada yang ganjal di hati Anjas, tapi dia takut, kalau dia nanya ke Danis takutnya dia kesinggung. Anjas menghela nafas panjang. Sekarang dia yakin Danis udah cinta sama dia.


Tangan Anjas terus mainin rambut Danis, dan cewek itu sekarang lagi bersandar di bahu Anjas. badan mereka nonton tivi, tapi pikirannya entah kemana.


"Yank..." panggil Danis


"hmmmm.."


"Sayank..."


"Apa sih"


"Aku mau cerita, tapi kamu jangan marah ya. dan kamu harus janji terus percaya sama aku"


"oke... tapi cium dulu" kata Anjas sambil cengengesan.


"Mesum banget sih, dikit-dikit cium"


"tapi sukakan?"


"iya sih, hahaha" mereka ketawa "serius bentar yank"


"Apa?"


"Sebenernya kemaren selain aku ngomong ke Arka buat jauhin aku. Dia ngajak aku selingkuh dibelakang kamu"


Anjas terlihat santai, dia menghela nafas panjang, tapi sebelum Anjas marah-marah lagi Danis ngomong.


"Tapi kamu tenang aja yank, aku gak mau kog, dia juga udah aku omelin"


Anjas senyum, dia ngacak rambut Danis "Makasih ya uda jujur"


"kamu gak marah?"


"tadi dia udah ngomong itu ke aku, dan dia juga sengaja ngomporin aku, bilang kalau kamu pinter nutupin rahasia lah, apalah, pokoknya secara gak langsung dia ngomong ke aku kalau kamu mau selingkuh sama dia. mangkannya aku emosi banget"


"dan kamu percaya dia"


"Awalnya emang aku sedikit percaya ke dia, tapi sekarang aku sadar kalau aku salah. harusnya aku lebih percaya ke kamu yank"


"aku ngerti sih gimana di posisi kamu" Danis menerawang kesalahan dia yang mau jadi selingkuhan Arka.


"Mulai sekarang kita harus lebih saling percaya. kamu bisa jadiin aku pacar, kakak, sahabat juga musuh. kamu bisa cerita apapun ke aku yank"


"kamu juga" Danis senyum sangat manis.

__ADS_1


"hadeeeeeh yank... lain kali jangan pernah kamu senyum kayak gitu ke cowok lain. aku gak suka ya"


"kenapa?"


"senyum kamu tuh manis banget tauk, jadi gak tahan pengen cepet kawin, eh nikah ding maksutnya"


"kamu tuh, urusin dulu calon tunangan kamu" Danis manyun lagi.


"hehehe... sampek lupa. besok kita nemuin Mama deh"


"apa gak mending kita nemuin Nindi aja? sapa tau kalau kita ngomong duluan ke dia, dengan sukarela dia mau lepasin kamu"


"boleh juga sih, besok kita ajak dia ketemuan" kata Anjas, Danis hanya ngangguk. sekilas dia melirik jam dinding Anjas.


"Astaghfirullah..."


" Kenapa yank?" tanya Anjas bingung.


"Njas, ini udah jam 2 pagi. terus aku Gimana pulangnya?"


"ya gak usah pulang deh"


"Ngawur kamu"


"santai yank, ato kita nyicil bikin anak dulu aja"


"Anjas....!!!"


"Apa?" tanya Anjas santai "nyicip dikit yank"


"mau aku tendang junior kamu!"


"lah, ini masa depan kita yank"


"yauda sonoan." Danis nendang kaki Anjas. " besok bantuin ngomong ke Mama Papa"


"kalau kita langsung di suruh nikah gimana"


"gak bakal"


"tapi aku ngarepnya gitu yank, kan cepet jadinya. hayuk ajalah aku pokoknya"


"Anjas serius dong. kamu tidur disini. aku tidur di ranjang. awas deket-deket" kata Danis sambil lari ke ranjang Anjas.


***


Danis dibikin gedeg sama Anjas, hari ini mereka mau ketemu sama Nindi. Bukannya jemput, Anjas milih ketemu langsung di cafe, alasanya dia ada jadwal latihan,takut kelamaan.


Saat tiba di cafe Danis makin geram, dia ngeliat Anjas lagi cekikikan sama Nindi. dengan langkah cepat dia menuju meja Anjas.


"ehhhhmm.. ehhm..."


"Sayank, uda dateng?" tanya Anjas basa basi.


"Nin, ini Danis yang aku ceritain tadi"


"iya, uda pernah kenalan kan waktu itu" Danis ngangguk.


"yauda aku tinggal dulu" Anjas ngacak rambut Danis, "aku ke dalam dulu ya yank, bikin minum buat kamu"


"bucin" gumam Nindi pelan.


"kenapa?" Nindi hanya menggeleng menanggapi pertanyaan Danis.


"kamu lama sama Anjas?"


"kenal sama Anjas sih udah setahun lebih, kalau pacarannya baru sebulanan"


"Owh... kamu tau kalau aku cinta pertamanya Anjas?" tanya Nindi santai.


"Lebih tepatnya mantan pacarnya Anjas kan?" balas Danis, Nindi senyum tipis.


"iya sih, tapi kamu denger sendiri kan kalau Mamanya Anjas ngenalin aku sebagai calon tunangannya Anjas"


"masih calon aja bangga" gumam Danis.


'kalau rivalnya kayak gini jadi bingung nyerangnya gimana. cantik, alim, anggun, Pinter. bahaya...' batin Danis


"kog pada diem, aman kan?" tanya Anjas sambil duduk. Danis mengernyitkan dahi, dan natap tajam ke Anjas. Danis seakan menyuruh Anjas cepet ngomong.

__ADS_1


"langsung aja ya. jadi aku minta tolong sama kamu buat ngebatalin perjodohan kita" kata Anjas langsung.


"kamu nolak perjodohan ini?"


"iya, kan aku uda punya Danis, calon istri aku"


"bentar, aku kog ngerasa tersinggung ya. kayak gak diharepin dan ditolak"


"ya maaf Nin kalau kamu ngerasa kesinggung. tapi ini menurut aku konyol"


"tapi yang ngatur perjodohan ini kan orang tua kita, terutama Mama kamu"


"Mangkannya itu, kalau kamu yang ngebatalin kan semua jadi enak"


"owh jadi kamu mau jadiin aku kambing hitam?" tanya Nindi, Anjas garuk-garuk tengkuknya, sedang Danis cuma diem ngeliat.


"Gini lo Nin, aku sama Anjas itu saling cinta, kamu kan tau pernikahan itu hal yang suci, gak bisa dipaksain" Danis mulai ikut ngomong.


"tapi perjodohan yang di atur sama orang tua itu pasti yang terbaik buat anak-anaknya" Nindi ngotot. "dan lagian aku gak mau ya gegara bantu kalian aku jadi bantah kemauan orang tua aku"


"tapi ini yang terbaik buat semua Nin, kamu mau nikah karena terpaksa terus gak bahagia dan ujung-ujungnya cerai?" Nindi dan Anjas melotot.


"kamu gak bisa narik kesimpulan kayak gitu" bantah Nindi "apa kalian juga gak mikir, sapa tau aku emang jodoh sama Anjas, dulu kita pisah dan sekarang ditemuin lagi"


Kali ini giliran Danis dan Anjas yang kaget, sepersekian detik mereka melongo.


"kalau emang takdir Allah nyuruh aku nikah Anjas gimana? dan aku gak mau ya jadi anak durhaka terus dapat karma karena bantah orang tua. terutama kamu Njas, kan Mama kamu yang pengen banget punya mantu aku"


Anjas terasa sulit menelan salivanya, dia gak nyangka Nindi bakal ngomong selebar ini. Danis udah mulai keliatan kesal.


"kalian juga mau sampe kapan pacaran? gak takut dosa?"


'nih cewek mulutnya suka bener, kesel jadinya' batin Danis.


"kita udah rencana mau cepet nikah, anggap aja ini lagi taarufan" kini Anjas yang ngomong, Danis senyum.


"mana ada taaruf yang sering ketemuan, jalan bareng, pegang tangan, pelukan, bahkan ciuman. ngaco kalian"


Danis dan Anjas dibuat cengoh ngadepin macan betina kayak Nindi. dari luar keliatan kalem, tapi omongannya beneran pedes. meskipun semuanya bener.


"uda ah, aku mau balik"


"lah terus ini jadinya gimana Nin?"


"yang jelas aku gak bisa bantuin, kalau mau batalin ya usaha sendiri. tapi kalau gak bisa yaudah kita nikah. gampang kan" kata Nindi ke Anjas.


"oke kita bersaing" kata Danis yang udah mulai geram.


"deal!"


"eh apaan sih ini" Anjas klabakan.


Nindi pergi ninggalin Anjas juga Danis, kini mereka berdua sama-sama diam.


" kenapa aku berasa jadi pemeran antagonis sih, kesannya kayak aku yang jahat banget" gumam Danis


"gak usah dipikirin yank"


"gak usah dipikirin gimana? ini namanya dia ngajak aku perang." kata Danis emosi. "kamu juga kenapa jadi banyak diem, jangan bilang kamu juga berharap nikah sama Nindi"


"enggak yank"


"sebel aku tuh kalau kayak gini!"


"nanti kita pikirin cara lain"


"lagian tuh cewek kenapa lemes banget sih mulutnya"


"udah. sekarang kita kencan di atas yuk!" ajak Anjas


"ogah, ajakin aku jalan aja. lagi badmood banget aku, pengen jalan-jalan"


"tapi cium peluk bentar lah yank di atas" kata Anjas sambil naik turunkan alisnya.


"kita kan lagi taaruf gak ada peluk cium sampek nanti kita nikah"


"wadaaaw... ****** dah" Anjas tepok jidat "gak gitu juga kali yank, incip dikit boleh lah"


"enggak!" kata Danis sambil berlalu pergi.

__ADS_1


"yank... tega amat"gerutu Anjas.


***


__ADS_2