
Cerita 87
Mamanya Anjas narik tangan cewek itu dan senyum "sampek lupa, kenalin ini calon tunangannya Anjas!"
"ha???" Danis dan Sisil barengan,
"Gimana- gimana tan?" mbak Sisil nyoba diperjelas.
Sebelum mama nya Anjas ngejelasin, cewek itu mengulurkan tangannya ke Sisil dan bergantian ke Danis, "Aku Nindi"
Deg...
'Apa ini mantannya Anjas? kog bisa jadi calon tunangan?' batin Danis
Setelah kenalan dan sedikit basa basi mamanya Anjas dan Nindi pergi, tinggal Danis dan Sisil yang masih bingung.
"Anjas gk cerita apa gitu ke kamu Nis?"
"Kalau Anjas cerita aku gak bakal mau dilamar dia kemaren" jawab Danis kesel, Sisil hanya ngangguk.
"kamu tenang dulu, pasti ini cuma salah paham"
"Masalah nya ini Mamanya lo Mbak yang bilang sendiri. bukan gosip kayak kemaren. Gimana Aku bisa tenang"
"Setahu Aku tante tuh emang getol banget pengen Anjas cepet nikah, apalagi setelah gosip kemaren. aku yakin Anjas gak tau apa apa. dia gak bakal nyembunyiin masalah kayak gini dari kita"
"itu Nindi mantannya Anjas kan, Anjas pernah Cerita kalau dia ketemu sama Nindi dirumahnya. dan itu pasti ngomongin masalah tunangan ini. Anjas pasti tau, palingan emang dia sengaja nyakitin aku kayak gini" kata Danis dengan mata berkaca-kaca.
Mungkin beberapa hari lalu Danis bisa lebih tenang, tapi sekarang dia beneran ngerasa sesak, ada sesuatu yang nusuk hatinya. dia bener-bener sakit. dan sekarang dia gak tau harus percaya yang mana.
"kita tunggu penjelasan dari Anjas dulu deh. jangan ngambil kesimpulan sendiri"
"tapi ini Mamanya mbak yang ngambil kesimpulan sendiri. bisa apa aku"
"Anjas kan milihnya kamu"
"Tapi itu Nindi mbak, Mantannya Anjas yang mungkin emang gak pernah bisa Anjas lupain"
"cuma mantan Nis, kamu kan masa depannya" kata Sisil nenangin.
Danis menghela nafas kasar " tau Ah,mending aku balik deh mbak"
kata Danis sambil berdiri
"lah, gak jadi nungguin Anjas?"
"males" kata Danis sambil cipika cipiki. "Eh tapi jangan bilang Anjas tentang ini ya mbak, kita tunggu dia ngomong sendiri"
"Oke!"
***
Anjas dibuat bingung dengan sikap Danis, tadi siang masih manja-manja gemesin, tapi sekarang malah cuek dan dingin banget. Saat Anjas kerumahnya malah Danis pura-pura tidur.
__ADS_1
--TengilkuSayank--
yank...
kamu kenapa?
gak kangen?
Yank...
yakin gak mau ketemu calon suami yang ganteng ini..
Yaaaank...
jangan cuekin aku dong,
besok aku ke Jakarta
'Anjas nyebelin banget sih, ngapain coba ke Jakarta? nemuin cewek? Tasya, Nindi? sapa lagi? resek" gerutu Danis. dia mulai nelphon Anjas.
--TengilkuSayank---
ANJAS : Hallo sa...
DANIS : kamu dimana?
ANJAS : di hati kamu dong
ANJAS : disebelah kamar Kamu, maen Pes
DANIS : apa???
"haiiisshh... kenapa gak bilang daritadi sih" gerutu Danis.
Dengan cepat Danis melangkah ke kamar Dimas, si adek lucknut yang
malah ngajak pacar kakaknya maen pes, padahal daritadi Danis minta tolong Dimas buat nyuruh Anjas pulang.
"Hay calon istri..." sapa Anjas dengan senyum pepsodennya saat Danis masuk kamar Dimas.
"kangennya sama aku apa sama Dimas" bentak Danis
"kamu dong sayank!" kata Anjas menghampiri Danis
"lagi PMS mbak? tadi nyuruh pergi sekarang mau kangen-kangenan huh!" ledek Dimas
"Berisik" bentak Danis lagi yang diikuti cengengesannya Anjas dan Dimas.
Anjas meluk Danis dari belakang saat mereka lagi ada di dapur buat ngambil camilan. Sesaat Danis mematung, dia memejamkan matanya, kepala Anjas menyusup di atas bahu Danis.
"aku kangen kamu" bisiknya pelan.
"lepasin, ntar ada yang liat" kata Danis sambil nyoba berontak, tapi pelukan Anjas makin erat.
__ADS_1
"bentar aja" perintah Anjas, Danis menghela nafas, keduanya sama-sama diam. Perlahan Anjas ngelepas pelukannya dan memutar tubuh Danis agar saling berhadapan. tangan kekarnya menangkup kedua pipi Danis.
"kamu kenapa nyuekin aku? jangan bikin aku khawatir" kata Anjas lembut dengun senyum manis.
'alamak... diliatin Anjas sama dikasih senyum gini kenapa langsung meleleh sih' batin Danis.
Perlahan Danis meluk badan Anjas, dia menyungsupkan badannya di dada Anjas, tanggannya udah nangkring di pinggang Anjas. Pengen banget rasanya dia nangis dipelukan Anjas, ngeluarin semua unek-unek yang dia rasain tadi saat ketemu Mamanya. tapi bukan Danis namanya kalau gak bisa nutupin perasaannya.
"kamu Ngapain ke Jakarta? nemuin Tasya? ato nemuin yang lain?"
"nemuin Yang lain lah" mendengar jawaban Anjas, Danis melotot.
"aku masuk daftar calon pemain Timnas, besok ada tes awal"
"Serius!" Danis keliatan kaget juga seneng.
"iya, Mangkannya doain, jangan di cuekin" kata Anjas, cewek itu malah manyun.
"Njas, kamu tuh nyebelin tau gak"
"tapi suka kan?"
"kepaksa"
"Kog gitu, nakal nih" kata Anjas sambil nyubit hidung Danis.
"Kamu gak ada yang mau di omongin ke aku?" selidik Danis
"malah aku yang mau nanya, katanya tadi mau nunggu d cafe, terus kenapa mendadak pulang dan malah nyuekin aku?" Anjas ngerapiin rambut Danis.
"lagi males aja sama kamu"
"masa?" tanya Anjas lagi, Danis ngangguk. "kamu gak lagi maen rahasia-rahasiaan sama aku kan?"
"Enggak. bawel ih" Danis dorong badan Anjas pelan " Njas, kamu gak ada rencana ngenalin aku ke orang tua kamu gitu? "
Anjas senyum, "tadi tuh rencananya emang aku mau ngenalin kamu Ke Mama soalnya tadi mama juga ke cafe, tapi gegara aku lama kalian pada pulang, malah kamu pake acara ngambek gak jelas" Anjas manyun "Pulang Jakarta kita kerumah ya"
'apa Anjas emang gak tau masalah dia mau tunangan sama Nindi ya?' batin Danis
"Yank, malah ngelamun" Anjas senderan ke Danis.
"kamu gak pernah ketemu sama Nindi lg?" tanya Danis tiba-tiba
"Nindi?" Anjas mengernyitkan dahi "terakhir ketemu ya pas dirumah dulu "
"masih sering komunikasi?"
Anjas keliatan mikir "Beberapa hari yang lalu sih dia wa, tapi gak aku balas" kata Anjas sambil ngasih tau chat yang dikirim Nindi. Danis ngambil ponsel Anjas, dan buka profil Nindi.
Deg...
***
__ADS_1