
Cerita 23
Danis terus berjalan tanpa menanggapi panggilan Arka, tapi tak berapa lama Arka menarik tangan Danis.
"Nis... ini bener-bener diluar kendali sayank. Aku... aku..."
"Pergi Ka" kata Danis sambil menepis tangan Arka.
"Aku anter kamu pulang dulu."
"Pergi sebelum aku bener-bener benci kamu Ka" perlahan Arka melepaskan tangan Danis, dan merelakan gadis itu berjalan pergi. Handphone Arka kembali getar, Arka mengangkat dan cepat berlari menuju parkiran.
Danis yang mendengar langkah kaki Arka yang berlari menjauh menoleh, tak terasa pipi Danis sudah basah. dia berdiri mematung, sendiri. sayup sayup terdengar Sheila on 7 menyanyikan lagu 'Shepia' dari dalam aula. Dada Danis terasa makin sesak.
***
Danis duduk di halte depan kampus, tempat band favoritnya manggung. dia bener-bener tidak bisa berfikir sekarang. Handphonenya daritadi dia pegang, tapi dia tidak tahu harus menelphon siapa saat ini. sekarang sudah jam 10 lebih.
Dalam keadaan seperti ini Danis masih mengharap Arka datang, dan memeluknya erat serta berjanji tidak akan meninggalkannya.
Danis sudah terlanjur sangat mencintai Arka, bahkan dia rela menjatuhkan harga dirinya dengan menjadi pelakor. tapi setelah hampir 3 bulan mereka menjalin hubungan nyatanya Arka masih belum meninggalkan Mega seperti janjinya.
Dan malam ini, Danis benar-benar dibuat sakit hati dengan Arka, yang ternyata lebih memilih meninggalkan dia malam-malam sendirian dan berlari ke Mega, pacarnya.
"Udah nangisnya, ntar dikira mbak kunti lo" kata seorang cowok, tanpa permisi dia duduk di sebelah Danis.
Danis kaget, dia takut itu adalah suara preman atau penculik yang mengincarnya. Danis langsung bangun dan ingin lari tanpa melihat ke samping. tapi cowok itu langsung memegang tangannya, dan menariknya duduk lagi.
"mau kabur kemana sih Danis?" kata cowok.
Danis kaget karena cowok itu tau namanya. dia mendongak. cowok itu tersenyum sambil mengangkat tangan.
"Hay..." sapanya. Danis menelan ludah. 'Kenapa dia sih' batinnya.
__ADS_1
Mereka berdua sama-sama diam cukup lama, sampai cowok yang ternyata si tengil Anjas menghembuskan nafas panjang. "Mau ikut?" tanyanya sambil berdiri.
Tapi Danis masih diam ditempat duduknya."Yakin masih betah disini?" katanya lagi.
Danis mulai berfikir ulang, dan akhirnya dia mengikuti Anjas. meskipun Danis belum terlalu mengenal Anjas, dia sedikit merasa aman, setidaknya dia tak sendirian.
Anjas mengenakan helm di kepala Danis, lalu menguncinya. lalu menaiki mogenya. dia diam sambil melirik Danis.
"mau gue gendong?buruan naik!" perintah Anjas. dengan segera Danis duduk di boncengan Anjas.
Dengan perlahan Anjas menjalankan mogenya, dia mulai mengelilingi jalanan kota yang sudah sepi. Danis hanya bisa pasrah mau dibawa kemana dengan cowok ini, bahkan kalaupun Anjas mau menyakiti Danis dia seakan tak peduli, karena dia sudah seperti mati.
"Ini mau sampe kapan kita muter-muter gak jelas. bensin mahal woy." kata Anjas setelah hampir semua sudut jalanan kota dia lewati.
"Maksutnya?" Danis bener-bener ngeblank.
"Kamu mau ikut aku pulang?" tanya Anjas menyadarkan Danis.
"gitu dong ngomong. kamu kira aku dukun bisa tau rumah kamu"
Danis dan Anjas berdiri di depan, sebuah rumah mewah. Danis menelphon seseorang. sedang Anjas yang masih duduk di atas mogenya terlihat heran dan terus merhatiin Danis.
Jelas ini bukan rumah Danis, karena dia nggak mungkin pulang dengan kondisi kacau seperti sekarang. dia milih buat nginep dirumah mbak Sisil. tadi dia sudah chat mbak Sisil yang langsung menyuruh Danis cepet Datang. Anjas yang mendengar suara kunci pintu diputar langsung pamitan ke Danis.
"Eh... aku duluan ya, takut di semprot, dikira nyulik kamu" kata Anjas langsung pergi tanpa mendengar jawaban Danis.
"Dasar cowok sabl*ng. main kabur aja" gerutu Danis, dia yang melihat Mbak Sisil berjalan mendekati pintu pagar langsung merasa nyaman.
***
Sisil membuatkan hot coklat buat Danis. dia tidak bertanya apa-apa, dengan melihat penampilan Danis dia sudah tau kalau Danis lagi dalam keadaan tidak baik-baik saja. apalagi dia datang tengah malam begini. dia ingat, pasti Danis belum pamitan ke orang tuanya. dengan cepat Sisil memotret dirinya dengan Danis yang masih menunduk lalu dikirimkannya ke Mama serta adeknya Danis.
__ADS_1
Dimas yang kebetulan belum tidur dan memang lagi menunggu Danis langsung membalas chat Sisil, mereka memang sudah kenal dan sudah sering jalan bareng.
"Untung mbak Sisil ngabarin, kalau enggak udah gue gedor tuh rumah si Arka." kata Dimas sambil masuk kamarnya. dia khawatir karena daritadi Danis tidak merespon chat atau telphonenya.
"Diminum Nis" kata Sisil sambil mendekatkan gelasnya. Danis mendongakkan kepalanya.
"Mbak..." panggil Danis.
"Udah, gak usah crita dulu. buruan diminum trus istirahat" kata Sisil. Danis mengangguk.
***
Danis keluar dari kamar yang sering dia tempati kalau nginep dirumah Sisil. Danis memang sering tidur dirumah Sisil, kadang dia kasihan melihat mbak Sisil yang cuma dirumah berdua sama mbak Nem ARTnya.
Dia melihat Sisil sedang duduk di depa. tivi sambil memakan apel. mendengar langkah kaki, Sisil menoleh.
"Udah bangun?mau mandi dulu ato sarapan dulu? tuh udah siap"
Danis tidak menjawab dan hanya duduk disebelah Sisil dan sender dibahunya. rasanya dia seperti tidak bernafsu untuk mandi ataupun sarapan.
"Mending kamu telphon tante deh" kata Sisil mengingatkan.
Dengan malas Danis membuka hapenya, ada banyak panggilan dan chat. dan tidak ada nama Arka disana. dia inget, kalau lagi bertemu Mega, Arka selalu memblokir nomer Danis. dan itu membuat Danis inget kejadian semalem, dan menaruh lagi hapenya.
Sisil yang melihat itu akhirnya mendial nomer Mamanya Danis.
"Halo tante, ini danisnya baru bangun, semalem saya ajak maraton nonton drama korea. iya" Sisil ngasih Hapenya ke Danis.
Danis menelan ludah "Halo Ma," dia menjauhkan hape dari telinganya, diseberang Mama sedang mengomel. "Iya Ma, maaf. Danis lupa, keasyikan nonton dramanya. iya nanti. Danis mau santai dulu sambil nerusin nonton. iya" Danis mematikan telphon dan mengembalikan ke Sisil.
"Arka?" tanya Sisil tanpa menoleh ke Danis. kini Danis malah membenamkan wajahnya di bantalan sofa.
Sisil hanya menghela nafas, tanpa bertanya lagi. dia tau Danis tidak akan bercerita kalau memang dirinya belum siap. percuma juga nanya, karena Danis tidak akan menggubrisnya
__ADS_1
***