
Cerita 58
"Heh kalian..." panggil orang itu sambil nepuk pundak Anjas, keduanya menoleh dan...
Plaak...
"Aaaw..."jerit Danis tertahan, cewek itu mendadak kaku, tangannya reflek menutup mulut yang sedikit menganga sedang kakinya mundur setengah langkah. dia menatap Anjas yang pipi kanannya memerah kena tampar cewek di depannya. matanya mengerjap beberapa kali.
" Kenapa? sakit?" tanya cewek yang nampar Anjas, "itu gak sebanding sama rasa sakit yang kamu kasih buat aku"
Cewek itu lumayan seksi, kulitnya putih, tinggi dan rambut lurus sepinggang yang dibiarkan tergerai semakin menambah nilai sempurna. ya walaupun wajahnya masih cantikan Danis. bajunya yang ketat dan mini semakin menggoda setiap buaya yang melihatnya.
Setelah puas membuat penilaian ke cewek itu, perlahan Danis menatap Anjas yang masih diam di tempat, dia juga terlihat kaget. rahangnya mengeras, tangannya mengepal, Danis yakin Anjas sangat marah.
Siapa juga yang gak marah, tiba-tiba ditampar di depan umum kayak gini. Apalagi Anjas pemain bola yang cukup terkenal, dan mungkin semua orang yang melihat kejadian ini kenal Anjas, karena sedari tadi banyak orang yang menyapa dan bahkan minta foto Anjas.
"Kamu siapa?" tanya Anjas dibuat setenang mungkin, Danis makin heran.
'lah... kog Anjas gak kenal? jangan bilang ini cuma prank?' batin Danis, dia mulai menyelidik, mencari kamera tersembunyi.
Cewek itu tersenyum sinis "kamu tau aku udah nunggu kamu 2 jam. dan ternyata kamu malah jalan sama cewek ini?"
Anjas terlihat berpikir, Danis masih diam di samping Anjas, walaupun daritadi jantungnya mau copot saking kaget dan takutnya, dia takut ada yang ngrekam kejadian ini, terus viral. mamp*s kan karir Anjas. gak lucu dong besok ada berita.
__ADS_1
*Kapten tim Arem* di tampar cewek seksi di Mall*.
"owh... kamu Linda?" tanya Anjas kemudian. cewek di depan terlihat melotot.
"Namaku Ninda!" bentak cewek
"eh... " ralat Anjas sambil nutup mulutnya. "tadi aku ada urusan mendadak, ini aku lagi nyariin kamu. lama ya nunggunya?aku hubungin kamu gak bisa" tanya Anjas manis meski terdengar maksa.
cewek tadi sedikit tenang, senyumnya mulai muncul "aku kesel tau" katanya manja, tapi kemudian dia menoleh ke Danis sinis "dia siapa?"
"owh iya lupa. aku tuh sebenernya ngajak kamu ketemu mau ngenalin calon istri aku" kata Anjas yang perlahan tapi pasti merangkul bahu Danis, yang dirangkul ketap ketip gak jelas.
"jadi aku minta maaf banget, dari awal aku udah bilang kalau aku uda punya cewek, nih aku bawa anaknya, gak bohong kan aku?" kata Anjas tegas " kamu bilang lagi sakit parah dan ngajakin aku selingkuh kan? maaf deh, aku bukan cowok kayak gitu" terang Anjas dan mulai melepaskan rangkulannya di Danis.
"kan aku udah bilang, Kamu tuh semangat aku Njas, cuma kamu yang bisa sembuhin penyakit aku" kata Ninda makin manja.
Danis mulai paham situasinya sekarang, dia sedikit tersenyum, perlahan tangannya memeluk lengan Anjas "Spesial banget sih kamu sayang, bisa nyembuhin penyakit. dokter gak laku dong"
Anjas tersenyum manis, wajah marahnya hilang seketika. dan mungkin rasa marah itu pindah ke Ninda, yang tampak wajahnya memerah karena kesal dan juga malu.
"Mbaknya, calon suami saya ini bukan dukun yang bisa nyembuhin orang. Apalagi cuma dengan jadi pacarnya, hidup tuh bukan karangan kayak novel mbak. Mending mbaknya ke rumah sakit, rumah sakit mana sayank yang cocok sama penyakitnya?" tanya Danis sambil ngeliat Anjas.
Anjas terlihat mikir "Rumah Sakit jiwa" kata Anjas dengan sedikit penekanan. terlihat orang-orang di sekitar ikutan menahan tawa, ada beberapa orang yang mengabadikan momen itu dengan ponsel pintarnya.
__ADS_1
"tuh dengerin mbak, sama satu lagi jangan pernah gangguin calon suami saya." kata Danis dengan santai.
"udah sayank, gak mempan juga dia mau godain aku," kata Anjas sambil menggandeng tangan Danis "Duluan ya Linda"
"Namaku Ninda" teriak cewek itu sambil menghentakkan kakinya beberapa kali.
Anjas dan Danis pergi dari kerumunan itu, walaupun keduanya sama-sama menahan tawa. Mereka terus jalan bergandengan tangan sampe ke parkiran. disana baru tawa keduanya pecah.
"parah kamu Njas, kasihan tuh anak orang" kata Danis saat dia mulai puas ketawa.
"Biarin, ngribetin sih, pake nampar segala" kata Anjas yang masih kesel karena ditampar "cium dong sayank, biar sembuh" katanya sambil megang pipi kanan.
"sini aku cium pake tangan juga" kata Danis siap-siap mau nampar Anjas
"Ampun calon istri" kata Anjas manja.
"aku tabok juga tuh mulut" kata Danis dengan manyun.
"jangan bar-bar lagi lah, kayak tadi tuh gemesin" kata Anjas sambil mengacak rambut Danis pelan.
Kedua mata mereka bertemu, salah satu dari mereka mulai merasakan hal berbeda. Sebuah desiran yang perlahan akan menggoyahkan hatinya yang beku.
***
__ADS_1