
Cerita 29
ANJAS GANTENG DANIS SUKA calling...
"nama apaan sih nih anak, narsis gilak" gumam Danis
Sebelum Danis sempat mengangkat,telphonnya udah mati. tak berapa lama ada chat dari nama yang sama.
* Masih inget kan punya utang? aku tunggu di cafe ruang baca. gak pake protes, cepet.
"Pemaksaan" ujar Danis sambil merapikan mejanya. meskipun agak males tapi dia bukan tipe orang yang kabur saat ditagih utang.
Setelah berpamitan sama teman-temannya Danis berjalan sendirian ke arah cafe ruang baca yang deket dan bisa ditempuh dengan jalan kaki.
"Nis..." sapa seseorang.
'Duh... kenapa malah muncul dia sih' batin Danis. sambil nyiapin senyuman termanis cewek itu menoleh.
"Hay..." sapa Danis "lagi ngapain?" tanya Danis, karena jujur dia gak tahu harus bersikap gimana ke orang di depannya. ya dia Arka.
"Nungguin kamu" jawab Arka singkat. Danis garuk-garuk
kepalanya yang gak gatal.
"Sampai kapan kamu ngehindar? kita butuh ngobrol" kata Arka tegas. beberapa kali tangannya ingin memegang tangab Danis, tapi dia urungkan.
"dih... aku gak ngehindar. cuma lagi sibuk aja."
"aku tau kamu kecewa sama aku. tapi tolong... jangan bikin aku makin gila Nis"
' Nih anak bikin bingung aja deh, orang kamu yang bikin runyam' batin Danis. sebenarnya Danis sendiri kangen sama Arka, karena jujur dia masih ada rasa cinta. tapi kalau inget gimana Arka sama pacarnya rasanya dia pengen nendang Arka pergi kalau bisa sampek ke luar angkasa.
Arka menatap Danis sendu, bikin Danis makin puyeng. saat itu juga handphone Danis bunyi, Anjas nelphon.
"oke kita ngobrol, tapi gak sekarang ya. aku ada janji soalnya. besok aja deh kita ketemu"
"Beneran ya. aku jemput di rumah besok" kata Arka, kebetulan besok hari sabtu dan mereka sama-sama libur.
__ADS_1
"Iya" balas Danis.
"Kamu sekarang mau kemana? aku antar ya?" Arka menawari Danis.
"gak usah. aku jalan aja, deket kog" Danis gak mau ada salah paham kalau Arka tahu dia janjian sama Anjas. lagian Danis ngerasa masih canggung sama Arka.
"Serius?" Arka nanya lagi. Danis ngangguk.
"Aku duluan ya" Danis berjalan ninggalin Arka, dia buru-buru karena sedari tadi Anjas terus meneror Danis dengan telphonnya.
Arka masih diam mematung di tempatnya, dia tahu Danis sengaja menghindar. tapi dia tidak mau kehilangan sosok Danis, yang selama beberapa bulan ini bikin dia semangat lagi. dengan melihat sikap Danis, Arka meramal dia akan balik jadi seseorang yang gak punya semangat hidup lagi.
10 menit Danis jalan, dan akhirnya dia sampai di cafe ruang baca. sepanjang perjalanan pikirannya masih tetap ke Arka. dia gag tahu harus gimana ke cowok itu. benci tapi cinta. kepalanya agak pusing mikir hal kayak gini. serba salah. kalau kayak gini dia jadi pengen balik ke jaman SD dulu, dimana masalah terberatnya hanya pas dia dapat PR matematika.
Anjas sudah menunggu di parkiran cafe, dengan masih memainkan ponselnya dia duduk di atas motor. Anjas terlihat santai, tapi emang beberapa kali Danis ketemu Anjas dia selalu ngeliat cowok itu bergaya sok cool, walaupun banyak konyolnya.
"Sory lama. yuk masuk" ajak Danis sambil nepuk pundak Anjas, dan berjalan ke arah pintu cafe.
"Ngapain? langsung aja" kata Anjas.
"aku tuh mau ngajak jalan. gak kesini" kata Anjas sambil nunjuk cafe. Danis melongo.
"terus kamu ngapain suruh aku kesini? kan bisa jemput di depan kantor" Danis yang inget tadi dia jalan lumayan jauh jadi manyun.
"kan lumayan buk, jalan sore-sore"
kata Anjas sambil cengengesan.
"Dasar sontoloyo" Danis mencubit lengan Anjas. "Gak mau tauk, aku haus pengen minum dulu"
spontan Anjas narik tangan Danis yang mau masuk cafe "eits... kalau mau kencan manja sama aku, nanti aja disana jangan disini"
"kencan dari hongkong? beli minum doang bentar, kamu gak liat nih wajah cantik ku udah keringetan." kata Danis mulai kesal.
"Oke oke... kamu tunggu sini. aku beliin minum" kata Anjas sambil menuntun Danis berdiri di samping motornya, membelakangi cafe. setelah itu Anjas masuk ke dalam cafe.
'gitu dong pengertian' batin Danis sambil me lap keringat di dahinya.
__ADS_1
"Nih..." selang beberapa menit Anjas sudah kembali sambil menyodorkan ice coklat di depan hidung Danis. sontak Danis langsung senyum lebar.
"yes... kamu gak minum?" tanya Danis sambil ngambil ice coklatnya.
"Enggak, ngeliat kamu aja rasanya langsung adem" kata Anjas sambil nyengir wajahnya dibuat sok imut.
"eneg deh liatnya" kata Danis sambil buang muka "tapi ini gak ada pelet ato segala komplotannya kan?"
"Maksutnya?" Anjas bingung
"Kali aja kamu ngasih aku pelet biar aku terkintil-****** sama kamu" kata Danis sambil ngeliatin ice coklatnya.
"banyak omong, sini kalau gak mau" kata Anjas ancang-ancang ngambil ice Danis. namun dengan cepat Danis nyruput ice nya.
"Gak dikasih pelet juga kamu pasti ngintilin aku terus" gerutu Anjas, meskipun pelan Danis bisa denger.
"diih... gak bakalan ya" kata Danis sambil ngabisin ice nya.
"udah buruan" kata Anjas mulai memakai helm dan naik ke atas motornya.
Dengan cepat Danis ngabisin ice-nya dan membuang cupnya ke tong sampah.
ngeliat Danis cepet ngabisin icenya Anjas geleng-geleng " gila, nih cewek uda kayak gak minum sebulan, cepet bener abisnya. elegan dikit dong minumnya"
"situ minta buru-buru. lagian di depan kamu gak ada tuh ceritanya pake elegan-elegan segala, gak ada faedahnya"
"di depan calon pacar tuh harus keliatan manis dong"
"gak usah mulai ngehalu" kata Danis sambil memukulkan tasnya ke badan Anjas.
"kalau gak gara-gara punya utang juga gak bakalan aku mau ikut kamu kayak gini" gerutu Danis sambil make helm.
"awas aja nanti kalau kangen dibonceng seorang Anjas" kata Anjas dengan gaya sok coolnya.
Danis naik diboncengan Anjas, untungnya hari ini dia pakai celana kain panjang, jadi gak ribet kalau naik motor. Perlahan Anjas mulai menjalankan motornya, tanpa mereka tahu ada sepasang mata yang gak sengaja liatin mereka.
***
__ADS_1