Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 28


__ADS_3

Cerita 28


"pesan gak?" tanya Anjas setelah dia selesai menulis pesanannya di kertas.


"kalau kamu maksa apa boleh buat" jawab Danis cuek sambil menulis di kertas yang sama.


"Dih... sapa juga yang maksa" gerutu Anjas sambil terus ngeliat Danis.


"Nih" Danis menyerahkan kertas ke Anjas, secara tidak langsung dia menyuruh Anjas untuk ngasih ke kasir.


"untung cantik, kalau enggak aku wes juga nih anak.. haiish..." katanya sambil jalan ke arah kasir.


Danis melihat ke arah Anjas yang gak balik-balik, dia masih asik ngobrol dengan penjaga kasir juga beberapa orang. pesanan pun datang, akhirnya Danis melambaikan tangan ke Anjas, dan cowok itu pun mendekat.


"Kenapa? ditinggal bentar udah kangen"


" nih cowok, gak ada selesainya ngehalu. tuh keburu dingin" Anjas duduk di depan Danis.


"kamu sering makan disini?" tanya Danis saat mereka udah mulai makan.


"Baru pertama" jawab Anjas sambil memakan pesanannya. Danis hanya ngangguk.


"kirain langganan. lah tadi di sono kenapa lama?"


"ngobrol aja"


"kenal?"


"enggak. sok kenal aja" jawab Anjas sambil nyengir.


Saat Danis lagi asik makan, hapenya bunyi, dia melihat nama si pemanggil.


Arka Calling...


"deh... "


"Angkat gih, berisik" kata Anjas, sambil ngelirik hapenya Danis.


"Biarin, gak penting ini"


"pasti cowok yang dulu bikin kamu nangis ya?" mendengar pertanyaan Anjas, mendadak Danis berenti ngunyah, dan melotot ke Anjas.


"Bukan urusan kamu"


"kamu diputusin? pantes sih cowoknya ganteng gitu, palingan juga gak tahan sama sikap bar-bar kamu"


"Nih anak mulutnya gak pernah ditabok bidadari deh kayaknya" kata Danis sambil bersiap-siap mau nabok Anjas.


"Tuh kan tuh kan." kata Anjas sambil memundurkan badannya sambil cengengesan.

__ADS_1


"bentar. emang kamu pernah liat Arka?"


"Arka Siapa?"


"ya yang nelpon tadi, kamu bilang kan dia ganteng"


"Owh... namanya Arka. enggak sih, ngasal aja. masak iya aku bilang cowok kamu jelek. bisa-bisa cuma tinggal nama akunya"


Danis mulai ketawa "woy...kamu pikir aku gengster. segitunya"


Anjas ngeliat Danis lama "lanjut makan gak? aku tampol nih" kata Danis yang risih diliatin gitu.


kini Anjas yang senyum. "cuma mastiin, kamu yang sekarang sama yang dulu ketemu malem-malem itu orang yang sama gak."


"maksutnya?"


"habisnya yang dulu itu gak ada cantik manis kayak gini, yang ada mukanya asem"


"ckckck..." Danis menunduk malu.


"Mana sepanjang jalan nangis mulu, bingung kan ini yang dibelakang orang beneran apa orang jadi-jadian" kata Anjas sambil ngakak.


"terusin aja ketawa, puas-puasin sono" Danis geram.


"nah.. kalo lagi marah gini mukanya pedas manis"


"habisnya muka kamu tuh rasanya emang nano-nano"


"dasar setres" kata Danis lirih sambil sedikit senyum.


"Tapi makasih ya dulu udah nolongin" kata Danis akhirnya


"Makasih doang? kecut!" Danis ngeliat Anjas dengan tatapan 'terus?'


"gag ada yang gratis, beli bensin pake duit mbak, gag pake makasih"


"cowok matre"


"biarin. siniin dulu hape kamu" kata Anjas sambil ngambil hape Danis. sepertinya dia misscall ke hapenya sendiri.


"nih udah aku save" kata Anjas. "jadi, kapanpun aku nelphon harus diangkat. awas aja kalo kabur"


"iya iya" jawab Danis, sambil minum es tehnya.


"jadi waktu liat Sheila itu kamu sama si Arka cowok kamu itu kan ya?" Danis mengangguk " kalo di inget-inget masih ganteng aku sih"


"bentar, kamu kog tau aku liat Sheila sama Arka. jangan-jangan kamu emang sengaja buntutin aku"


"Dih Puede bener." Anjas meminum es jeruknya. " aku tuh liat kamu sama cowok pas baru masuk di aula. tapi aku gak yakin itu kamu sih awalnya. terus kebetulan aku ada urusan yaudah aku pergi duluan. ngeliat kamu lagi nangis dipinggir jalan, mau dibiarin takut kepikiran, di datengin eh malah ngrepotin"

__ADS_1


Danis senyum "dih...palingan kamu juga seneng kan bisa bonceng cewek cantik kayak aku gini"


Anjas benerin topinya "Habis ini kamu jalan kaki aja ya sampek rumah kamu."


"Ogah... Anterinlah" kata Danis sambil melet.


"ngomong-ngomong tadi kamu dikejar setan ya, kayak buru-buru gitu"


"lebih serem dari setan" jawab Danis sekenanya.


Anjas ngakak "mencium bau jomblo lagi nih"


"Maksutnya?"


"pasti kamu lagi ngehindari cowok kamu kan? bentar lagi juga putus. atau udah putus?" Anjas ngakak


"bahagia banget hidup kamu, ngetawain orang mulu"


"yang bikin aku bahagia itu bisa ngeliat tulisan jomblo lagi di dahi kamu" kata Anjas sambil ketawa dan dorong dahi Danis pake jari telunjuknya.


Danis manyun, Anjas yang ngeliat ekspresi Danis jadi makin geli.


"ke kasir sono!" kata Anjas sambil berdiri keluar.


"Udah di bayar sama mas Anjas mbak" kata seorang kasir perempuan. Danis melongo.


"Mbak pacarnya mas Anjas ya? cocok ganteng sama cantik" katanya lagi, makin bikin Danis melongo. Danis hanya tersenyum sekilas dan langsung pergi.


"Ngeprank ya?" kata Danis sambil ngambil helm di tangan Anjas yang uda duduk di motornya.


"enggak"


"la kan udah kamu bayar katanya"


"aku kan nyuruh ke kasir doang, bukan nyuruh bayar" kata Anjas sambil ngeliat Danis dengan muka jahil.


"terus ngapain?" kata Danis masih heran,kini dia sudah naik motor.


"Pamitan, hahaha" Anjas ngakak lagi. otomatis Danis nyubit pinggang Anjas.


"Aaawww..." teriak Anjas


"jangan teriak" Danis membungkam mulut Anjas dari belakang " Mereka tuh ngira kita pacaran. males banget kan"


"harusnya kamu bersyukur, cewek-cewek tuh pada antri jadi pacar aku. banyak juga yang ngaku-ngaku"


"emang situ sapa? artis?" Anjas hanya ketawa denger pertanyaan Danis. dan mulai menjalankan motornya.


***

__ADS_1


__ADS_2