
Cerita 102
Sore ini Anjas tanding bola lagi, tapi sekarang di kandang sendiri alias di Malang. Danis dan yang lainnya udah duduk manis di tribun VVIP, karena memang hari libur dan mereka udah ngrencanain jauh hari.
Lawan Anjas kali ini cukup berat, apalagi ini udah masuk babak 16 besar. Anjas yang harusnya sibuk ngurusin pernikahan terpaksa nyerahin semua ke Danis.
Dari jauh Anjas terlihat menggiring bola dengan santai, kepiawaiannya main bola ditambah tampang gantengnya membuat suporter cewek histeris. Kadang Danis masih gak nyangka pemain bola idaman wanita itu akan segera jadi suaminya. dan itu ngebuat Danis senyum-senyum sendiri.
"ngapain kamu senyum-senyum?" tegur Raya yang duduk di tribun samping Danis.
"calon suami aku keren ya" kata Danis sambil ketawa.
Raya memutar bola mata ,jengah. "Ck... lebay"
"fakta tau! gak denger kamu banyak yang manggil nama Anjas" kata Danis dengan gaya sombongnya.
"gak sadar kamu, itu brarti diluar sana banyak bibit pelakor yang juga ngincer Anjas, hayooo... gak takut?" goda Raya.
Deg...
'iya juga ya' batin Danis
Selama ini Danis memang mulai percaya sama Anjas, tapi memang gak bisa dipungkiri pesona Anjas yang ganteng apalagi pas lagi main bola gini bikin cewek diluaran sana klepek-klepek.
Mata Danis natap Anjas yang sekarang lagi berhadapan satu lawan satu sama musuhnya berebut bola.
"Arrrgghh... Anjas!!!" teriak Danis panik, jantung Danis rasanya mau copot.
Anjas tergeletak di lapangan dengan memegang kakinya yang tadi kena tendang lawannya. Dia mengerang kesakitan. beberapa tim medis langsung membawa Anjas ke pinggir lapangan.
Semua memperhatikan gerak tim medis yang cukup lama memeriksa Anjas, mereka keliatan kebingungan dan ada yang berlari. tak lama sebuah mobil Ambulance mendekat ke tubuh Anjas.
Danis dan yang lainnya panik ngeliat Anjas dibawa ke dalam mobil ambulance, tanpa pikir panjang Danis berdiri dan pergi dari tribun penonton.
Setengah jam kemudian Danis, Raya,Nino, Fadhil,Sisil dan Dimas udah sampai di UGD tempat Anjas di larikan. Danis tak henti-hentinya nangis di pelukan Raya karena tadi kata dokter cedera yang dialami Anjas cukup berat dan harus segera di operasi. Ditambah kondisi fisik Anjas yang juga sedikit drop karena kelelahan dan tadi sempat pingsan.
Beberapa minggu ini Anjas memang sibuk, dia harus nyiapin pernikahannya, latihan sama klubnya, tanding dan beberapa kali dia harus bolak-balik Malang-Jakarta buat ikut latihan TIMNAS.
Satu jam kemudian keluarga Anjas, keluarga Danis juga beberapa rekan Anjas tiba di RS. Mereka juga kaget denger kondisi Anjas yang baru masuk ruang operasi.
***
"Yaaank..." rengek Anjas manja,
"Apasih?"
__ADS_1
"kamu tuh nemenin aku tapi sibuk sendiri" Anjas ngerasa dicuekin sama Danis yang daritadi asyik sama ponselnya.
"bentar deh, ini aku lagi chat sama orang WO, kamu gak usah manja dulu. aku gak mau nanti pernikahan kita gak seperti yang aku pengen" kata Danis tanpa natap Anjas.
"dengan kondisi aku kayak gini aja itu pasti udah ngacauin pernikahan kita yank" jawab Anjas asal.
"Mangkannya kamu cepet sembuh!"
"kamu gak apa-apa kalo nanti aku pake kursi roda?" tanya Anjas, Danis sontak menoleh ke Anjas.
"Kamu kenapa sih kog jadi pesimis gitu?"
"Habisnya kamu cuekin aku, gimana mau semangat!" protes Anjas.
"Yank, aku tuh cuma chat bentaran doang. lagian nih ya kata dokter kaki kamu pasti cepet pulih kalau kamu rajin terapinya, dokter terapis kamu yang di club juga udah janji kan mau bantu kamu sampek bisa jalan" terang Danis.
"Iya, tapi aku maunya kamu manjain aku pas sakit gini biar aku tuh makin semangat!"
"gak usah lebay deh" kata Danis sambil mendekat ke ranjang Anjas.
"Sakit yank..." rengek Anjas karena cubitan di lengannya.
"Manja!" gumam Danis.
Sudah 3 hari Anjas dirawat di Rumah Sakit pasca operasi. dan tiap hari pula Danis selalu nemenin Anjas saat pulang kerja. dan balik setelah Randy datang buat nemenin Anjas malam hari.
"Yank, aku ke kantin bentar ya pengen beli jus, gerah banget. kamu mau nitip apa?" tanya Danis sambil nata rambut Anjas yang agak berantakan.
"enggak, kamu cepetan balik sini aja" kata Anjas.
"Iya cowok manja" gumam Danis sambil melangkah keluar kamar.
Setelah beli jus dan beberapa camilan Danis balik ke kamar Anjas, tapi saat di koridor rumah sakit dia bertemu dengan Alan kakak Arka.
"Mas Alan!" sapa Danis
"Danis!" balas Alan yang juga sedikit kaget. "Kamu ngapain disini?"
"nemenin tunangan aku lagi sakit. kakak sendiri?"
"Owh... lagi nengokin Arka"
"Arka? emang Arka kenapa? sakit?" tanya Danis
Alan mengangguk, "Iya, dia koma" jawab Alan pelan.
__ADS_1
"Koma? kog bisa?" Danis kaget, terakhir ketemu dia masih baik-baik aja.
"Sekitar seminggu yang lalu dia kecelakaan sama calon istrinya, dan sekarang dia masih koma"
"Sama Mega?" Danis nutup mulutnya gak percaya "terus Mega gimana mas?"
"Mega kemaren udah sadar, tapi masih dirawat juga" jelas Alan.
"Ya Allah mas... aku gak tau kabar itu, insyallah aku jengukin mereka nanti" Alan hanya ngangguk denger omongan Danis.
Setelah itu mereka ngobrol bentar dan saling pamit. Danis balik ke kamar Anjas, sedangkan Alan pulang.
"Yaaank... lama banget sih kamu" rengek Anjas yang baru ngeliat Danis masuk kamarnya.
'Ya ampun, udah kayak punya bayi besar aku' batin Danis.
Danis jalan deketin Anjas, dan nyodorin jus ke mulut Anjas. "Nih minum dulu biar gak ngomel mulu"
"tega kamu yank, udah tau aku..." Danis nutup mulut Anjas dengan jari telunjuknya.
"Stop, kamu lagi sakit tapi mulut kamu makin bawel aja" kata Danis sambil nyium pipi Anjas, cowok itu pun senyum. Danis manyun.
"Aku tadi ketemu mas Alan, kakaknya Arka" kata Danis mau jelasin.
Denger nama Arka, Anjas menghela nafas kasar. "terus?" tanyanya kesal sambil minum jus yang dibeliin Danis. dia malas harus bahas Arka.
"Katanya Arka lagi koma" Anjas tersedak denger omongan Danis.
"Pelan-pelan yank" kata Danis sambil nepuk punggung Anjas pelan.
"Serius kamu yank?" tanya Anjas sambil benerin posisi duduknya ngadep Danis.
"Serius" kata Danis "Mas Alan bilang Arka sama Mega seminggu yang lalu kecelakaan, dan sampek sekarang Arka masih koma, kalau Mega juga sempet koma tapi sekarang udah sadar"
Anjas ngangguk-ngangguk, dia masih kaget. walaupun dia gak begitu suka dengan dua orang itu tapi dia masih punya hati. dia melirik Danis yang keliatan mikir.
"Eh yank, kita ketemu sama Arka tepat seminggu yang lalu kan? apa mereka kecelakaan setelah ketemu sama kita ya? soalnya tadi Mas Alan bilang, pas lagi di jalan mereka berdua tengkar di mobil dan kecelakaan" kata Danis sambil nutup mulutnya, matanya mulai berkaca-kaca.
"kamu gak usah mikir macem-macem yank" kata Anjas sambil narik tubuh Danis dalam dekapannya. Danis mulai terisak.
"Aku ngerasa tambah salah ke mereka kalau kayak gini yank"
"bukan salah kamu." hibur Anjas sambil belai rambut hitam Danis "besok sebelum aku pulang kita jenguk mereka dulu"
***
__ADS_1