
Cerita 44
tok tok tok
Danis dan Anjas masih sama-sama diam sambil menghadap langit jogja. Mereka daritadi hanya diam, sambil tiduran. ingat hanya tiduran. Mendengar orang yang mengetuk pintu, Anjas segera bangkit dan menuju sumber suara.
"Makan yok" ajak Anjas, sambil membawa nampan besar ke meja depan sofa panjang.
"Malas ah" jawab Danis tanpa melihat Anjas.
"ayo... ini cocok banget buat orang galau kayak kamu" kata Anjas yang kini sudah menarik tangan Danis. dengan malas Danis mengikuti Anjas.
Matanya membelalak, di atas meja sudah ada dua botol air mineral, dan dua mangkok besar sayap bumbu pedas. walaupun lagi galau, Danis tidak bisa menyembunyikan wajah mupeng(muka pengen)-nya melihat makanan pedas kesukaannya. Anjas bener-bener jago, tau banget yang dibutuhin Danis saat galau gini.
Danis hanya butuh pelukan, ice cream, ruang yang tenang, juga makanan pedas. (banyak banget... hehehe) dan semuanya itu udah Anjas lakuin ke Danis. dengan lahap juga sedikit guyonan mereka menghabiskan makanan itu. kini Danis kembali nangis, tapi bukan gegara Arka, tapi nangis karena sayap yang Anjas bawa bener-bener nampol pedasnya.
"Makasih ya Njas... kalau gak ada kamu tadi, mungkin sampek sekarang aku masih tetep nangis" kata Danis saat keduanya sudah sama-sama berdiri di pinggir gedung sambil liat pemandangan.
"uda lah... cowok brengsek kayak dia gak usah diribetin"
Danis tersenyum tipis "yang brengsek itu aku" kata Danis lagi. Anjas menoleh ke Danis, dia melihat aura kesedihan mulai muncul lagi. dia gak suka momen kayak gini, bukan Anjas banget.
"Nis... secintanya kamu sama dia, kamu juga harus pake logika. dia tuh udah selingkuhin kamu tau" kata Anjas lembut, dia tidak mau menyinggung perasaan Danis.
Danis tersenyum lagi, "Sebenernya aku cuma selingkuhan Arka, dan kemaren dia sudah tunangan sama perempuan yang kamu liat tadi. jadi yang sebenernya brengsek itu aku. Danis!" kata Danis tegas.
Anjas tidak bisa menutupi rasa kagetnya, dia bener-bener belum bisa nyerna penjelasan cewek disampingnya. "Nis...."
__ADS_1
"Iya Njas... aku tuh pelakor" kata Danis sambil menunduk, dia mulai menangis lagi. Anjas yang ngeliat itu jadi serba salah, di lain sisi dia masih kepikiran kata-kata Danis bahwa dia pelakor. saat ini Anjas hanya bisa meluk Danis, dia mengusap rambut Danis pelan. Danis sendiri masih betah menangis di depan dada bidang Anjas.
Danis memang butuh sandaran untuk meluapkan semua perasaanya, perasaan yang selama ini dia simpan sendiri, bahkan Raya sahabatnya tidak mengerti itu.
Selama ini Danis merasa dihantui rasa bersalah, tapi dia seakan tidak bisa berbuat apa-apa. dia sangat sangat takut kehilangan Arka yang selama 7bulan ini selalu memanjakannya.
Kini di pelukan Anjas, dia hanya bisa menangis, tanpa bisa berkata-kata lagi. dia tau kalau Anjas saat ini juga bingung. tapi cowok ini bertindak tepat, dia tidak banyak bertanya dan berkata, dan itu yang Danis harapkan. hanya sentuhan tangan Anjas di rambutnya membuat Danis kembali tenang. dia melepas pelukan itu.
"Maaf..." gumam Danis pelan.
Anjas hanya senyum, dia menangkup kedua pipi Danis, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Danis "jelek banget sih." kata Anjas
Kini mereka sama -sama duduk di sofa panjang. setelah adegan mewek tadi, kini Danis hanya diam, dia juga merutuki kesalahannya ngaku di depan Anjas kalau dia pelakor, dia seperti lupa bagaimana sifat Anjas selama ini ke dia.
"kamu liburan sama siapa?" tanya Anjas melepas keheningan.
"sama sahabatku"
"besok sore"
"pagi rencananya kemana?" tanya Anjas lagi. Danis hanya mengangkat bahu, karena memang dia tidak tahu, semua yang ngrencanain Mbak Sisil.
"pengennya sih ngajak kamu jalan berdua, tapi aku juga lagi sama temen aku." kata Anjas berfikir lagi. "kita jalan bareng gimana? kamu ajak temen kamu, aku juga ajak temen aku"
"gak tau juga sih, soalnya temen aku yang ngrencanain semua. nanti aku tanyain. emang mau kemana?"
"aku belum tau juga sih, nanti lah tanya mbah google" Danis ngangguk, dia jadi salting di depan Anjas, rasanya malu banget habis kejadian tadi.
__ADS_1
'memalukan banget hidup kamu Nis'batin Danis sambil terus menunduk.
"btw kamu nginep di mana?" tanya Anjas.
"M*mpus, aku lupa ngabarin mbak Sisil lagi" kata Danis, dan coba mencari hp nya. dia liat udah jam 2 pagi. gak mungkin dia pulang jam segini, yang ada mbak Sisil ngamuk. dia buka wa, banyak chat dari Mbak Sisil, Prilly dan Mita. mereka menanyakan posisi Danis. melihat itu Danis makin kalang kabut.
"Kenapa?" tanya Anjas penasaran.
"temen aku pada nyariin. tadi aku pamit ke mereka kalau aku jalan sama temen aku. gak mungkin aku balik sekarang, udah jam 2 , yang ada aku di ceramahin mbak Sisil" jelas Danis. Anjas sedikit mengerutkan keningnya.
"Yauda kamu nginep disini aja, besok baru nemuin temen kamu. lagian kamu mau ketemu mereka dengan muka ancur kayak gini?" kata Anjas sambil mencet hidung Danis.
Bener juga kata Anjas, mending dia nginep disini aja. beberapa menit kemudian mereka berdua turun ke meja reseptionis mau pesan kamar. tapi Danis sedikit cemberut karena semua kamar penuh, hari ini weekend, dan kebetulan disini ada acara wedding dan pengantin menyewa hampir semua kamar untuk tamu mereka. terpaksa Anjas membawa Danis ke kamarnya.
"Ini masih di hotel kan? kog kayak apartemen?" tanya Danis saat Anjas buka pintu. cowok disebelahnya hanya ketawa. Ruangan ini memang lebih mirip seperti apartemen, ada dua kamar yang di lengkapi kamar mandi di dalamnya, ruang tivi, dapur, ruang tamu, balkon, dan kolam renang pribadi di samping ruangan itu.
"kebetulan aja kenal sama pemiliknya, jadi dikasih tempat khusus, hehehe" jawab Anjas dengan wajah dibuat santai.
"kamu tidur di kamar aku aja" sambil buka salah satu kamar "kamar satunya uda di pake temen aku, dia lagi sakit perut tadi mungkin sekarang udah tidur" jelas Anjas.
"gak apa apa nih? terus kamu tidur mana?" tanya Danis agak ragu.
"aku gampang, udah biasa tidur di jalan. jadi sofa ini aja udah cukup nyama lah" katanya sambil senyum.
Danis ngangguk, dia sedikit gak enak sih ngrepotin Anjas terus "udah masuk" kata Anjas sambil dorong tubuh Danis masuk kamar, tak lupa dia juga nutup pintu.
cklek...
__ADS_1
Anjas mendengar suara pintu kamarnya di kunci "Anak pinter" kata Anjas sambil senyum
***