Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 70


__ADS_3

Cerita 70


"Pak Arka!" sapa seseorang dari arah berlawanan, Arka menatap orang itu dan tersenyum kikuk.


"Bu Mirna!" balas Arka, dia adalah teman dosen Arka di kampus, entah kenapa bertemu disini seperti Arka lagi ketahuan selingkuh. "Bu Mirna sedang apa disini?".


" Ini kantor suami saya, kebetulan ini mau makan siang bareng. Pak Arka sendiri ada urusan apa? karyawannya pada makan siang kayaknya" jawab Mirna santai.


"mau ketemu temen bu"


"temen cewek apa cowok hayoo... inget sama tunangan pak" kata Mirna menggoda. dulu dia pernah gak sengaja ketemu Arka dan Mega, dengan bangganya Mega bilang kalau dia tunangannya dan akan segera menikah.


Arka hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Mirna. bisa runyam kalau Mirna tau dia kesini mau nemuin Danis, yang ada bakal ada gosip tentang Arka lagi di antara para dosen kampus mereka. sama seperti saat dia tau Arka mau nikah, keesokan harinya semua dosen gempar, karena dosen muda ganteng mereka uda ada yang punya.


"yauda saya duluan pak" kata Mirna karena suaminya sudah nunggu " ingat, jaga hati pak" katanya sambil cengengesan dan berlalu pergi.


'Apa-apaan bu Mirna itu' batin Arka sambil geleng-geleng.


Akhirnya Arka pergi ninggalin kantor Danis, dia milih nyari aman, mungkin nanti malam dia akan ngajak Danis ngobrol.



***


Anjas milih pulang ke rumah orang tuanya, daritadi mamanya telpon nyuruh Anjas pulang. dan itu pasti juga masalah gosip gak jelas tentang dia dan Tasya. Anjas memang jarang pulang tapi komunikasinya dengan keluarga gak pernah lewat, terutama dengan mamanya, karena dia wanita tercantik di keluarga Danis, dan tentunya yang paling perhatian sama anak-anaknya.



"Assalamualaikum Ma, Mama..." panggil Anjas sambil celingukan nyari mamanya. tak lama telinga Anjas terasa panas, tangan lembut mamanya jewer telinga Anjas dengan keras.


"kamu tuh ya, udah jarang pulang, malah asyik pacaran sama artis, udah bandel ya sekarang. nih rasain" kata Mama Anjas gemes.

__ADS_1


"Ampun Mama... sakit ini" kata Anjas sambil ngusap telinganya yang merah, Mamanya malah berkacak pinggang.


"Mama gak suka ya Njas, anak ganteng Mama digosipin kayak playboy gitu"


"tapi dia cantik kan Ma" kata Anjas sambil mengangkat kedua alisnya. "udah artis, seksi, bohay, duit banyak"


"Anjaaaaas....!" teriak Mamanya, Anjas menutup kedua telinganya sambil ketawa. "kalau emang kamu serius sama dia, buruan kenalin ke Mama sama Papa. cepet halalin"


"widiiiih... Mama main ngegas aja, santai dong Ma" bela Anjas sambil meluk mamanya dari samping, seamburadulnya Anjas, dia memang manja banget ke Mamanya.


"Mama gak mau sampe kamu kebablasen Njas, kalau emang serius ya cepet di sah in" kata Mama Anjas masih ngedumel.


"iya Ma, secepetnya bakal Anjas sah in. tapi bukan sama si Tasya, itu cuma gosip Ma. Mama sabar dong, doain Anjas biar jodohnya gak lari-lari"


Mamanya mengernyit " serius kamu gak ada hubungan sama artis itu?" tanya Mama Anjas tajam, Anjas ngangguk.


"terus kamu uda punya pacar?" Anjas hanya menggeleng denger pertanyaan Mama. dia sama Danis memang belum pacaran, tapi Anjas udah pede aja kalau Danis mau jadi pacarnya.


"lah si Mama..." kata Anjas sambil selonjoran di sofa.


"kamu normal kan Njas?"


"Maksud Mama?" saking kagetnya Anjas langsung duduk tegak.


"Mama sama Papa tuh curiga kamu belok, wajah ganteng, uang ada. tapi kog ya masih jomblo. kebanyakan gaul sama temen bola kamu yang cowok semua tuh bikin Mama khawatir"


"tapi gak gitu juga Ma, Anjas normal kog, normal banget malah. Mama tenang aja"


"Gimana mau tenang, umur kamu tuh udah pas Njas buat nikah. lagian kamu pikir, mas Randy, kakak kamu itu dulu nikah seumuran kamu ini. Mama denger Nino sahabat kamu juga mau nikah"


"Mama denger gosip darimana sih, kog aku malah baru denger Nino mau nikah" kata Anjas enteng, dia malas kalau harus debat sama mamanya masalah beginian.

__ADS_1


"dia kan uda punya pacar, pasti bentar lagi juga nikah" debat Mamanya.


"iya iya... ntar Anjas gak usah pacaran, langsung nikah aja"


"Gitu Mama lebih setuju" kata Mama sambil ngasih jempol. kemudian keduanya diam.


"Mama tuh ngerasa kesepian aja Njas, meskipun Mama sering ikut Papa keluar kota, tapi tetep aja saat dirumah gini Mama sendirian. kamu jarang pulang, kakak kamu milih tinggal di Bali sama istri dan anaknya. kamu gak kasian sama Mama"


"Sendirian gimana sih Ma, ada mbak Jum, mbak Yem, pak Rustam, pak sodik. Masa kurang rame sih?" tanya Anjas sambil pasang wajah serius.


"Anjaaas !!! kamu nih ya" Mamanya bener-bener gemes ngeliat tingkah Anjas yang makin ngeselin.


"iya iya Ma... aduh..." kata Anjas sambil ketawa.


"Apa kamu perlu Mama kenalin sama anak temen Mama?" kini giliran Mama Anjas yang senyum jahil, dia paling tau anaknya gak suka becandaan kayak gini.


"Mama gak usah mulai deh" kata Anjas mulai jengah.


"mangkannya kamu gerak cepat. apa kita lomba cepat-cepatan aja nih?" kata Mama Anjas sambil nyenggol lengan anak tampannya.


"gak pake. Mama tenang aja deh. terima beres, percaya sama Anjas"


"Mama belum bisa percaya kalau belum ada bukti. kamu tuh udah bikin Mama ragu"


"dih... Mama. Eh Ma, kita jalan yuk, ntar aku traktir ice cream deh Ma" rayu Anjas.


"kamu pikir Mama bocah ingusan kamu rayu pake ice cream, kalau kamu ngrayunya sama berlian baru..." belum selesai Mamanya ngomong, Anjas udah nyela.


"baru mau?"


"baru Mama pikirin" kata Mamanya sambil berlalu pergi ke dapur ninggalin Anjas yang masih bengong.

__ADS_1


***


__ADS_2