
Cerita 99
"cantik!" gumam Anjas
"mingkem Njas!" bisik Randy yang duduk tepat di belakang Anjas, susah payah dia menelan saliva.
"kampreto emang si Randy, ganggu aja" gerutu Anjas dalam hati.
Setelah acara inti Selesai mc mengarahkan para tamu untuk makan, kedua keluarga besar larut dalam obrolan ringan menambah keakraban.
Beda dengan Anjas yang daritadi selalu nyari kesempatan buat mepet Danis, gadisnya itu keliatan masih marah, walaupun selama acara Danis selalu tersenyum. Saat Danis lagi sendirian, Anjas narik tangan Danis menuju kamarnya, dan menutup pintu pelan.
"Apaan sih, sakit tau!" bentak Danis dengan suara pelan. Anjas nglepas pegangannya, dia menatap mata tunangannya itu.
Perlahan Anjas narik Danis dalam pelukannya, hal yang dia inginkan dari beberapa hari yang lalu. Danis masih diam, tanpa balas pelukan Anjas.
"Udah dong yank marahnya" bisik Anjas lembut "Kangen kamu!"
Ada sedikit senyum dari bibir Danis, tapi dia terlalu gengsi untuk membalas Anjas, egonya masih tinggi.
"Yank... Maafin aku, janji besok bakal jelasin semua. Sekarang udahan dulu ya marahnya, nyesek yank dicuekin kamu."
"bukannya kamu yang nyuekin aku duluan!" kesal Danis
"iya yank, iya... Maaf."
"lepasin ah, gak enak kalau ada yang liat"
"maafin aku dulu baru lepas"
Danis menghela nafas panjang, rasanya dia masih pengen ngambek ke Anjas, tapi dia juga gak mau biarin Anjas meluk dia di kamar seperti ini, apalagi diluar banyak orang dan pasti pada nyariin mereka berdua. gak lucu kalau nanti langsung dinikahin.
"iya udah"
"beneran ya udah gak marah!"
"iya"
"peluk dulu"
"ini kan peluk!" bentak Danis makin kesel.
"mana ada, kamu diem gitu"
lagi-lagi Danis menghela nafas, perlahan tangannya balas meluk Anjas, dan mengusap punggung Anjas lembut.
"kangen yank" rengek Anjas manja
"gak usah sok manja, gak pantes!" jutek Danis, Anjas senyum.
"kamu kangen aku gak?" tanya Anjas sambil nglepas pelukannya, matanya menatap mata indah Danis. perlahan Danis mengangguk, Anjas senyum.
"Love You tunangankuuuu..." kata Anjas sambil ngusap pipi Danis.
blusshh...
'nih cowok bikin jantungku perang aja' batin Danis
"love you too cowok ngeselin" kata Danis sambil nyubit perut Anjas.
"Aaaww..." Anjas nangkap kedua tangan Danis, "ngeselin apa ngangenin?"
Danis menyebikan bibirnya "dua-duanya" jawabnya lirih, tapi bikin Anjas senyum lepas.
Anjas nyium tangan Danis, dan kembali natap mata tunangannya.
"Yank.. pengen cium ini" kata Anjas sambil ngusap bibir Danis.
__ADS_1
Danis memutar bola matanya jengah "gak usah mesum ya! buruan sana keluar, ntar dicariin!" Danis dorong badan Anjas.
Anjas ketawa pelan sambil berjalan ke arah pintu, saat mau buka pintu dia berbalik dan mengedipkan sebelah matanya. genit.
"edan nih cowok!" gerutu Danis yang bikin Anjas makin ketawa.
***
Keesokan harinya seperti biasa Anjas jemput Danis di kantor, Danis yang seharian ini digodain terus sama temen kantornya milih cepet-cepet kabur nyamperin Anjas.
"buruan yank" kata Danis sambil naik di boncengan Anjas.
"kenapa sih?"
"di target anak-anak minta traktiran"
"yaudah sih suruh ke cafe semua, aku traktir" Danis susah menelan salivanya, dia mukul punggung Anjas.
'kenapa aku jadi ngerasa pelit banget denger omongan Anjas' batin Danis
"besok aja. sekarang aku pengen kencan dulu" omongan Danis meskipun rada jutek tapi bikin Anjas senyum-senyum.
"oke Jutekku Sayank. peluk dong!" cubitan ganas Danis berhasil mendarat di pinggang Anjas, tapi tangannya megang erat pinggang Anjas.
Keduanya lebih banyak diem, entah kenapa rasanya agak canggung, sepertinya mereka berdua ngalamin sindrom gugup karena sekarang mereka berganti status jadi tunangan.
Setelah cukup lama muter-muter Anjas ngajak Danis ke hotel Prama, Danis tahu keluarga Anjas pemilik hotel ini, tapi ngapain juga mereka harus kesini, bikin Danis parno aja.
"gak usah mikir macem-macem, aku ada urusan bentar disini jadi sekalian ajak kamu" terang Anjas, Danis manyun.
"kenapa manyun gitu? udah pengen? sabar ya dua bulan lagi kita sah, bebas deh mau ngapain aja di dalam"
"apaan sih, mesum mulu pikirannya"
"kamu juga kan" goda Anjas sambil nyolek hidung Danis. Anjas megang tangan Danis masuk ke dalam.
dia pernah beberapa kali ke hotel ini, itu juga urusan kerjaan, terakhir sama Randy juga Sisil saat ngerjain Anjas.
beberapa menit kemudian Anjas nyamperin Danis, dia ngeliat Danis sambil senyum.
"apa?" tanya Danis
"tunanganku cantik!" puji Anjas
"gombal banget"
"seriusan, masak iya aku bilang tunanganku jelek" kata Anjas sambil nyedot minuman Danis yang tinggal dikit.
"makan malamnya nanti aja ya, lumayan kenyang kan"kata Anjas sambil senyum. tapi bagi Danis itu adalah ejekan.
'nyindir nih, Sialaaan' batin Danis
Anjas mesenin burger, kentang goreng sama jus alpukat, dan semua udah ludes di makan Danis.
Setelah sedikit cek cok manja, Anjas ngajak Danis ke atap hotel, Danis natap sekitar, gelap. Sampai akhirnya pelan-pelan lampu dinyalakan sama Anjas, Danis senyum.
"suka?" tanya Anjas, Danis ngangguk. hotel ini cuma ada 4 lantai, tapi bangunannya cukup luas.
Danis inget, beberapa bulan yang lalu saat di jogja, Anjas juga ngajak Danis ke atap hotel, dia baru ngeh kalau itu juga hotel Prama. Brarti itu juga hotel milik keluarga Anjas. Bedanya kalau di hotel Prama jogja atap emang sengaja disulap sebagai cafe. kalau disini seperti tempat privat.
ada rumah atap yang cukup besar, satu sofa besar dan beberapa sofa kecil juga satu meja lesehan tanpa atap. Danis jadi inget drama korea yang sering ia tonton, karena suasana ini mirip.
"dalemnya belum jadi, sekarang kita duduk disini dulu aja ya" ajak Anjas sambil duduk di sofa besar. Danis duduk di samping Anjas.
"inget waktu di jogja" gumam Danis, Anjas ngelirik Danis dan langsung narik tubuh Danis dalam pelukannya.
"biar gak kedinginan yank" kata Anjas sebelum Danis mulai protes, Danis senyum dan balas meluk Anjas erat.
__ADS_1
"katanya taaruf, kog pelukan" kata Danis nginget ejekan Nindi.
"biarin lah, nanggung" elak Anjas sambil ketawa. mereka berdua kembali diam.
"Maaf ya yank, beberapa hari kemarin bikin kamu marah" kata Anjas akhirnya. Danis nglepas pelukan Anjas.
"jelasin!" perintah Danis.
Anjas mulai bercerita tentang Clara, dan ceritanya sama persis seperti kata Nino. untuk masalah ponselnya yang gak aktif juga alasannya sama seperti kata mbak Sisil. Anjas pengen fokus biar bisa cepet balik Malang, maksut Anjas bener tapi dia lupa kalau sekarang ada seseorang yang khawatir banget sama keseharian Anjas, yaitu Danis.
"kamu tau apa yang bikin aku beberapa hari kemaren nangisin kamu?" tanya Danis sambil natap mata Anjas.
"karena Clara juga aku yang gak ada kabar" jawab Anjas
"itu juga, tapi yang bikin aku sakit banget cuma satu"
"apa?"
"kamu bentak aku di depan umum" kata Danis tegas. Anjas ngeliat mata Danis mulai berkaca-kaca.
'Dasar Anjas bodoo!' batin Anjas nyesel
"maaf yank, aku salah. aku emosi" kata Anjas sambil ngusap air mata Danis yang mulai keluar.
"aku kaget, kamu yang selama ini selalu hangat, tengil cuek tapi sekali marah langsung bentak-bentak kayak gitu. aku takut tauk" jelas Danis.
"maaf... aku gak bakal bentak kamu kayak gitu lagi yank, aku bakal berusaha berubah"
Anjas memang anaknya humoris, santai juga cuek, tapi sekalinya marah dia bakal meledak, gak peduli sekitar.
"aku gak masalah kamu marah sampai bentak aku, apalagi kalau emang aku yang salah. tapi aku ngerasa sakit banget ketika kamu marah dan bentak aku di depan orang lain."
"Maaf" lirih Anjas sambil nunduk.
"lain kali kalau kamu mau marah dan bentak aku tahan sampai kita berdua di tempat yang sepi. cuma ada kita berdua" kata Danis sambil ngangkat dagu Anjas "aku gak mau orang lain mikir buruk tentang kita. urusan kita cuma kita yang tau"
Anjas senyum, dia paham maksut Danis, dia gak mau aibnya di ketahui orang lain "makasih ya udah ingetin"
"kamu calon imamku yank, aku yakin kamu ngelakuin itu karena ada alasannya. tapi aku tetep seorang Danis yang egois dan kekanakan. kalau kamu bentak aku kayak kemaren yang ada aku jadi makin emosi juga"
"iya... kita saling ngingetin ya yank" kata Anjas natap Danis dengan sendu. Anjas nyium kening Danis lembut. "yank..."
"Stop!" Danis dorong badan Anjas, dia tau maksut Anjas minta cium yang lain. "sabar, aku mau kamu gak nyium-nyium aku sampek nanti kita sah!"
"apa???"
"ujian yank"
"penyiksaan itu yank, cuma cium doang gak bakal minta lebih yank"
"keputusanku mutlak. peluk boleh, cium kening sama pipi boleh, yang lainnya NO!"
"Apaan sih yank, cium bibir boleh lah"
"enggak, nurut atau gak semuanya"
"iya iya jahat banget. kamu kan tau kamu cewek pertama yang aku cium bikin candu tauk." protes Anjas "Mentang-mentang kamu udah mahir masalah persosoran sama yang dulu-dulu!"
"kog malah larinya kesitu sih," kesal Danis ngerasa kesindir "baru tadi minta maaf, sekarang bikin kesel lagi"
"iya iya iya maaf" kata Anjas masih cemberut.
"mau pelukan apa masih pengen lanjut debat" kata Danis sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.
"peluk" kata Anjas sambil langsung meluk tubuh mungil Danis. Mereka berdua sama-sama ketawa.
"love you Daniskuuu..."
__ADS_1
"Love you Tengilkuuuu.."
***