
Cerita 79
"Mau berangkat sekarang mbak?" tanya orang itu. Danis yang udah sadar dari lamunannya mlengos, dia masuk ke dalam rumah lagi.
pletak...
dia jitak kepala adeknya yang dari tadi ngeliat dari ruang tamu. Dimas malah ketawa, begitu juga dengan Mamanya.
"udah sana kasian abang ojolnya" lerai Mama Danis.
"Dimas ngeselin Ma" protes Danis.
"Ngeselin, tapi seneng kan dapet ojol ganteng" goda Dimas lagi.
"Haisssh..." decak Danis. "Danis berangkat ya Ma" Pamit Danis sambil nyium tangan Mamanya.
"Saya juga pamit tante" kata orang di ambang pintu.
"Sejak kapan driver ojol ikut pamitan" kata Danis ketus, mereka yang denger omongan Danis ketawa, termasuk driver ojol itu yang ternya Anjas.
***
"Kamu kenapa sih nyuekin aku seminggu ini?" tanya Anjas saat mereka berdua lagi dijalan.
"terserah aku dong" jawab Danis masih dengan nada sinisnya. denger jawaban Danis, Anjas sedikit emosi, dia ngelajuin motornya kencang, dan motor itu bukan ke arah rumah Sisil tapi ke arah lain.
"Ngapain kesini sih?" protes Danis, sekarang mereka baru nyampek di cafe ruang baca.
Tanpa jawab pertanyaan Danis, Anjas narik tangan gadis cantik itu ke lantai dua. dia mendudukan Danis di sofa, sedangakan Anjas berlutut di depan Danis agar posisi mereka setara. dia ngeliat mata Danis tajam, Danis yang ditatap seperti itu jengah sendiri dan ngeliat ke arah lain.
"Kamu kenapa?" tanya Anjas sambil narik dagu Danis agar balik natap dia.
' please... jangan gini Njas' batin Danis
Danis masih diam, meskipun wajahnya menghadap Anjas, tapi mata Danis berkeliaran kemana-mana.
"Dan..." panggil Anjas lembut.
"kamu pikir aja sendiri" jawab Danis sinis.
"Masalah Tasya, semua udah beres Dan, cuma tinggal nunggu waktunya aja" terang Anjas.
"ck..." Danis berdecak dan membuang muka.
__ADS_1
"Dan... kamu gak kangen aku? aku kangen kamu banget banget tau!" kata Anjas sambil nangkup kedua pipi Danis.
"Bodo amat" kata Danis sambil nyoba ngelepasin tangan Anjas. "Ayo ke rumah mbak Sisil"
"males ah, udah gak mood ke sana" kata Anjas, dia berdiri dan duduk di sebelah Danis. dia membuang nafas kasar, dan menutup matanya.
"Ayo aku bilang" kata Danis masih ketus.
"kamu telphon Nino aja, suruh jemput kesini. aku gak ikutan. capek" kata Anjas malas.
"uda deh jangan ngambek, kayak bocah aja" bentak Danis. Anjas membuka matanya dan ngeliat ke Danis.
"Apa? bocah? kalau aku bocah kamu pasti bayi, yang tiba-tiba marah, nangis tanpa ada yang tau sebabnya" kata Anjas, denger omongan Anjas bikin Danis nahan tawa.
"Beneran kamu gak ikut ke Bromo?" tanya Danis sambil ngelirik Anjas. "Padahal aku kangen kamu" gumam Danis pelan, tapi jelas bisa di denger Anjas.
Sesaat suasana hening, Anjas yang daritadi ngeliat Danis masih berusaha buat nyerna omongan Danis yang terakhir. dengan wajah cengoknya Anjas garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"gimana-gimana?" tanya Anjas.
"Tau ah, males" kata Danis sambil beranjak dari sofa Anjas dan berjalan keluar ruangan.
"Dan tunggu..." kata Anjas, bukan ngejar Danis dia malah menuju ke laci kecil sebelah ranjang, setelah menemukan yang dicari dia langsung ngejar Danis yang sekarang udah sampek bawah.
Dijalan mereka berdua masih setia dengan pikirannya masing-masing. Anjas masih gak percaya dengan pendengarannya tadi, dia ragu sama omongan Danis.
"Sory... ketiduran tadi" jawab Danis tanpa rasa bersalah.
Danis duduk di tengah antara Sisil dan Raya, mereka mulai ngobrol. Sedangkan Anjas yang daritadi masih sibuk dengan pikirannya milih duduk agak jauh dari yang lain.
Mobil jeep Hardtop yang mereka sewa buat ke Bromo akhirnya datang, tepat pukul satu malam mereka mulai perjalanan ke Bromo. kapasitas jeep yang mereka sewa emang pas buat 6 orang.
Mbak Sisil dan Mas Fadhil milih duduk berdua di depan, sebelah driver. sedangkan di bagian belakang duduknya berhadapan-hadapan. Raya duduk disamping Nino, berhadapan dengan Danis dan Anjas.
"Kalian berdua kenapa sih? canggung banget. kayak baru kenal aja" celetuk Nino yang daritadi risih ngeliat Anjas dan Danis yang duduk jauhan.
"Berisik" bentak Danis dan Anjas barengan. Dengar bentakan keduanya bikin Nino malag ngakak.
"Mbak Sil, kayaknya ada yang butuh diceramahin nih!" kata Nino.
"Males nyeramahin mereka. yang satu plin plan, satunya lagi lelet. kesel ngeliatnya" kata Sisil nyindir Danis dan Anjas.
"iya, kayaknya emang mereka gak cocok deh mbak" timpal Raya.
__ADS_1
"iya, bosen denger curhatan terus, gak ada kemajuan!" kata Sisil lagi. "Ray, coba comblangin sama temen kamu deh"
"ogah, kasian temen aku. palingan juga digantungin kayak jemuran juga" kata Raya sambil ngelirik Danis dan Anjas gantian. si objek malah tetep asik sama ponsel masing-masing.
"baru berangkat udah berasa dingin sih yank" kata Raya manja ke Nino.
"Gimana gak dingin sih, tuh depan kita dua makhluk yang biasanya hangat berubah jadi es, sini yank aku peluk" kata Nino sengaja manas-manasin Anjas dan Danis.
bahkan kini Nino meluk Raya dari belakang dengan mesra.
"Mbak Sil, dinginnya berasa sampek situ gak?" tanya Raya
"Iya Nih Ray, untung aja sama suami jadi bisa nyuri-nyuri kehangatan lah" kata Sisil yang emang lagi dipeluk Fadhil.
Anjas ngelirik Danis, meskipun dia udah pake jaket keliatan banget kalau Danis nahan dingin. "Dan... mau dipeluk juga" Anjas nyoba menawari, meskipun dia berbisik tentu yang lain denger.
"enggak. malas dipeluk sama pacar orang lain mulu." kata Danis sinis.
"Kamu lagi ngomongin Arka?" tanya Anjas polos.
Danis menoleh ke Anjas, "bukan, tapi kamu. kamu kan juga udah punya pacar, tuh si Artis ganjen!" kata Danis lagi.
Mereka berempat kecuali driver yang denger perdebatan Danis dan Anjas malah ketawa ngakak.
"makan tuh Njas, mau meluk aja udah ditolak, apalagi mau yang lain" timpal Nino yang tadi sempet denger curhatan Anjas.
"dasar monyet lu. gak ngebantuin malah nyungsepin" kata Anjas sambil ninju lengan Nino yang masih ketawa.
"kamu sih Njas, ganjen banget jadi cowok. Rasain di cuekin Danis." timpal Raya "Eh, bukannya emang dari dulu mulai kenal udah dicuekin Danis"
"kalian berdua emang pasangan lucknut ya!" kata Anjas geram.
"Udah nyerah aja Njas, kayaknya Danis udah bahagia tanpa kamu. Seminggu kamu tinggal dia malah keliatan bahagia, nikmatin deh jomblo abadi kamu" Sisil ikut nimpali.
"Terusin deh, puas-puasin kalian ngebully aku" kata Anjas jengkel.
"kamu juga, butuh kehangatan gitu masih gengsi" kata Anjas sambil meluk bahu Danis.
"aku atau kamu yang butuh kehangatan?" tanya Danis masih setia dengan ucapan sinisnya.
plaaak...
"lagian suka banget manfaatin keadaan" kata Danis sambil mukul lengan Anjas. Cowok ganteng itu manyun, meskipun tak ada penolakan dari Danis tentang pelukan di bahunya. Sedang yang lainnya ketawa puas ngeliat tingkah gak jelas mereka.
***
__ADS_1
Jangan lupa komentar sama like nya dong gengs... biar makin semangat nih nulisnya... hiks, hiks, hiks...