
Cerita 95
"Udah dong yank ngambeknya, daritadi dicuekin terus akunya" rengek Anjas saat mereka lagi duduk di taman deket rumah Danis.
"Biarin, kayaknya emang bener kata Mama kamu, mending aku mikir-mikir lagi deh nikah sama cowok super Tengil kayak kamu!"
"lah... jangan dong yank, maafin lah"
"lagian kamu tuh, malu banget tauk yank. nyebelin"
"Hahaha..." Anjas bener-bener suka ngeliat gadisnya cemberut kayak gini.
"tega kamu sekongkol sama Nindi buat ngerjain aku. malu banget dong. pasti kamu sama Nindi ngetawain aku dibelakang kan"
"tapi kamu beneran gemesin yank kalau lagi cemburu"
"kamu sengaja bikin malu aku di depan Nindi ya?"
"kan aku sekalian nunjukin ke dia yank, kalau sekarang aku uda punya kamu, yang bucin banget ke aku" kata Anjas bangga "biar dia juga nyesel udah ninggalin cowok super kayak aku"
"owh... jadi masih ada hubungannya sama masa lalu?" Danis makin geram.
"apaan sih yank... love you..."
"tauk ah... Bodo amat" kata Danis kesel.. Anjas makin ngakak.
drrttt...drrttt...
Ada panggilan masuk di ponsel Danis, saat ngeliat nama pemanggil Danis senyum.
"Diem!" ancam Danis ke Anjas, cowok itu kesel.
__ADS_1
"Hallo mas?"
" --- "
"owh gitu, bisa kog"
" --- "
"iya mas, makasih ya"
Danis jawab telphon itu dengan lembut dan penuh senyum, beda saat dia nangepin Anjas tadi.
"Sapa?" tanya Anjas sinis
"itu klien aku"
"klien ganjen itu? ngapain?"
"gak usah dateng"
"dih kog gitu? ini tuh penting yank, kan dia klien kantor, kebetulan juga aku yang ngurus project dia, wajib hadir lah"
"aku gak mau yank kamu jadi deket sama cowok sial*n itu lagipula bla... bla... bla..."
Danis sangat hafal petuah dari Anjas, dia akui emang semua perkataan Anjas ada benernya, tapi kan dia cuma ketemu sama klien, lagian pasti juga rame disana. itu cuma akal-akalan Anjas aja yang lagi cemburu.
***
Anjas dibikin geregetan sama Danis, tadi saat dia jemput ke kantor ternyata dia udah pergi, dan temennya bilang dia lagi ke hotel Prama nemuin klien. Entah kenapa Anjas khawatir banget, mana daritadi ponsel Danis gak bisa dihubungi.
Secepat kilat Anjas nyampek di hotel Prama, dia langsung ke meja recepsionis. Anjas dibuat makin khawatir saat cewek itu bilang gak ada privat party seperti yang Danis bilang. Anjas uring-uringan. pikirannya udah kacau, hanya hal negatif yang ada di otaknya.
__ADS_1
"kamu pernah liat cewek ini masuk?" tanya Anjas lagi sambil nunjukin foto Danis.
"owh iya Pak, satu jam yang lalu cewek itu dateng berdua sama Pak..." belum selesai cewek itu ngomong udah Anjas sela.
"berdua?? kamar nomer berapa?" Recepsionis itu mulai mengecek layar monitor mencari sesuatu.
"305 Pak, tapi..." lagi-lagi cewek iti belum selesai bicara dan Anjas udah lari pergi.
"Danis, kenapa kamu senekat ini sih? sama cowok ke hotel. jahat kamu" guman Anjas
Emosi Anjas udah muncak, dia benar-benar marah, ngerasa dibohongi dan dihianati. tapi di lain sisi ada rasa khawatir banget, gimanapun juga dia sangat mencintai Danis, dia gak mau gadisnya kenapa-napa.
"pasti Danis dijebak. dia gak mungkin ngelakuin ini dengan sukarela! brengs*k!" umpat Anjas, rahangnya mengeras, tangannya mengepal, siap mengahajar cowok siala*n itu.
Saat nyampek kamar tujuannya, dia membatu, menatap nanar pintu kamar itu, dia gak bisa bayangin hal apa yang lagi terjadi di dalam sana. Anjas mengacak rambutnya kasar. rasa penasaran yang besar mendorong tangan Anjas buat ngebuka pintu itu.dan...
ceklek...
Mata Anjas terbelalak mendapati pemandangan di depannya. lututnya melemas, jantungnya berdebar gak karuan, keringat dingin Membanjiri tubuh Anjas.
Dia ngeliat gadis pujaannya lagi duduk manis di pinggir ranjang, tersenyum manja ke cowok di depannya. Sedangkan cowok itu berdiri di depan Danis sambil megang pundak Danis. membelakangi Anjas.
"Brengs*k...!!!" teriak Anjas
"Anjas?!" Danis kaget.
Anjas bener-bener gelap mata, dia gak nyangka bisa ngeliat pujaannya lagi di kamar hotel dengan cowok. Anjas berlari dan memutar tubuh cowok itu, tangannya sudah mengepal di depan muka cowok itu.
Deg...
__ADS_1
***