Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 93


__ADS_3

Cerita 93


Bukannya egois, tapi emang Danis ngerasa seneng aja saat Anjas bisa terus nemenin dia. cowok itu lagi kena hukum gak bisa ikut tanding bola, jadi saat temen se timnya keluar kota buat tanding dia masih stay di Malang.


Hampir tiap hari Anjas jemput Danis ke kantor, jalan-jalan atau sekedar makan malam. Mereka keliatan makin kompak dan romantis. Urusan perjodohan sedikit terlupakan, dan Arka seperti hilang sama sekali gak ada kabar.


Anjas tadi ngabari Danis kalau dia gak bisa jemput, akhirnya dia milih jalan ke depan kantor, mau pesen ojol.


"Danis!"


"eh pak Randy" cowok itu salah satu klien baru Danis di kantor, dia baru datang dari Bali kemaren lusa. dan sejak itu dia udah ngrecoki Danis.


"mau pulang?"


"iya" jawab Danis singkat.


Beberapa kali Randy chat Danis, sekedar ngobrol basa basi, hampir semua orang kantor tau Kalau Randy naksir Danis, itu yang ngebuat Danis risih. Sikapnya selalu berlebihan ke Danis.


Randy emang ganteng, dia juga kaya, dia anak pemilik hotel bintang 5 yang punya beberapa cabang di indonesia. temen kantor Danis banyak yang suka, tapi gak buat Danis, dia udah punya Anjas, dia sadar ada hati yang harus dijaga, dan sebisa mungkin dia selalu ngehindari Randy.


"gak di jemput sama cowok yang bawa motor itu?" kemaren dia ngeliat Danis dibonceng cowok.


"dia pacar saya pak, kebetulan hari ini gak bisa jemput"


"bareng sama saya aja yuk!"


"terimakasih pak, saya naik ojol aja"


"ayolah, ada hal yang mau saya omongin ke kamu" Danis mengernyitkan dahi "masalah kerjaan"


Kalau udah bahas kerjaan Danis gak bisa nolak, karena Danis emang ditugasin sama bosnya untuk ngehandel masalah Randy, salah satu klien yang juga punya saham di kantor Danis.


Randy ngajak Danis ke cafe yang cukup romantis, Seperti janjinya mereka memang bahas masalah kerjaan, tapi lama-lama ke masalah pribadi juga.


"kamu udah lama pacarannya?"


"Sebulan lebih kayaknya pak"


"kalau lagi diluar gini panggil aja Randy, atau Mas Randy aja deh biar lebih romantis" Danis hanya senyum tipis.


'Romantis pala lu!' batin Danis


"ngomong-ngomong kapan ada rencana putus?" tanya Randy, Danis yang lagi minum spontan batuk.

__ADS_1


"kalem aja cantik" goda Randy Sambil senyum.


"kita uda ada rencana nikah pak, eh mas"


"kan masih rencana, dipikir dulu deh, kalau gagal saya siap gantiin kog" kata Randy pede. Danis hanya diam terus lanjut makan.


"dia pemain bola kan? kamu gak mikirin masa depan kamu?"


"maksutnya?"


"setahu saya pemain bola itu gajinya dikit, kadang juga gajinya suka molor cairnya, belum lagi sering ditinggal tanding keluar kota. betah kamu"


"saya nerima pacar saya apa adanya pak, saya malah makin cinta saat ngeliat dia main bola"


"gak usah ngomong gitu. pemain bola itu ceweknya di mana-mana." Randy ngompori. "kamu gak pengen punya pacar kerja kantoran, kemana-mana bawa mobil, ganteng, gaji banyak, ya kayak saya gini lah"


ini yang Danis gak suka dari Randy, sejak kenal dia selalu ngebanggain diri sendiri. masalah harta lah, fisiklah, semuanya. bikin Danis eneg, kalau gak inget dia klien penting mungkin udah ditonjok sama Danis.


"Cinta, hati dan hidup saya udah mentok sama mas pacar" kata Danis dengan senyum bangga.


'menarik' batin Randy


Setelah ngobrol dan makan Randy nganter Danis kerumahnya. Sampai rumah Danis ngeliat motor Anjas udah nangkring di depan rumah. dengan cepat dia masuk rumah.


"Waalaikumsalam" jawab Anjas jutek "di anter sapa?"


"itu klien aku, tadi habis meeting diluar, kita searah jadi dia nganterin" jawab Danis bohong, tadi dia sempet drama sama Randy. Danis nolak keras dianter pulang, tapi Randy ngeyel dengan segala alasan, terpaksa Danis nurutin.


"cowok?"


"iya" jawaban Danis bikin Anjas makin kesel.


"gak usah kesel gitu mukanya. kata anak-anak dia suka sama aku, tapi aku gak selera, lagian dia udah seumuran mbak Sisil. tampangnya sih ganteng tapi sifat sama sikapnya jelek. bukan selera aku"


"di depan aku aja kamu masih muji dia ganteng"


"yaelah yank, tapi kan aku gak suka"


"kalau gak suka kenapa mau di anter?" Anjas mulai ngegas.


"masalah kerjaan doang yank, dia klien penting, juga punya saham di perusahaan aku. kebetulan aku yang handel projek itu."


"aku tetep gak suka kamu deket sama cowok manapun"

__ADS_1


"cemburu nih?" tanya Danis sambil noel hidung Anjas.


"iyalah, jangankan dia, kamu jalan sama Nino, mas Fadhil bahkan Dimas pun aku bakal cemburu. karena mereka semua cowok!"


"kalau aku jalan sama cewek gak cemburu?"


"ya gaklah, emang kamu lesbong?"


"ngawor!" Danis nimpuk kepala Anjas dengan bantal. "kalau gak cemburu kenapa tiap aku jalan sama Raya atau mbak Sisil kamu suruh cepet balik?"


"aku kan khawatir yank, mereka tuh suka jodoh-jodohin kamu sama cowok lain. kesel aku!"


Sejak tau Anjas dijodohin Raya sama Mbak Sisil sering godain Anjas. Mereka ngenalin Danis sama temen-temen cowok mereka, iseng aja sih biar Anjas kebakaran jenggot.


"ngomongin jodoh, gimana Nindi?"


"masih kekeh dia, malah kata Mama dia pengen cepet tunangan"


"apa?" teriak Danis "minta digundulin emang tuh cewek!"


"kita langsung ketemu Mama aja yuk yank, kebetulan kakak aku juga lagi di Malang, sekalian kenalan"


"Yank, kalau Mama Papa kamu terus kakak kamu juga gak ngrestuin kita gimana?"


"kita kawin lari aja gimana? atau kayak ide aku kamu hamil anak aku. pasti langsung ngrestuin mereka"


"ngasih ide tuh yang cerdas dikit dong yank!"


"hehehe... kamu gak usah terlalu pikirin ya, pokoknya kamu terus percaya sama aku. soalnya aku lagi ngrencanain sesuatu"


"apa?"


"aku bakal pura-pura nerima perjodohan ini, tapi nanti aku bakal bikin Nindi sama keluarganya ilfell ke aku"


Danis ngeliat Anjas "kayaknya tanpa kamu ngrencanain itu Nindi sama keluarganya pasti ilfell ke kamu. liat deh, cemburan, mesum, jelek, bawel, tengil. apasih yang mereka suka dari kamu? heran"


"kamu tanya aja sama cewek ini." kata Anjas sambil nunjuk hidung Danis, "ngeselin"


"Love you Sayank!" ucap Danis lembut sambil senyum.


"gitu dong nyenengin. jadi gemes!" kata Anjas sambil nyubit hidung Danis.


***

__ADS_1


__ADS_2