Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 64


__ADS_3

Certia 64


Danis sedang duduk di halte depan kantornya, hari ini Dimas bilang mau jemput, walaupun Danis agak curiga tapi dia tetep nunggu, pasalnya Dimas gak pernah nawarin diri buat jemput Danis, biasanya Danis yang minta itu pun harus drama dulu.


ANJASTENGIL calling...


DANIS : Ya Njas


ANJAS : lagi ngapain?


DANIS : baru balik kantor, lagi nunggu Dimas jemput


ANJAS : kok gak minta jemput aku?


DANIS : gengsi dong kalau minta, tawarin lah (Danis senyum sambil nunduk)


ANJAS : gayaa... kangen aku gak?


DANIS : iya kangen, kangen pengen nampol


ANJAS : nampol pake bibir? mau dong


DANIS : Paan sih gak jelas banget (Danis senyum-senyum)


ANJAS : jangan senyum lah, ntar banyak yang suka.


(Danis cuma senyum, tanpa balas omongan Anjas )


ANJAS : kamu pengen banget aku jemput


DANIS : gak usah, kamu pasti juga sibuk (Danis terus nunduk sambil nendang-nendang angin pelan)


ANJAS : kamu ngapain sih nendang-nendang gitu? mau nyaingin aku main bola?


__ADS_1


Danis mendongak, noleh kanan kiri, dan dia senyum. dia liat Anjas lagi duduk di atas motornya, gak jauh dari halte tempat Danis duduk. dia pun mengakhiri panggilannya.


Anjas sengaja jemput Danis, dia juga yang minta tolong Dimas buat nelphon Danis, takutnya Danis uda pulang duluan. Anjas nganter Danis pulang. Sampai di rumah ternyata gak ada orang. Mama dan Papa Danis pergi ke rumah sodaranya, sedang Dimas dia bilang ada rapat BEM di kampus.


Entah gimana awalnya sekarang Anjas dan Danis lagi sholat jamaah di mushala kecil dalam rumah Danis. Anjas yang keliatan urakan nyatanya begitu fasih saat jadi imam. dan Danis berasa senang, dia selalu suka moment seperti ini. entah kenapa sholat jamaah berdua dengan cowok selalu Danis idam-idamkan dari dulu. Selesai sholat mereka beriringan jalan ke ruang tamu.


"kita jalan atau disini aja?" tanya Anjas saat mereka udah sama-sama duduk. "kamu gak mau ngusir aku kan?"


"pengennya sih ngusir kamu" kata Danis sambil senyum miring "udah disini aja, kayaknya juga mau ujan. pintunya aku buka, kalau kamu aneh-aneh aku bakal teriak "


Anjas ketawa "emang ada tampang jahat di wajahku"


"jahat sih enggak, mesum iya" jawab Danis ngasal. Anjas ngakak.


"Arka uda gak pernah gangguin kamu kan?" tanya Anjas tiba-tiba, agak ragu Danis menggeleng.


Danis sebenernya bingung, harus cerita atau enggak ke Anjas tentang Arka. dia takut Anjas bakal emosi kalau dia tau secara gak langsung Danis masih ngasih kesempatan buat Arka. gimanapun juga sampai detik ini Danis masih berharap ke Arka. dan dia ngerasa bersalah ke Anjas.


Danis menghela nafas "Njas... kamu gak perlu kali ngelakuin kayak gini"


"apa? orang aku diem gak ngapa-ngapain" jawab Anjas, dia juga masih sibuk dengan ponselnya.


Anjas menoleh ke cewek disampingnya, tatapannya hangat "aku gak ngerasa kepaksa Dan, aku juga gak masang target buat hubungan kita. jadi kamu gak usah mikir macem-macem"


"gimana ya, ngerasa gak enak aja sama kamu aku tuh, berasa ngrepotin terus"


"ini nih yang bikin aku males, aku tuh gak pernah ngerasa kamu repotin. dan aku ngerasa seneng aja saat ngelakuin apapun sama kamu" kata Anjas sambil ngasih senyumnya lagi.


"kalau nanti aku tetep gak bisa lupain Arka gimana?" tanya Danis sambil nunduk.


"itu hak kamu Dan... aku emang gak suka sama Arka, tapi aku juga gak mau maksa kamu benci sama dia. aku cuma pengen ngasih tau kamu kalau Arka bukan cowok satu-satunya. kamu bisa mulai ngebuka hati kamu, bukan cuma buat aku tapi siapapun itu". Anjas terlihat serius sekarang, gak ada wajah tengil seperti biasa.


" semalem kamu bilang hati kamu uda mulai perang, kamu uda mulai suka sama aku?" tanya Danis sambil natap mata Anjas, dia seperti ingin mencari sesuatu disana.


Anjas meraih tangan Danis dan memainkannya, lalu dia mengenggam tangan itu, dan menunduk "aku gak tau, aku cuma ngerasa seneng deket kamu, pengen liat kamu senyum, pengen selalu nemenin kamu" Anjas menghentikan omongannya, mereka sama-sama diam.

__ADS_1


"apa itu tandanya aku udah suka sama kamu?" tanya Anjas sambil menatap balik Danis.


Obrolan mereka terhenti saat pesanan grabfood Anjas datang. Anjas pesan makanan untuk mereka berdua, dan dia juga pesan pizza untuk keluarga Danis. rasanya tidak sopan kalau dia makan tapi gak beli buat keluarga Danis. Mereka berdua pun makan sambil bercanda.



"seminggu ini aku bakal di Malang terus, jadi kamu harus luangin waktu kamu buat aku" kata Anjas saat mereka udah selesai makan dan duduk santai.


"emang aku mau? males banget" kata Danis sambil julurin lidahnya.


"harus mau lah, perintah calon pacar" kata Anjas sambil ngelirik Danis.


"masih calon uda segitunya" kata Danis manyun. Anjas senyum.


"tuh bibir minta di cium?" spontan Danis langsung nutup bibirnya. Anjas senyum lagi.


"mungkin kedepannya aku bakal diluar kota terus, kamu kan tau kerjaan aku jalan-jalan mulu. nanti repot kalau kamu kangen, mangkannya kita manfaatin waktunya" kata Anjas sambil nyubit hidung Danis.


"kamu kali yang kangen aku" protes Danis.


"mau banget dikangenin" kata Anjas sambil ngacak rambut Danis pelan.


"kamu kalau di luar kota suka ganjen ya ke cewek-cewek?" tanya Danis sambil ngeliat Anjas yang senderan di sofa.


"enggak, cewek-ceweknya aja tuh yang ganjen ke aku"


"sama ganjennya kali, banyak yang bilang kalau pemain bola itu ceweknya dimana-mana" kata Danis ikutan senderan.


"tapi gak semua pemain bola kayak gitu kan, termasuk aku," kata Anjas sambil sender di bahu Danis, dia meraih tangan Danis, dan memainkannya.


Danis tersenyum tipis, matanya ngeliat tangan Anjas yang terus megang dan mainin tangannya. Danis ngerasa tangan Anjas ngalirin sebuah kenyamanan dan rasa hangat.


"jangan berubah ya Dan..." kata Anjas akhirnya. Matanya ngeliat Danis sendu. Danis tersenyum tipis.


" emang aku power ranger!" maki Danis sambil dorong tubuh Anjas.

__ADS_1


"KDRT lagi nih. pembalasan lebih kejam lo ya" kata Anjas sambil menggelitik Danis, membuat cewek cantik itu tersenyum geli. dan setelah itu perang gelitik di mulai.


***


__ADS_2