Hidup Tapi Mati

Hidup Tapi Mati
Cerita 26


__ADS_3

Cerita 26


Danis menoleh kanan kiri, daerah sini memang masih banyak orang lalu lalang. masih jam 9 juga, belum terlalu malam. tapi Danis tidak punya teman daerah sini, angkot atau taksi jarang lewat. pesan ojol juga batre lowbat. Danis ngerasa makin gila.


Hampir setengah jam Danis duduk sambil minum es teh di depan minimarket. Danis masih celingak celinguk, sapa tau ada orang yang dia kenal, meskipun itu hanya sia-sia. daerah ini jauh dari rumah juga kantornya. Danis ingat, dia bisa minta tolong buat nge-charge hape di dalam minimarket.


Saat Danis mau masuk ke dalam, ada seseorang yang manggil "Danis!" teriak orang itu.


Danis yang denger teriakan cowok itu kaget, apalagi dia hafal milik siapa suara itu. sebelum Danis kabur cowok itu memegang lengannya.


"Jangan kayak gini Nis" rengek cowok itu, ya dia Arka.


"Lepasin" Kata Danis. "Aku lagi pengen sendiri Ka"


"Tapi ini udah malem"


"masih malem kan, belum subuh" kata Danis kesal, dan kembali duduk minum es teh nya. wajahnya kini sudah mulai tenang, dia juga udah sempet numpang kamar mandi minimarket, jadi dia bisa cuci muka. meskipun masih keliatan habis nangis, setidaknya gak terlalu parah lah.


"Nis..."


"Aku masih belum mau ngomong sama kamu, mending kamu pulang"


Arka menghela nafas panjang "Oke, aku gak bakal ganggu kamu, tapi kamu bisa nyetir mobil kan? bawa mobil aku. tadi mbak Sisil nelphon, dia khawatir"


Danis melirik Arka, dia inget pernah minjem hapenya Arka buat nelphon mbak Sisil, kayaknya di save sama mbak Sisil. Danis galau.


"Atau kamu pengen nelphon Mbak Sisil?" tanya Arka sambil ngasih hape ke Danis.


Akhirnya Danis milih bawa mobilnya, dia sengaja ninggal Arka disana, biar dia tau gimana rasanya ditinggal malam-malam dan jalan sejauh itu. tapi Danis lupa kalau Arka bisa pesan ojol, Danis aja yang agak lem*t.


Dia mengarahkan mobilnya ke rumah mbak Sisil. dia lagi gak pengen pulang ke rumah, apalagi dia lagi bawa mobil Arka, bisa-bisa Danis disemprot banyak pertanyaan sama keluarganya, belum kalau ada tetangga atau keluarganya Arka tau, bisa tambah riweh hidup Danis.


Sisil yang tadi udah di telphon sama Danis terlihat sudah nunggu di teras rumahnya, melihat ada mobil yang mau masuk, dia berjalan dan membukakan pagar.


"Kamu nih pinter banget ya, udah kerjaan ditinggal gitu aja, telphon nangis-nangis bikin orang spaneng. sekarang malah cengengesan" semprot Sisil

__ADS_1


"Sory mbak. jangan marah-marah dong, sini aku peluk" kata Danis sambil menyodorkan tubuhnya.


"Ogah" kata Sisil sambil berjalan masuk ke rumah. Danis manyun.


"Kamu ada masalah apa sih Nis? ngrepotin banget tau gak?" Danis yang ditanya cuma diem.


"Kalo ada masalah tuh ngomong, gak diem aja. bikin yang lain khawatir" kata Sisil sambil minum air putih.


"Kamu uda makan?" Danis ngangguk. "Udah nelphon orang rumah?" Danis menggeleng


"Aaarrgghh Danis..." kata Sisil sambil menelphon Mamanya Danis.


Karena ini Danis seneng kalau deket sama Sisil. dia seperti punya seorang kakak, yang akan mengurusnya disaat yang dibutuhkan.


"Mbak pernah gak ngerasain bahagia dan sakit bersamaan?" Tanya Danis saat mereka berdua duduk di sofa ruang tivi.


" kalau emang kamu bahagia gak bakalan kamu ngerasain sakit. kalau kamu ngerasa sakit, brarti itu bukan kebahagiaan. cuma fatamorgana" kata Sisil sambil mencet chanel tivi.


"Aku ngerasa kayak zombi mbak.. hidup tapi mati.hatiku udah mati, kehilangan arah."


"Gak usah sok drama deh. harusnya tuh sekarang kamu mikir. mana yang terbaik buat kamu. bukannya ngomong gak jelas kayak gini"


"emang" jawab Sisil santai.


"aku boleh cuti ya?" bantalan sofa tepat mendarat di muka Danis, dia meringis.


"Gak sekalian resign sono. dasar."


"tega banget sih mbak. orang galau dilempar bantal. suruh resign lagi"


"Biar otak kamu jalan lagi. cuta cuti gak nyadar selama ini kita kerepotan ngerjain proyek kamu"


"Dih, orang udah aku kerjain"


"kamu ngerjainnya gak pake ot*k, yang ada klien pada kabur"

__ADS_1


"Enak dong mereka kabur, kita jadi gak lembur" kata Danis sambil tertawa maksa.


"Sekalian aja bakar tuh kantor, biar kita semua gak kerja. dasar ed*n" kata Sisil sambil pergi ninggalin Danis.


"Nih..." Sisil ngasih coklat ke Danis


"Weee... coklat mahal, tumben"


kata Danis sambil buka bungkus coklat, dan memakannya.


"Oleh-oleh dari suami" jawab Sisil enteng. Danis berhenti ngunyah dan menelan coklat buru-buru.


"Mas Fadhil pulang?"


"Tuh lagi nungguin di kamar" kata Sisil sambil pasang muka datar.


"*****... aku balik deh mbak" kata Danis sambil berdiri.


"kamu mau kemana? mau bikin aku repot lagi?"


"aku mau balik, gak enak sama mas Fadhil. mbak kenapa gak bilang dari tadi sih? aku kan jadi gangguin waktu kalian"


"Ya emang sih, untung sadar" kata Sisil. Danis manyun, dia gak mau ganggu waktu mbak Sisil dan suaminya yang emang jarang banget bisa ketemu.


Saat Danis udah keluar rumah, tiba-tiba dia balik, "Mbak tukeran mobil ya"


Sisil mengernyitkan dahinya "apalagi sih Nis?" dia bingung kenapa harus tuker mobil segala.


"Biar orang rumah gak bawel mbak. ya ya ya" rengek Danis.


"Orang kalau ngrepotin tuh sekali-kali, ini malah tiap hari" kata Sisil sambil ngasih kontak mobil ke Danis.


"Besok bawa ke kantor ya mbak mobilnya"


"mau kamu kembaliin ke Arka?"

__ADS_1


"Enggak, mau aku jual" kata Danis sambil berlalu pergi.


***


__ADS_2