
Cerita 109
Hari ini Anjas bakal balik main di lapangan hijau, sesuai janjinya ke Danis dia cukup hati-hati saat bermain, meskipun dia masuk di babak ke dua tetep aja dia bisa mencuri semua perhatian dengan satu gol tunggalnya.
Gol tunggal Anjas membawa timnya masuk ke Final, melawan Persija. Jelas Anjas sangat bahagia, tapi tidak dengan Danis.
Cewek itu ngambek setelah tahu jadwal pertandingan Anjas, Laga Final itu berbarengan dengan hari akad nikah mereka, gimana dia gak uring-uringan.
Danis dan Anjas sedang di pingit, mereka gak boleh ketemu sama sekali, walaupun komunikasi masih jalan. Dan tiap hari pembahasan mereka masih seputar laga Final.
Hari ini Anjas dan Danis melaksanakan akad nikah di rumah Danis. Sejak pagi kedua keluarga sudah disibukan dengan acara sakral tersebut. Akad nikah sendiri akan dilaksanakan sore hari.
Danis baru selesai di rias, dia menggunakan kebaya warna putih yang keliatan elegant ditambah dengan hijab yang menutupi rambutnya, Danis mutusin sejak sekarang dia bakal istiqhomah pakai hijab. Dan ini semua tanpa sepengetahuan Anjas, biar ini jadi kejutan.
Ceklek...
Tampak kedua orang tua Danis serta Dimas masuk di kamar pengantin Danis, mereka juga sudah rapi, tinggal menunggu jam. Ketiga orang itu masuk dengan senyum mengembang melihat Danis yang tambah cantik.
"Ma... Pa..." sapa Danis
"Gadisnya Mama Papa udah mau nikah, rasanya Mama masih belum percaya, Anak manja Mama udah dewasa" Danis senyum, dia mengerti arah pembicaraan Mamanya.
"kayak baru kemaren Papa gendong kamu kemana-mana, mulai hari ini yang gendong kamu uda cowok lain" goda Papa Danis.
"Papa ih..." manja Danis
"Setelah nikah, kamu harus jadi istri yang taat ke suami kamu, layani suami kamu dengan baik, turutin permintaaannya. raih surga kamu sayank"
"Iya Ma..."
"Mama gak pernah ngajarin kamu apa-apa, tapi Mama yakin anak Mama tahu bagaimana harus bersikap" ucap Mama Danis, sambil berkaca-kaca.
"Mama kamu adalah contoh nyata seorang istri, tiru sikap baik Mama kamu saat menghadapi Papa, insyaAllah Anjas pria bertanggung jawab.Setelah kalian nikah Semua tanggungjawab udah Papa serahin ke Anjas, dia berhak segalanya atas kamu, Papa selalu berdoa yang terbaik buat kamu sayank" tambah Papa Danis sambil ngusap lengan anak gadisnya.
Danis mulai nangis, dia inget semua kebaikan kedua orang tuanya, dan setelah ini dia akan menjadi seorang istri, jelas ada rasa sedih dan bahagia.
"Makasih ya Pa, Ma... maaf selama ini Danis belum bisa jadi anak yang nurut sama Papa Mama."
Danis dan Mamanya sama-sama nangis, mereka meluapkan semua rasa, hanya mereka yang tahu gimana rasanya. Papa Danis hanya bisa mengelus kepala kedua wanita yang sangat dia sayangi.
Dimas hanya melihat, walaupun di hatinya juga ada rasa bahagia juga sedih karena kakak yang selama ini selalu tengkar sama dia akan menikah.
***
"Sah!!!..." ucap para saksi
"Alhamdulilah"
ijab qobul selesai dilaksanakan, Anjas dengan tegas melafalkan kata ijab, dan kini Anjas dan Danis resmi menjadi suami istri. Setelah membacakan doa, penghulu memberi isyarat agar mempelai wanita keluar kamar, karena saat ijab hanya Anjas yang berhadapan dengan penghulu.
Danis berjalan pelan dituntun Mamanya, semua mata memandang wajah ayu Danis. keseharian Danis yang jarang pakai make up membuat dia sangat berbeda, jauh lebih cantik. apalagi dengan hijab di kepalanya.
__ADS_1
Anjas yang melihat istrinya berjalan sambil menunduk bengong, dia sangat kagum dengan kecantikan Danis, apalagi sekarang Danis pakai hijab, kecantikannya berlipat.
Setelah menandatangani berkas-berkas nikah, Danis dan Anjas saling memakaikan cincin, lanjut dengan Danis mencium punggung tangan Anjas, serta balasan ciuman di kening Danis.
Acara akad nikah sederhana sudah selesai, para tamu sudah banyak yang pulang, karena memang hari ini cuma akad nikah.
Anjas menyusul Danis yang sudah lebih dulu masuk kamar, Danis terlihat berdiri sambil melihat kaca, ekor matanya menatap wajah tampang Anjas.
Anjas meluk Danis dari belakang, dia nikmatin wangi tubuh Danis, Anjas makin menenggelamkan kepalanya di bahu Danis.
"Sayank... aku udah bilang belum?" tanya Anjas
"Hmmm?"
"Kamu sangat cantik yank,"
Danis senyum, dia membalikan badannya, saling berhadapan.
"Kamu juga"
"masak aku cantik, yang bener kamu" cibir Anjas, Danis nyubit hidung Anjas pelan.
"Ganteng dong suami aku"
"Ciiieeee suami" keduanya senyum, Danis melingkarkan tangannya di leher Anjas, sedangkan Anjas meluk pinggang Danis.
"kamu pake hijab pas akad aja, ato seterusnya?"
"senyamannya kamu aja, tapi aku bersyukur kalau kamu pake hijab seterusnya"
"iya"
"Cantik"
"udah lama kali"
Keduanya sama-sama diam, ada rasa gugup disana, status suami istri bikin mereka salah tingkah sendiri. perlahan Anjas mencium bibir Danis. ciuman biasa tapi mempunyai arti yang luar biasa. tak ada nafsu disana, hanya penyaluran rasa sayang.
"Aku pergi bentar boleh ya" ijin Anjas sambil ngusap pipi Danis. Ada rasa gak tega disana.
Perlahan Danis ngangguk, "berangkat sama siapa?"
"Sama manajer aku" kebetulan manager bola Anjas juga jadi saksi pernikahan.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Danis sendu.
Anjas ngelirik jam dinding di kamar Danis, "Lima belas menit lagi"
"Bantuin aku ganti baju dulu ya, ribet" pinta Danis, Anjas senyum aneh.
"Sini" bukan langsung bantuin Danis, Anjas malah meluk Danis.
__ADS_1
"Yank ayo, nanti kamu telat"
"Bentar doang yank, ini lagi ngisi semangat" kata Anjas sambil tangannya mulai meraba kemana-mana.
Perlahan dia nyium bibir Danis, awalnya hanya ciuman biasa yang kemudian berubah semakin dalam, dengan l*matan yang terus mendobrak pertahanan Danis. Keduanya saling lepas ketika dirasa butuh oksigen.
"Maaf ya yank, terpaksa ninggalin kamu dulu," kata Anjas, Danis hanya ngangguk pasrah.
"Jangan cemberut gitu dong, kamu ikhlas kan ngijinin aku tanding? berat banget yank kalau kamu kayak gini".
" Iya, aku gak apa-apa. kalau kamu gak tanding ntar siapa yang bayarin aku shoping" goda Danis.
"Lah itu uda pinter" kata Anjas sambil nyubit hidung Danis.
Selanjutnya Anjas ganti baju yang akan Dia pakai ke stadion, terus gantian bantu Danis nyopot baju kebayanya.
"Ribet amat sih yank, ini dikepala kamu banyak banget jarumnya, kamu bukan mbak kunti kan yank?"
"Sembarangan. udah gak usah banyak coment"
Anjas menelan salivanya kasar setelah satu persatu kancing kebaya terbuka dan menampakan badan Danis yang hanya memakai daleman. "Kamu sengaja godain aku ya yank, ngasih hukuman ke aku?"
"dih, mana berani aku ngehukum kamu, ini tuh vitamin yank, biar kamu mainnya tambah semangat, menang dan bisa cepet pulang" kata Danis menggoda.
"Asyeeeeeem" Anjas ngacak rambutnya kasar. Danis ketawa sambil jalan ke kamar mandi.
Anjas masih setia nunggu Danis ganti baju, dia mencoba mengalihkan perhatiannya. Saat Danis udah selesai ganti, Anjas berdiri. dia melihat Danis sudah memakai gamis plus hijab yang senada.
"Cantiknya istri Anjas" kata Anjas sambil ngelus kepala Danis. "Aku berangkat dulu ya, doain bisa juara"
Danis ngangguk, "iya suami bawelku"
"tunggu aku pulang, jangan tidur dulu" kata Anjas sambil meluk Danis.
"Iya udah sana, ditungguin daritadi" kata Danis dorong tubuh Anjas keluar kamar.
Saat mereka berdua keluar kamar, semua mata melihat ke mereka, bikin penganten baru itu salah tingkah.
"Lama amat sih, ditungguin tuh" kata Nino sambil nunjuk arah luar.
Ternyata diluar sudah ada suporter yang nungguin Anjas lengkap dengan atributnya, mereka semua sudah siap di atas motor. entah tahu darimana mereka kalau Anjas disini. yang jelas suporter itu terdengar rame dengan suara yel-yelnya. bikin orang kampung waspada.
Setelah pamit Anjas langsung masuk ke dalam mobil, sebelumnya dia sempet memberikan salam hormat serta senyum ke arah suporter yang telah setia menunggunya.
Melihat moment itu Danis berkaca-kaca, ternyata suaminya dicintai banyak orang, dan Danis bangga akan hal itu.
***
__ADS_1