
Cerita 107
Danis masih tetap berdiri di depan pintu rumah Anjas, berkali-kali dia gedor pintu berharap kekasihnya akan luluh tapi nyatanya gak ada hasil. Danis gak paham, kenapa Anjas jadi semarah ini, apalagi sampek nuduh dan ngelakuin hal kayak tadi.
Mereka berdua sering tengkar karena cemburu dan hal lainnya, tapi kali ini Danis bener-bener ngeliat sisi lain Anjas, dan dia nyesel bikin Anjas semarah ini.
Gadis cantik itu terus menangis, dia takut Anjas bakal ngebatalin pernikahan mereka. Kepalanya terasa berat, badannya mulai kedinginan karena hujan gerimis. Dia inget terakhir kali makan tadi siang, dan sekarang udah jam 10 malam.
Anjas keluar dari kamar mandi, kelakuan nakalnya ke Danis tadi berakhir di kamar mandi, dia menuntaskannya sendirian. Tingkah kecil Danis sangat mengundang nafsu Anjas, dan jujur dia tadi udah gak bisa nahan, mending dia usir Danis sebelum pikiran gilanya terlaksana.
Di luar masih hujan, sebenarnya agak berat nyuruh Danis pulang sendirian, tapi dia tahu Danis bawa mobil walaupun hujan dia yakin Danis bakal nyampe rumah dengan selamat. Perlahan Anjas buka pintu rumahnya, berniat turun ke bawah ngechek cafe yang udah mau tutup.
"Danis!!..." teriak Anjas
Jantung Anjas seakan berhenti, dia ngeliat kekasihnya gak sadarkan diri di depan pintu. Secepat kilat Anjas gendong Danis ke dalam rumah. tubuhnya sangat dingin, wajahnya pucat. Anjas ngerebahin Danis di ranjangnya. Dia mulai nelphon dokter kenalannya.
"kamu kenapa sampek kayak gini sih yank..." gumam Anjas sambil ngusap pipi Danis lembut.
Beberapa menit kemudian dokter datang, dan langsung meriksa Danis, tak lupa dia juga masang selang infus di tangan Danis.
" Dia sakit apa Rey?" tanya Anjas penasaran.
"cewek kamu kelelahan aja, kayaknya dia lagi stres banget, ditambah dia juga dehidrasi." terang Dokter Reyhan, teman Anjas.
"parah banget sampek di infus juga?"
"enggak sih, biar gak beresiko aja, cuma satu kantong aja buat nambah energi. kalau sampek 3 jam dia masih belum sadar langsung kamu bawa ke Rumah sakit. Kita periksa lagi"
Anjas ngusap wajahnya kasar, dia gak nyangka tindakannya tadi bikin Danis kayak gini. Anjas emang marah, tapi mana tega dia ngeliat Danis lemah kayak gini.
Dokter Reyhan pulang setelah nglepas infus Danis. wajah Danis udah mulai seger kena cairan infus. Kini tinggal mereka berdua, Anjas natap wajah cantik Danis, dicium seluruh wajah Danis lembut, dia ngerasa bersalah.
"Sayank... bangun, gini banget kamu bales aku. mending kita debat lagi deh daripada kamu diem gini" ucap Anjas sambil noel-noel pipi Danis. tangan satunya masih genggam tangan Danis erat.
Beberapa menit kemudian Danis mulai mengerjapkan matanya, dia ngeliat wajah kusut Anjas. Seperti mimpi.
'Ya Allah, bangun tidur aja langsung kebayang wajah Anjas, nyiksa banget' batin Danis.
Anjas senyum, tapi Danis menggelengkan kepalanya dan langsung nutup mata. perlahan dia buka mata lagi, masih ada Anjas. Danis mukul kepalanya keras.
"Kenapa? nyesel yang diliat pertama aku? pengennya liat siapa?" cibir Anjas.
Mata Danis melotot, dia gak mimpi, di depannya beneran Anjas. cowok itu senyum, Danis nangis.
"lah... malah nangis" Anjas bingung "Sshhh... udah gak usah nangis. ntar pingsan lagi, seneng banget bikin aku khawatir"
__ADS_1
"kalau dengan pingsan bikin kamu merhatiin aku lagi, aku gak masalah pingsan terus" ucap Danis polos.
"Sembarangan nih mulut, minta dicium kayaknya?" tanya Anjas sambil napuk bibir Danis pelan.
Danis malah ngangguk, Anjas bingung dia garuk kepalanya.
"maksutnya ngangguk apa? cium?" tanya Anjas.
"iya..." jawab Danis gak tau malu. Anjas ketawa.
"kayaknya udah sembuh, pulang sono" goda Anjas.
"gak mau. pengen tidur sini" manja Danis.
"ntar kalau kita keciduk, terus langsung dinikahin gimana?"
"biarin, jadi kamu gak ada alasan buat batalin pernikahan kita" ucap Danis sendu. Anjas buang nafas kasar.
Tangannya ngusap lembut kepala Danis, hatinya sakit denger ucapan Danis. Sama sekali gak ada niat di hatinya buat batalin pernikahan, itu hanya luapan emosi sesaat.
"mau peluk?" tanya Anjas lembut.
Danis ngangguk, dia berusaha bangun dibantu Anjas, tanpa aba-aba Danis langsung meluk Anjas erat. dia sangat butuh pelukan Anjas, hatinya hampa karena Anjas marah.
"Maaf yank, aku salah. Kamu jangan marah lagi, aku takut yank..." kata Danis mengiba, dia nangis lagi.
Danis ngelepas pelukannya, dia tatap wajah tampan Anjas "tapi kamu salah paham, aku gak ngapa-ngapain sama Arka yank"
"Oke, sekarang jelasin" pinta Anjas sambil ngerapiin rambut Danis.
"Arka emang nemuin aku di kantor, dia ngajak ke paralayang tapi beneran kita cuma ngobrol, emang aku salah gak ijin dulu ke kamu. Dia cuma pamit ke aku, terus kita makan, muter-muter bentar dan pulang. jalannya lumayan macet jadi sampek malem. kamu percaya sama aku yank" jelas Danis
Meski Anjas masih jengkel tapi dia tahu Danis jujur, karena sebelumnya dia udah nelphon Arka sesaat sebelum Danis siuman. Anjas rela nunjukin diri yang pencemburu di hadapan Arka, supaya masalahnya dengan Danis cepat selesai.
Anjas masih diam dengan tampang dinginnya, sengaja bikin Danis geram. tangan Danis udah goyangin bahu Anjas.
"Yank... uda dong marahnya, kamu gak kasian liat aku lemas lunglai gak berdaya kayak gini"
Anjas melengos, Danis memutar matanya jengah, dia mulai mengontrol emosinya, dia mengambil nafas dalam.
"Oke, aku rela ngelakuin 'itu' sekarang, asal kamu percaya dan tetep nikahin aku" ucap Danis sendu, wajahnya menunduk.
Anjas senyum tipis, dia raih dagu Danis ke atas "ngelakuin 'itu' apa?"
"Ya 'itu' " kata Danis sambil ngeliat arah lain.
__ADS_1
"Liat sini, 'itu' apa?" tanya Anjas lembut.
"Yang tadi mau kamu lakuin ke aku" kata Danis malu "Tapi kamu jangan kasar, yang lembut biar aku juga nikmatin"
Anjas ngakak "tadi aja nolak, sekarang nawarin" Anjas nyentil dahi Danis pelan.
Danis memonyongkan bibirnya "adek pasrah bang" goda Danis sengaja sambil ngusap pipi Anjas lembut, dengan tatapan menggoda. dia tahu Anjas udah gak marah.
"gak ada akhlak emang nih calon bini, bikin tegang mulu" gumam Anjas.
"adek suka yang tegang-tegang bang" rayu Danis sambil tangannya beralih ngeraba dada Anjas.
"lemes banget nih mulut, siapa yang ngajarin sih?" gemes Anjas sambil nyubit pipi Danis.
"Kamu lah" jawab Danis sambil ketawa ngakak.
"Seneng banget kamu bikin aku panas dingin. gak puas tadi udah bikin aku keramas malem-malem pas cuaca dingin kayak gini"
"mangkannya dong kita keramasnya bareng-bareng, biar anget" kata Danis sambil meluk lengan Anjas.
"Mending kamu pingsan lagi sono" kata Anjas sambil dorong kening Danis biar rebahan lagi. "Curiga aku, kayaknya tadi kamu pingsannya boongan deh, cepet banget sembuhnya"
Danis senyum "Marahnya kamu itu yang bikin aku sakit, dan cuma lembut plus perhatiannya kamu yang bisa langsung bikin aku sembuh"
"duh meleleh hati abang dek. sini peluk lagi" kata Anjas sambil dekap badan Danis. "Maafin aku yank, udah gak percaya ke kamu"
"aku yang salah, dari awal gak ijin sama kamu"
"jangan diulang lagi" kata Anjas ngelepas pelukan sambil nyelipin rambut Danis di belakang telinga.
"Iya yank" ucap tegas Danis "Lagian Arka juga mau ke Jerman katanya, gak bakal gangguin kita lagi"
"Gak usah balik sekalian" gumam Anjas pelan
"ngomongnya jelek ih"
"Sapa tau kan dia jodohnya cewek Jerman, jadi netap di sana, gak balik ke sini deh" kata Anjas sambil senyum jahat.
"Kamu tahu kalau dia sama Mega beneran putus?"
"Mega udah curhat semua ke aku" jawab Anjas enteng.
Danis natap Anjas tajam "Sejak kapan kamu sedeket itu sama Mega? pake acara curhat segala?" tanya Danis dengan mode jutek.
'Matilah... apalagi ini " batin Anjas
__ADS_1
***