
Cerita 94
Anjas beneran ngelakuin rencananya, dia ngajak Nindi jalan, awalnya Anjas gak setuju Danis ikutan, tapi setelah Danis mewek-mewek palsu akhirnya Mereka jalan bertiga.
"Njas, kamu ngajakin aku kencan atau nyuruh aku jadi obat nyamuk?" omel Nindi
Saat ini mereka lagi duduk bertiga di cafe ruang baca, Anjas bener-bener mager ngajakin dua cewek itu nongkrong di cafe lain. takut mereka pada cakar-cakaran, kan malu. kalau mereka cakar-cakaran di cafe ini rencananya Anjas mau sekalian ngurung mereka berdua di rumah lantai atas.
"ngarep banget kencan sama pacar orang!" gumam Danis yang sengaja dikerasin.
"dia calon tunangan aku ya. inget itu" kata Nindi lagi "kamu kapan sih Njas mau putusin dia?"
"enak aja putusin. kamu tuh yang pergi jauh-jauh sana!" Danis gak mau ngalah.
"udah-udah gak usah tengkar. anggep aja kalian istri pertama sama kedua aku. jadi yang rukun ya" kata Anjas sambil senyum.
"gak akan!" jawab kedua gadis itu barengan. Anjas makin ketawa.
"kompaknya" ledek Anjas, kedua cewek itu saling natap.
"terus tujuan kalian apa ngajak aku kesini? mau mesra-mesraan di depan aku? gak ngaruh!" kata Nindi kesel.
Anjas geleng-geleng, dia gak nyangka Nindi sekarang jadi berubah gini, ya meskipun keras kepalanya tetep. tapi dulu dia tipe cewek yang kalem, penurut. kalau ada yang minta bantuan ke dia selalu di iyain. lah... kenapa jadi nginget Nindinya yang dulu sih. Nindinya? Upps...
"Haiiish... kalau bukan gegara perjodohan gila ini aku juga gak bakal mau mesra-mesraan di depan kamu" Danis ikutan emosi.
Begitulah seterusnya, dua cewek itu saling sindir, saling menjelekan. Dan Danis dibuat jengah saat Nindi nyoba godain Anjas, ngobrol tentang masa lalu mereka, bersikap manis, dan tersenyum cantik. Danis cemburu.
Pertemuan tiga orang itu bukan cuma sekali, tapi lebih dari tiga kali. Bukannya perjodohan gagal karena Nindi ilfell tapi yang ada sekarang Nindi makin deket dan ganjen sama Anjas. bahkan Anjas dan Nindi pernah pergi makan berdua aja, itu karena Danis harus meeting sama Randy.
Iya Randy, cowok itu juga makin getol godain Danis, sering juga dia ngirimin bunga atau kado ke kantor juga ke rumah Danis. Anjas yang tau itu marah besar, tapi dia mati kutu saat Danis bawa nama kantor, gimanapun juga itu kerjaan Danis, dan Anjas gak boleh sembarangan.
Malam ini Anjas lagi nonton bareng tim sepakbolanya yang lagi tanding lawan Persib Bandung. dia milih ikut nimbrung di rumah Danis. nonton bareng Mama Papa juga Dimas adek Danis.
Sepanjang pertandingan mereka berlima kelihatan heboh, dan tidak berhenti jadi komentator. Anjas kelihatan santai, tapi Danis tahu ada kesedihan di hatinya karena gak bisa ikut main. sesekali Danis mengelus punggung Anjas, memberi kekuatan.
"Yank, kayaknya Sekarang kita ikutin ide kamu aja. aku udah males urusan sama si mulut pedes!" kata Danis selesai nonton bola.
"ide? ide yang hamil duluan?"
"haiiish... bukan, itu yang ketemu langsung sama Mama kamu"
__ADS_1
"oke ayuk!"
"enak nya kapan?"
"besok sore gimana? kalau weekend biasanya pada ngumpul dirumah"
Danis ngangguk.
***
Keesokan harinya Danis udah tampil cantik dengan gaun santai selututnya. kalau bukan paksaan Mamanya Danis gak bakal mau pake gaun, menurutnya pakai an ternyaman adalah jeans dan kaos.
Anjas gak berenti senyum, dia terpesona dengan kecantikan Danis. dia ngerasa beruntung bisa dapetin cewek cantik luar dalam seperti Danis.
"aku gugup yank." kata Danis saat mereka baru sampai rumah Anjas. "kalau nanti aku di usir gimana?"
"tenang aja,kalau kamu diusir tetep aku anter pulang kog"
plaaak...
Danis nabok lengan Anjas keras, saat genting kayak gini masih bisa aja becanda.
"Kakak kemana sih Ma? di telphon juga gak di angkat"
"tadi katanya ada urusan mendadak"
Anjas keliatan kesel, pasalnya dia emang udah niat banget mau ngenalin Danis ke kakaknya itu.
'nih Anjas kenapa diem aja sih, ngomong apa gitu tentang kita, haiish' batin Danis
daritadi Danis udah ngasih kode-kode gitu ke Anjas, tapi dia belagak gak paham, bikin Danis gregetan aja.
"ehm... tante saya mau ngomong sama tante"
"iya ngomong aja. ada apa?" kata Mamanya Anjas ramah.
Sebenernya Danis ngerasa lega karena respon kedua orang tua Anjas baik ke dia, tapi tetep aja ada yang ganjel hati Danis. kalau dia gak ngomong sekarang, takutnya orang tua Anjas manis di depan, ngedumel di belakang. kan horor.
"tante, sebelumnya saya minta maaf. Saya memang masih banyak kurangnya Tan. tapi saya janji akan belajar jadi lebih baik"
Danis menghela nafas, Mamanya Anjas mengernyitkan dahi, sedang Anjas hanya menikmati tontonan ini. Danis yang ngeliat itu makin gregetan.
__ADS_1
"kami saling mencintai Tan. jadi saya mohon sama tante, batalin perjodohan Anjas sama Nindi." Danis diam sejenak " restuin hubungan saya sama Anjas, saya gak tau lagi harus ngelakuin apa selain ngomong langsung ke tante. Saya cinta sama Anjas, saya gak mau kehilangan dia"
Danis menangis, ada rasa malu saat harus mohon di depan Mamanya Anjas, tapi dia juga gak mau kehilangan Anjas.
Anjas mengelus rambut Danis "liat kan Ma, dia cinta banget sama aku. Sabar ya Sayank, gak tega aku liatnya" kata Anjas dan langsung nyelonong pergi.
Mama Anjas geleng-geleng "Kamu tuh kebangetan Njas. sini! gak usah kabur" Anjas malah lari
Danis masih sesenggukan, Mama Anjas meluk cewek itu, dan menepuk punggungnya lembut.
"Saya memang sering nyakitin Anjas tapi saya janji gak akan gitu lagi"
"Udah, gak usah nangis!"
Mama Anjas nglepas pelukannya, dan menghapus air mata Danis.
"Tante mau kan batalin perjodohan itu?"
Mama Anjas menggeleng, Danis kaget, dia nunduk, bingung gak tau harus apa lagi.
"Tante gak bakal bisa batalin perjodohan itu, karena emang dari awal gak ada perjodohan."
"Apa???"
"Sebenernya saat ketemu Nindi emang saya berniat buat ngejodohin mereka, tapi itu masih niatan aja belum sampek tahap eksekusi. Sampe akhirnya Anjas bilang kalau dia uda punya pacar. Jadi ya gitu, perjodohannya gak ada"
"gimana- gimana tan? eh... tapi Anjas sama Nindi bilang..."
"Mereka ngerjain kamu" kata Mama Anjas sambil senyum. Danis melongo. "Nindi itu malah sebenernya uda tunangan"
Seketika wajah Danis merah, antara marah dan malu. mana tadi dia pake acara nangis bombay. Danis nutup matanya.
"Tante, Maafin Danis ya, duh malu-maluin banget sih" kata Danis sambil nyium tangan Mama Anjas.
'Dasar si Tengil lucknut. pantesan dia kalem, pake acara kabur lagi' Batin Danis.
"Yakin kamu cinta sama anak Tante yang modelnya begitu?Dipikir-pikir dulu aja" kata Mama Anjas sambil senyum goda.
Makin tambah merah wajah Danis, dia beneran ngerasa ditelanjangi sama Anjas di depan Mamanya. malu banget banget pokoknya.
***
__ADS_1