
Cerita 21
Arka membelokkan mobilnya di warung lalapan pinggir jalan. dulu dia dan Danis beberapa kali makan disini.
"lama banget aku gak kesini." kata Arka sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"kamu bikin aku galau aja" kata Danis
"kenapa?"
"Aku tadi uda makan, belok kesini jadi ngidam lagi kan"
Arka ketawa "Yauda pesen aja, kasian anak kita nanti ngeces" Danis memukul lengan Arka pelan.
Arka memesan lalapan nasi ikan gurame plus es jeruk, sedang Danis memesan lalapan nasi lele bakar sama es jeruk. setengah nasinya dia kasihkan Arka.
"enak sayank?" kata Arka
"Banget, sambelnya itu lo ngangenin"
"Kalau aku ngangenin juga?" goda Arka
"Kamu mah nyebelin" Danis memonyongkan bibirnya. Arka senyum.
"oiya sayank, malam minggu besok ada rencana?"
"pengennya sih kencan. kalau ada yang ngajak" kata Danis sambil asik makan lele.
"Oke deal" kata Arka singkat.
"Deal apaan?" tanya Danis
"Rahasia" kata Arka senyum misterius.
setelah makan, Arka langsung mengantar Danis pulang karena memang udah malem.
"Nis, maaf ya aku jarang ngajak kamu jalan" kata Arka setelah mobilnya sampai di depan rumah Danis.
"Aku ngerti kog" kata Danis sambil menyerahkan sebuah kantong plastik. "ini buat kamu"
"Apa?" Arka mengambil isi kantong itu. dua buah buku.
__ADS_1
"Maaf, aku gak bisa ngajarin kamu soal agama, aku sendiri juga masih belajar. aku cuma bisa bantu ngasih buku ini aja." kata Danis. dia memberikan buku panduan sholat dan mengaji.
Arka senyum "iya, makasih ya" katanya sambil nyium kening Danis.
"Kamu gak nginep d ibu kamu?" tanya Danis sebelum turun.
"Enggak"
"Padahal besok pengen nebeng kamu"
"Ya gak apa-apa, besok pagi aku jemput".
" gak usah deh, kamu jadi muter-muter kalo dari rumah sana"
"ya kenapa emang, akunya mau kog"
"aku yang gak mau. yauda, ati-ati ya" kata Danis sambil turun dari mobil, kali ini Danis masuk setelah Arka menjalankan mobilnya.
Danis masuk ke dalam rumah. Papa,Mama dan adeknya sedang duduk di ruang tivi. mereka liat bola. tim favorit warga Malang sedang
tanding. Papa dan adeknya Danis penggila bola, sedang Danis dan Mamanya cuma suka gak penggila. palingan kalo Arem* (tim sepakbola asli Malang) ato timnas indonesia tanding mereka baru nonton.
"Menang lah" kata Dimas adeknya Danis sambil buka bungkusan dan memakannya.
"Nis, mandi dulu sana" suruh Mama Danis
"Bentarlah Ma liat ini dulu, lama Danis gak liat, pemainnya baru semua ya, pada gak kenal akunya?" bantah Danis. Mulai SMA sampai kuliah Danis suka liat Arem* tanding, kadang sampek liat di stadion juga bareng Dimas atau temen-temennya. tapi setelah Kerja Danis jadi gak sempet. waktunya bener-bener disita sama kerjaan, kalaupun ada waktu senggang dia milih jalan-jalan, nongkrong, atau tiduran.
"Sana mandi dulu Mbak... udah jelek, bauk lagi" kata Dimas.
"Apaan sih Dim, Mbak tuh meskipun gak mandi, tetep cantik, tetep harum"
"kata sapa?" Dimas tetep ngeyel
"Udah-udah. Danis mandi dulu, udah malem ini" kata Papanya. Danis sewot, Dimas cengengesan.
"Jangan diabisin sendiri Dim. Mama sama Papa bagi kek" kata Danis sambil mukul Dimas pake tasnya pelan.
Dimas adalah adek Danis. umur mereka terpaut 4tahun, sekarang Dimas sedang kuliah ambil jurusan arsitektur. Dari dulu dia suka gambar, turunan dari Papanya mungkin ya, yang emang seorang arsitek.
Saat Danis kembali ke ruang tivi, Papanya Danis sudah pergi, mungkin ke ruang kerjanya. tinggal Mama dan Dimas yang masih nonton tivi.
__ADS_1
"Dim,Mbak udah nyobain tuh bebek kriuk yang kata kamu itu. emang enak sih ya" kata Danis sambil nyomot martabak.
"Beneran kan. gak percaya sih"
"Tapi masih enak lalapan Mas jo dong" maksut Danis lalapan yang tadi dia makan di pinggir jalan sama Arka.
"Kalian ini, makan enak kog gak ajak Mama Papa sih" Mama Danis ikutan.
Danis dan Dimas ketawa. "Nanti deh Ma, kita kesana bareng-bareng" kata Danis sambil meluk Mamanya. "Tadi Danis kesana sama anak kantor Ma, ada traktiran gitu" Padahal yang nraktir Arka, tadi Arka transfer uang ke Danis, padahal Danis udah nolak. Rencananya kapan-kapan mau dia balikin, dia masih inget nominalnya. Danis gak mau kalau dia dicap morotin Arka kayak pelakor-pelakor lainnya.
"Kamu tadi pulang sama Sisil?" tanya Mama. biasanya Danis memang sering pulang barengan sama Sisil, apalagi kalo udah malem gini.
"Enggak, tadi sama Arka"
"Arkanya bu Sanjaya?" tanya Mama, Danis mengangguk.
"Arka nitip beli buku ke Danis. yauda tadi Danis kasih, terus dianter pulang deh" jawab Danis, meskipun Danis gak bilang tentang hubungannya sama Arka, tapi setidaknya Danis gak bohong sama Mamanya. kenyataannya emang tadi dia ngasih buku dan diantar pulang. meskipun harus mampir sana sini dulu.
"Eh... Mbak, si Mas Arka tuh ngajar di kampusku ya?" tanya Dimas penasaran.
"Iya, ngajar Administrasi publik. kamu ketemu?"
"Iya, tadi aku jemput Niken. kan dia ngambil jurusan itu. gak sengaja ketemu, tapi mau nyapa udah keburu pergi sih dianya, lagian aku sendiri juga takut salah orang" Niken itu pacar Dimas
"Takut salah orang? makin ganteng ya dia?" kata Danis sambil nyengir.
"Dih... tapi emang sih, kata Niken dia lagi ngehits. temen-temennya banyak yang suka"
"Wah... jadi rebutan tuh Nis" timpal Mamanya sambil berdiri dan jalan ke dapur
Deg... Danis jadi khawatir gak jelas gini. dia jadi keinget kejadian tadi siang. sekarang dia jadi punya ide buat mata-matain Arka lewat Niken.
"Mbak juga masih demen ya sama dia?"
"Sotoy..." kata Danis sambil melayangkan Bantal sofa ke muka ganteng Dimas.
***
Dimas, adek Danis
__ADS_1