
Cerita 54
*Njas... ketemu dimana?
chat Danis ke Anjas, sore ini mereka janjian buat ketemu. Danis ngerasa gak enak kalau ngehindar, pasalnya Anjas sering bantuin Danis, meskipun kadang dia gedek ngadepin cowok tengil itu.
#cafe ruang baca
balas Anjas singkat, ini emang udah jam pulang kantor, setelah baca chat Anjas, Danis langsung bergegas pergi. dengan santai Danis berjalan sendirian ke cafe ruang baca. rasanya bener-bener sepi, biasanya ada mbak Sisil atau Arka yang nemenin dia balik. tapi hari ini? hmmmm...
Danis sudah masuk ke dalam cafe, dia celingukan nyari Anjas tapi gak ketemu. akhirnya dia milih duduk dan nyoba nelphon Anjas.
*Halo Njas, dimana?
#cafe ruang baca Nis...
*ya aku udah duduk cantik di dalam sini, tapi gak liat kamu
#owh... tunggu bentar
tuut...Anjas nutup telphonnya.
"dasar geblek... awas aja kalau dia malah belum sampek" gumam Danis sambil terus nyari Anjas.
"Hoeee..." panggil seseorang sambil nepuk pundak Danis.
Danis ngeliat Anjas, dia seperti baru mandi, rambutnya masih agak basah, dan baju yang dia pake bener-bener santai. celana pendek, kaos putih polos dan sendal japit. dan badannya bener-bener aroma seger, gak ada bau parfum seperti yang dia biasa pake.
"naik yok. cappucino float kan?" tanya Anjas. Danis tidak menjawab, kepalanya masih asyik sama visual Anjas. terlihat Anjas ngobrol di depan kasir, mungkin dia pesan, perlahan Anjas mulai naik ke atas. Danis mengikuti di belakang, dia baru tahu kalau ada ruangan di lantai dua. dia biasanya cuma fokus di lantai satu.
Sampai di atas, Danis makin heran. ini seperti rumah biasa, ralat apartemen minimalis satu lantai, karena interior dan barangnya bener-bener seperti di apartemen, tidak terlalu besar tapi sangat nyaman.
"disini apa di luar?" tanya Anjas, Danis hanya mengangkat bahunya. "di luar deh lebih santai." dia menutup pintu yang munuju apartemen. Anjas melangkahkan kakinya ke balkon yang cukup luas. dari tangga sebenernya memang langsung menuju balkon, tapi tadi mereka cuma melewatinya.
"Jangan bilang ini cafe kamu?" tanya Danis yang otaknya mulai jalan.
"emang" jawab Anjas santai. Danis inget dulu mbak Sisil pernah bilang kalau cafe ini punya sepupunya yang pemain bola. tapi dia bener-bener baru ngeh kalau ini cafenya Anjas. Selama ini Anjas memang gak pernah ngomongin masalah kayak gini, mereka lebih sibuk saling ngebully.
__ADS_1
"Pantesan slalu disini. gak modal, jemput ke kantor kek. capek tau jalan" kata Danis sambil duduk di bangku kayu panjang.
"Mau banget di jemput?" Anjas nanya balik "Kirain di antar Arka"
"Ngledek? uda selesai sama Arka" jawab Danis santai.
"Yakin? Semalem seneng banget habis jalan" kata Anjas sambil senderan.
"Anggap aja kencan terakhir"
"Kog aku gak yakin ya" kata Anjas sambil ngelirik Danis.
"Gak percayaan amat sih jadi orang, tauk ah bodo amat" Danis agak cemberut. Anjas senyum tipis.
"ngambek" kata Anjas sambil ngacak rambut Danis.
"Rambutku rusak tauk, nyebelin" kata Danis sambil gantian ngacak dan sedikit jambak rambut Anjas.
"Ehmm....ehmm..." karyawan cafe datang sambil bawa pesanan Anjas, cewek berambut pendek tersebut senyum-senyum ngeliat tingkah Danis dan Anjas. Danis jadi salah tingkah. Setelah karyawan itu turun, Danis langsung meminum capuccino floatnya.
Danis senyum tipis " kamu tau gak, pulang dari jogja tuh kita tengkar. dan itu gegara kamu!"
"Lah kenapa aku?" tanya Anjas sambil menyilangkan tangan di depan dada.
"awalnya sih aku yang marah-marah gegara kejadian di jogja dulu. tapi dia malah ikutan emosi,karena kamu nonjok dia, jadi dia bilang kalau aku ke jogja sama kamu,dan dia juga bilang aku selingkuh sama kamu. ya kali... orang aku yang jadi selingkuhan. murka dong aku" jelas Danis, Anjas hanya ketawa.
"Terus?"
"Yaudah seminggu lebih dia aku kacangin, sampe kemaren dia nongol di kantor. terus kita ngomong baik-baik dan yauda aku bilang intinya kita tamat"
" Dia langsung mau gitu?"
"ya gak lah, ada sedikit drama juga. tapi intinya aku udah lepasin dia. dia juga bilang 3 bulan lagi nikah."
"Waoow....tumben gak mewek?" goda Anjas sambil dorong tubuh Danis pelan.
"Mau banget?" tanya Danis, Anjas senyum.
__ADS_1
"Kamu tuh butuh cowok baru, biar cepet move on!" kata Anjas
"Gak semudah itu lah, gimanapun juga perasaanku masih nyangkut di Arka" kata Danis sambil nunduk, dia menendang meja di depannya pelan-pelan.
"Dia kan uda mau nikah. kamu gak pengen nikah juga?"
"ya mau lah... tapi kan butuh proses. lagian belum ada yang ngajak juga" kata Danis sambil sedikit manyun.
"Yaudah deh aku ajak, yok?" tanya Anjas sambil berdiri, tangan kanannya dia ulurkan ke Danis.
"Kemana?" tanya Danis heran.
"Ke rumah kamu, minta restu. terus ke KUA, nikah" jelas Anjas sambil menik turunkan alisnya.
"Dasar Anjas gilaaak..." Danis mendorong tubuh Anjas sampai hampir jatuh, yang di dorong malah ketawa ngakak.
Setelah itu mereka lanjut ngobrol, walupun lebih banyak bercanda dan ngejahilin Danis. tapi setidaknya Danis bisa ketawa dengan adanya Anjas.
Cukup lama mereka duduk di balkon cafenya Anjas, kemudian mereka milih nyari makan malam di luar. Selesai makan Anjas ngajak Danis keliling kota naik motornya, dan ngantar Danis pulang.
"Nis... aku mampir gak nih?" tanya Anjas saat mereka udah sampai di depan rumah Danis.
"terserah sih, kalau mau mampir ya hayuk"
"gak usah deh, besok-besok aja. lupa beli martabak tadi, kan gak enak ke rumah calon mertua tangan kosong" kata Anjas sambil senyum. Danis hanya senyum.
"Yauda kamu masuk gih, maaf ya sampe malem gini. tapi udah gak sedih kan?" tanya Anjas dengan senyumnya yang sangat manis.
"Iya, makasih ya"
"Iyaa... salamin ke camer ya, aku balik dulu" kata Anjas sambil make helmnya.
"Kamu ati-ati ya" kata Danis. Anjas hanya ngangguk dan senyum. lagi-lagi dia nunjukin senyumnya yang manis buat Danis. perlahan Anjas melajukan motornya menjauhi rumah Danis.
***
__ADS_1