
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Sedangkan di rumah sakit, Vita terlihat baru saja membuka matanya, menahan sakit di perutnya, dan melihat ke arah sekilingnya.
"Kemana Brio?" tanya pada diri sendiri.
Lalu tidak lama kemudian, terlihat dokter yang masuk untuk memeriksa keadaanya, "nyonya kamu sudah bangun? Bagaimana perasaanmu sekarang nyonya?" tanya Dokter itu dengan lembut.
"Emmh dokter, apakah kamu tadi melihat pria yang bersamaku? Kemana dia?" tanya Vita tanpa menjawab pertanyaan dokter tersebut.
Merasa bingung dengan pertanyaan itu, dokter hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena memang dia tidak tahu di mana pria yang tadi sudah mengancamnya.
Karena tidak mendapatkan jawabaanya, Vita memilih untuk mencari ponselnya, dan ingin menelpon Brio.
"Kenapa dia tidak mau angkat?" gumam Vita dengan emosi. Pasalnya dia sudah menelpon hingga lima kali dan yang dia dapatkan hanya sebuah penolakan.
Bahkan saat ini nomornya sudah diblokir oleh Brio. Menyisahkan tanda tanya untuk Vita.
"Dok, bagaimana dengan keadaan saya? Janin saya? Atau apapun?" Vita ingin mendapatkan sebuah kejelasaan dari semua ini.
"Kandungan Anda kuat nyonya, meskipun tadi dia sempat menyerah, tetapi berkat mukzijat Tuhan dia bisa kembali normal nyonya," jawab dokter tersebut.
Bagaikan disambar petir, semua yang Vita dengar dan alasan kenapa Brio seperti ini terhadapnya. Karena bayi yang dia kandung tidak berhasil digugurkan.
Tanpa terasa air mata itu lolos begitu saja dari pipi Vita, dia terlalu bodoh ketika mempercayai Brio akan berubah. Nyatanya saat ini pria yang merupakan ayah dari bayi yang dia kandung, sudah melarikan dirinya begitu saja.
"Nyonya, kalau saya boleh saran, Tuhan mengizinkan bayi ini untuk hidup bersama dengan Anda, bahkan dengan bertahanyaa dia dengan semua obat yang telah Anda minum, itu adalah sebuah pertunjuk bahwa dia benar-benar menginginkan Anda sebagai ibunya, apakah bisa Anda tega untuk mengugurkaanya lagi." Dokter itu memberikan nasehat penting untuk Vita, agar tidak terjadi hal seperti ini lagi.
Sontak saja Vita mengelus perutnya yang masih rata, melihat ke arah kalung salib yang kini melingkar di lehernya. Dia begitu yakin jika Brio yang memberikan itu padanya.
Membuat Vita ingin sekali tertawa, pria yang semua simbol kuasa Tuhan, kini bahkan mengkhianati Tuhan, dan berbuat dosa yang tidak akan pernah bisa dihapuskan.
"Nyonya, pergilah untuk mensucikan dirimu lagi, baptislah dirimu, agar semua dosa-dosa yang kamu lakukan itu bisa dihapuskan, dan terlahir kembali menjadi manusia baru dengan membawa bayi yang ada dikandunganmu," ucap dokter itu lagi.
"Izinkan saya pulang sekarang dok," pintanya, dengan perasaan yang sudah kacau.
"Tidak nyonya, kalau untuk sekarang saya tidak bisa, jika besok mungkin bisa. Dan untuk itu, lebih baik malam ini nyonya beristirahat dulu sambil tenangkan pikiran nyonya. Untuk masalah identitas, pria tadi sudah mengangti identitas Anda, dan wartawan tidak akan pernah mengetahui ini semua," ucap dokter itu lagi.
Vita menganggukan kepalanya pelan, terlalu enggan untuk bicara saat ini. Dia memilih untuk berbaring dan memejamkan matanya sejenak.
Sedangkan dokter tadi, memilih untuk keluar dan memberikan ruang untuk pasiennya beristirahat.
__ADS_1
Dengan harapan penuh, Vita berusaha kembali menghubungi Brio, dia tidak mungkin mengandung anak sendiri. Bagaimana jika sampai orang tuanya tahu?
"Brio, kenapa kamu tega meninggalkan aku sendiri, kamu kemarim janji akan berubah lalu ini apa?" gumamnya, sambil menahan air mata yang sejak tadi terus saja menetes.
Dia tidak sanggup jika harus berhadapan dengan orang tuanya, bagaimana tanggapan orang lain? Apa lagi dia adalah seorang selebritis yang setiap kehiduapannya, akan disorot oleh paparazi.
Air mata yang sejak tadi tidak bisa dihentikan, membuatnya lelah, dan tertidur di dalam tangisnya.
***
Ke-esokan paginya.
Saat ini terlihat Vita yang tengah bersiap untuk pulang. Dari semalam dia sudah bertekad, bahwa dia tidak membutuhkan pria yang tidak bertanggung jawab seperti Brio masuk ke dalam kehidupaanya.
Tidak lama kemudian, dia melihat kedatangan Andrew yang masuk ke dalam ruangannya.
"Perimisi nona Vita, saya datang ke sini ingin memberikan surat dari Mister Brio, bunga dan juga surat kontrak perjanjian kalian dulu, dan semuanya sudah ditanda tangani oleh beliau." ucap Andrew dengan sopan.
Vita tersenyum kecut mendengar itu semua, namun sayangnya, hatinya tidak akan tersentuh dengan apa yang Brio lakukaan saat ini.
Dia sama sekali tidak menanggapi kehadiran Andrew. Hingga di saat dirinya telah selesai berkemas, Vita langsung menggunakan kaca mata hitamnya dan melangkahkan kakinya keluar. Meninggalkan Andrew begitu saja tanpa ingin mengatakan satu kalimatpun.
Hari ini dia mempunyai jadwal pemotertan di salah satu majalah terkenal. Dan dia tidak ingin sampai terlambat hanya karena harus meladeni Andrew yang menurutnya sangat tidak penting.
*****
Sedangkan di sisi lain, terlihat Brio yang merasa sangat marah, ketika mendapatkan laporan dari Andrew, bahwa Vita sudah tidak tertarik dengan surat perjanjian atau apapun.
"Apakah dia benar-benar bertindak seperti itu?" tanya Brio, meyakinkan ucapan Andrew.
"Benar Mister, bahkan dia sama sekali tidak menganggap keberadaan saya," adunya pada Brio.
Kesal,marah,emosi, semua perasaan itu saat ini sudah bercampur aduk di dalam pikiraanya, namun dia sadar jika ini adalah kesalahaanya diawal.
"Baiklah Vita, jika begitu maka kita tidak usah saling mengenali satu sama lain, anggap saja jika aku tidak mengenalmu dan begitupula denganmu yang tidak mengenaliku." Brio bertekad untuk mengakhiri semua ini. Merasa tersakiti tanpa menyadari bahwa dirinya yang menyakiti.
*****
"Hahh, Vita kamu dari mana saja?" tegur Julis yang sedari tadi khawatir jika Vita akan terlambat.
"Ahh, seperti kamu tidak tahu saja, dia sekarang mempunyai kekasih tau," sahut Melly dengan suara cemprengnya, sambil membantu Vita untuk merias diri.
__ADS_1
Vita tersenyum mendengar dua suara sahabatnya yang selalu memberikan warna di dalam kehidupaanya ini. "Oh iya, siapa yang menjadi partnerku hari ini?" tanya Vita bingung, karena dirinya memang beluk mengetahui partner kerjaanya nanti.
"Mezty," jawab Julia dengan santai. Karena menurutnya Vita tidak ada masalah dengan model luar itu, jadi dia memberitahunya begitu saja.
"Bagaimana bisa Mezty? Bukankah dia sedang berada di Paris?" tanya Melly, mewakilkan pertanyaan dari Vita.
Julia mengedikan bahunya singkat, karena dia juga tidak tahu jawaban yang sebenarnya. "Aku tidak tahu pasti jawabannya, yang aku tahu dari instagram kemarin, dia datang ke sini untuk bertemu dengan tunanganya dan sebentar lagi dia akan menikah," seru Julia, memberitahukan apa yang dia ketahui.
Dan di saat mereka tengah asik mengobrol, terlihat seseorang yang tengah mereka bicarakan itu datang dengan anggunya masuk ke dalam ruang rias.
"Hallo Vita," sapanya dengan ramah.
Vita menolehkan tatapannya sedikit, karena rambutnya yang sedang di rapikan oleh Melly, membuatnya tidak bisa menoleh banyak.
"Hallo Mezty, apa kabar kamu? Lama kita gak ketemu ya," balas Vita, berusaha selembut mungkin. Karena Mezty merupakan teman lamanya di satu management dulu.
Mezty tersenyum lalu duduk di kursi sebelah Vita, dan juga ikut mulai merias diri. "Aku baik Vit, seperti yang kamu lihat," lirihnya pelan, dan itu membuat Vita kembali tersenyum.
"Vita, seminggu yang lalu aku melihat kamu tengah berjalan berdua bersama pria eropa," ucap Mezty tiba-tiba, membuat Vita sontak terbatuk kuat mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Mezty.
"Bukannya kamu seminggu yang lalu katanya mau liburan ya Vit? Apakah bersama-"
"Ahh Vita, kenapa kamu tidak mengenalkannya pada kami," sahut Julia dan Melly yang begitu penasaraan dengan sosok pria itu.
Vita tersenyum kikuk, dan menatap Mezty dengan bingung.
"Hahah tenang saja Vit, aku tidak sempat melihat wajahnya, hanya aku tahu bahwa sekarang kamu telah memiliki kekasih," godanya dengan berbohong. Padahal dia jelas tahu jika pria itu adalah tunangannya, namun melihat reaksi Vita dan juga kedua sahabatnya. Sepertinya Vita memang menyembunyikan rapat soal hubunganya itu.
*To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*
__ADS_1