
🌹 Happy Reading 🌹
Setelah menunggu begitu lama, akhirnya dokter yang menangani Vika saat ini keluar dari ruangan tersebut.
Alson datang menghampiri dokter itu dengan rasa takut. "Bagaimana keadaanya dok?" Tanya Alson tanpa basa-basi lagi.
Dan tak lama kemudian terlihat Veli dan Vita yang baru saja tiba di rumah sakit, dan melihat Alson yang sedang bersama dengan dokter.
Alson hanya diam tanpa menanggapi kehadiran Veli dan Vita, dia hanya fokus kepada jawaban dari dokter.
"Mohon maaf Tuan, terjadi kerusakan pada pita suaranya, dan kornea matanya, hingga untuk saat ini pasien tidak dapat bersuara dan melihat. Dan kami juga sudah berusaha semaksimal mungkin, namun kerusakanya memang begitu parah,"Ucap dokter itu menjelaskan secara detail.
Dan sontak membuat Alson dan Veli lemas bersamaan.
Alson menggelengkan kepalanya masih belum percaya dengan apa yang terjadi saat ini. "Baiklah dok, saya akan memindahkanya ke rumah sakit Singapore," seru Alson dengan tenang kepada dokter itu.
"Baik Tuan, saya akan mengurus kepindahaanya." Jawab Dokter itu lalu berpamitan pada Alson.
Veli yang menatap ke arah Alson saat ini, ingin menghampiri dan marah.
Namun baru saja dia mau berdiri, tiba-tiba saja ada beberapa polisi datang menghampiri Alson.
"Selamat sore Pak." Sapa salah satu polisi itu.
Alson menganggukan kepalanya sebagai jawaban, karna dia sudah malas untuk bicara saat ini.
Polisi tadi mengerti dengan keadaan ini, dan memaklumi sikap Alson yang seperti itu.
"Begini Pak, istri bapak ini terbukti melanggar lalu lintas dengan menerobos lampu merah sehingga menyebabkan kecelakaan beruntun ini," Ucap polisi itu memberikan bukti CCTV jalan kepada Alson.
Dan Alson menerimanya lalu melihat dengan saksama sebenarnya apa yang terjadi.
"Di dalam kecelakaan ini, menyebabkan satu pria berusia 29 tahun meninggal di tempat, dan satunya lagi sepasang suami istri yang mengalami patah tulang dan juga kritis, mereka masih belum terima akan hal ini Pak, dan ingin membawa masalah ini ke jalur hukum." Ucap Polisi itu lagi.
Alson mendadak menampilakn wajah kemarahaanya. "Bagaimana mana bisa dia bertanggung jawab sedangkan dia juga kristis, pikir pake otak." Bentak Alson dengan penuh emosi.
"Keluarga mereka hanya meminta konpensasi pak, karna kejadian ini mereka kehilangan suami serta orang tua yang pasti meninggalkan keluarga yang masih butuh biaya." seru Polisi itu dengan sangat tenang.
Alson langsung mengeluarkan ponselnya, dan masuk ke dalam aplikasi bangking, "katakan berapa nomor acount mu, aku sudah malas berurusan dengan masalah seperti ini, ambil dan selesaikan urusan dengan keluarga mereka." Lirih Alson yang memandang tajam ke arah polisi-polisi itu.
Dan kemudian, salah satu polisi itu mengeluarkan kertas yang berisi identitas korban, dan beserta nomor rekening dari para keluarga korban yang mereka berikan di saat polisi masih mengurusnya.
Dengan diam Alson menuliskan angka-angka fantastis di dalam aplikasi bangkingnya. "Aku sudah mentransfer 50 Miliyar di masing-masing rekening itu, dan aku rasa itu sudah cukup membiayai hidup mereka." Ketusnya yang memperlihatkan bukti transaksi berhasil di ponsel Alson.
Alson yang masih dalam keadaan emosi, tidak menyadari jika bangkingnya tersambung di ponsel Papahnya.
Dan di negara lain, Arvan tersenyum melihat laporan masuk di ponselnya, karna anaknya itu sudah melakukan transaksi 100M serta detik kemudian dia mentransfer sendiri ke rekening pribadinya sebesar 500M.
__ADS_1
"Aku rasa 500M sudah cukup untuk putraku membiayai wanita itu." Lirihnya pelan, lalu mengotak atik ponselnya dan membekukan rekening Alson.
Arvan tersenyum tipis dengan itu, "anak ku begitu pintar, hingga dia masih sempat mengambil uang sebelum aku membekukan rekeningnya, baiklah aku akan menunggu di saat uang itu sudah habis, pasti Alson akan kembali." Lirih Arvan dengan senyum kemenangan.
Arvan bukanlah orang bodoh yang terlamabat mengetahui informasi apapun, bahkan dia sudah tau jika Vika akan di bawa ke singapore oleh anaknya.
Veli yang mendengar pernyataan dari polisi itu akhirnya diam tak bersuara, dia hanya memandang sendu ke depan, dengan terus memgang tangan Vita yang mengis sedari tadi.
Alson ingin mendekati Vita, namun dia ragu karna nanti Vita menolaknya dan membuat keributan.
Tak selang waktu lama, pihak rumah sakit telah selesai mengurus surat-surat Vika.
Karna semua fasilitas miliknya di tarik oleh Papahnya, kini Alson meminjam Jet pribadi milik Aiden untuk membawa Vika ke Singapore.
Selama perjalanan Alson hanya bisa memandang Vika dari jauh, karna Dokter dan perawat lainya yang selalu berada di dekat Vika.
Hingga mereka tiba di rumah sakit Mount Elizabeth Medical Centre di Singapore.
Dan dengan cepat pihak rumah sakit menangani Vika. Dengan di ikuti oleh Alson di belakangnya.
Sedangkan Veli dan Vita tidak bisa ikut, karna bahaya Virus, yang membuat Alson meminta agar Veli dan Vita di rumah saja menunggu kabar selanjutnya.
Semenjak kejadian itu, Veli hanya diam tanpa bicara apa pun, dia hanya melihat Alson yang dengan setia mendampingi putrinya.
Namun dia bisa apa, tekanan dari keluarga Arvan yang membuatnya harus melarang hubungan mereka.
Dulu Arvan pernah sekali mendatangi Veli dengan mengancam akan menjatuhkan harga diri Vika di depan umum jika Veli tidak mengikuti apa yang dia mau.
Bahkan Arvan membenci Tuhanya sendiri, dan hidup dalam sebuah amarah. Bahkan Jeniffer saja sudah menyerah dan hanya bisa diam menghadapi sikap Arvan yang seperti ini.
Bagi Arvan, Alson adalah anak satu-satunya yang masih bertahan dan harus mendapatkan pasangan yang baik, dia tidak ingin putranya itu mendapatkan pasangan di luar dari lingkunganya, apa lagi seorang model yang banyak publish di media.
Arvan sangat tidak menyukai hal itu, dia tidak mau karna hubungan Alson dan Vika, keluarganya menjadi sorotan masyarakat.
Karna meskipun Vika mundur dari dunia Model, yang namanya public figure pasti akan selalu di kejar oleh wartawan.
"""""""
Sudah beberapa hari Vika di rawat di rumah sakit Singapore, namun masih belum menunjukan perkembangan apa pun.
Alson terus mendampingi Vika, tanpa pernah pergi meninggalkanya. Sedangkan Jendra? Jangan di tanyakan tentang pria itu.
Bahkan dari awal kejadian, hingga saat ini belum pernah sekalipun dia menanyakan tentang kabar dari Vika.
Mungkin dia dan keluarganya hanya melihat dari berita yang di siarkan di televisi, tanpa perlu lagi menanyakanya.
Alson terus memandang sendu ke arah kekasihnya sambil terus menggengam tangan mungil itu. "Vika bangunlah sayang, kamu sudah tidur satu minggu masih tidak mau bangun kenapa? Apa kamu marah sama aku? Kamu marah sama semuanya iya? Apa kamu marah dengan dunia ini? Bangunlah Vika, aku menunggu mu, aku sayang sama kamu, jangan seperti ini, hiskk, rasanya jantungku sakit." lirih Alson yang terus menerus merangsang perkembangan otak Vika.
__ADS_1
Dan tanpa di sengaja, dari mata Vika terlihat ada air mata yang menetes sempurna. Alson yang melihat itu langsung tersenyum bahagia.
"Vika, kamu dengar aku kan sayang, pasti dengarlah kan suara kan kan merdu. Kamu mau dengar aku nyanyi kan. Bentar ya." ucapnya lagi dengan penuh riang gembira.
Lalu dia mencari musik di ponselnya agar Vika bisa mendalami lagi suaranya. Alson memang mempunyai kelebihan suara yang merdu, sehingga ketika dia menyanyikan sebuah lagu, siapapun yang mendengarnya pasti akan terbawa suasana.
"Salahkah aku bila, mencintaimu setulus hati. Sedangku tau pasti, keluarga tak merestui."
"Biarkan dunia berputar, seiring waktu berjalan, sampai saat nanti tiba. Waktu merestui cinta yang terlarang untuk kita berdua,aa,,"
"Dari jauh ku berlari mengejar mimpi-mimpi, berat rasanya ku jalani semua, dari situ ku sadari mungkinkah saat nanti, cinta kita berdua bisa ku miliki."
Alson menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati dan jiwa raganya, bahkan terlihat air mata yang menetes dari sudut matanya karna terbawa perasaan.
Bahkan dia tidak menyadari jika Vika perlahan mulai membuka kelopak matanya itu.
Vika tersadar dan ikut menangis mendengar suara dan bait demi bait yang di nyanyikan oleh kekasihnya itu. Dia perlahan mulai menggerakan tanganya mencari tubuh Alson, karna penglihatanya sangat gelap. Bahkan dia tidak bisa mengeluarkan suaranya sama sekali.
Alson yang merasa ada pergerakan kini mengalihkan pandanganya pada Vika dan sontak terkejut melihat Kekasihnya yang sudah membuka matanya.
Dengan rasa penuh bahagia dia memencet tombol untuk memanggil dokter agar segera datang.
Sedangkan Vika masih sibuk mengedip-ngedipkan matanya mencari sumber cahaya.
"Sayang apa kamu baik-baik saja? Apa ada yang sakit?" tanya Alson dengan penuh kekhawatiran.
Vika menangis dan terus berusaha membuka mulutnya untuk mengeluarkan suaranya, namun sama sekali tidak bisa, dia sampai mencekik lehernya sendiri agar suara itu mau keluar dari mulutnya.
Alson juga ikut menangis melihat Vika yang seperti ini. Dia menarik tangan Vika yang ada di leher dan langsung memeluk tubuh kekasihnya.
"Maafin aku yang gak bisa jagain kamu,,hiksskk, aku akan terima kamu apa adanya, meskipun kamu cacat sekalipun aku akan tetap bersaamamu, please tolong jangan begini." Tangis Alson melihat Vika yang seperti depresi dengan terus menerus memukul leher dan matanya.
Vika hanya bisa menangis tanpa suara, dia merasa sangat tidak berguna saat ini. Apa yang bisa dia lakukan selanjutnya ? Bagaimanan dia bisa menjalani kehidupanya tanpa mata dan suara.
Alson terus mendekap tubuh Vika agar merasa sedikit tenang.
Sebenarnya Alson juga merasa frustasi karna hingga saat ini, pihak rumah sakit belum bisa mendapatkan donor mata untuk Kekasihnya.
Dan satu-satunya orang yang bisa menolong saat ini hanyalah Arvan papahnya. Akan tetapi syarat yang di berikan Arvan adalah pergi meninggalkan Vika. Dan Alson sama sekali tidak bisa terima akan hal itu, dan mencoba berusaha sendiri dengan kemampuan yang dia miliki.
To be continue.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
**Jangan pelit! Mimin, *Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
__ADS_1
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra