
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke 🥰
Jangan sinder 😘😘
🌹 Happy Reading 🌹
Setelah malam itu, Arvan mulai memperhatikan gerak gerik Velli yang seperti tertarik dengan Kevin sang mantan asisten Lucas.
Sehingga pada hari ini juga Arvan langsung memanggil semuanya untuk ke ruang keluarga mendiskusikan permasalahan ini.
"Ada apa Pah? Kenapa Papah mengumpulkan kita semua di sini?" tanya Alson bingung.
Arvan menatap ke arah Jenni sekilas lalu kembali menatap ke arah Veli dan Vika.
"Jadi seperti ini, Papah langsung to the point saja," ujar Arvan, mulai menampilkan wajah seriusnya.
"Kevin, kamu taukan kejadian apa yang telah terjadi di keluarga kita ini, dan dulu saya pernah bilang, jika saya akan meminta hutang jasa saya, di suatu hari nanti?" tanyanya pada Kevin, mencoba mengingatkan janji Kevin yang dulu dikatakan jika dirinya akan membalas budi seluruh jasa-jasa Arvan kepadanya dulu.
"Siap Lord, saya akan menuruti apapun perintah dari Anda," jawab Kevin dengan tegas.
Jenni menatap bingung ke arah Arvan, "memangnya apa yang sudah Papah lakukan hingga Kevin mempunyai hutang budi terhadap Papah?" sahut Jenni menanyakaan apa yang berada di dalam otaknya.
Arvan menanggukan kepalanya singkat, dan merasa enggan untuk menjawab pertanyaan istrinya ini.
__ADS_1
"Lord Arvan pernah menyelamatkan saya dari hukuman mati Negara, dan menggantinya dengan hukuman 10 Tahun penjara Queen," jawab Kevin, merasa jika seluruh keluarga harus tau tentang kebaikan hati Arvan.
Jenni tersenyum kecut menanggapi jawaban dari Kevin. "Rupanya Lordmu ini memiliki kepribadiaan ganda ya, terkadang dia baik, terkadang dia buruk, terkadang dia menyelamatkan orang yang berdosa, tapi terkadang dia membunuh orang yang tidak berdosa, terkadang dia menjodohkan tapi tekadang dia memisahkan, sungguh aneh," sindir Jenni, yang sebenarnya masih merasakan sakit hati dengan perbuataan Arvan kemarin yang membunuh bayi Zein dan Dara, bahkan memisahkan dua insan yang saling mencintai.
Sontak saja, semua yang berada di ruangan itu terkejut mendengar penuturan Jenni.
Membuat Arvan langsung menatapnya dengan tajam, "pembicaraan masalah itu, bisa kita bicarakan nanti Mah, sekarang Papah ingin mengatakan hal yang lain," kata Arvan, membuat Jenni memilih diam dari pada harus menanggapi kalimat suaminya itu.
Setelah Jenni tidak lagi membuka suaranya, barulah Arvan kembali menatap ke arah Kevin dan lainya, "Kevin, saya harap kamu akan mengabulkan permintaan saya, yang mengharapkan kamu menikahi Veli Mamah Vika!" ucapnya yang terdengar seperti memerintah.
Vika yang mendengar itu langsung menoleh menatap ke arah Mamahnya yang saat ini hanya bisa menundukan kepalanya malu.
"Baik Lord, saya akan menuruti permintaan Anda untuk menikahi Nyonya Veli," jawab Kevin tegas, tanpa penuh pertimbangan.
Sedangkan Vita masih menatap Mamahnya dengan lekat, merasa jika Mamahnya tidak pernah mengatakaan keinginan untuk menikah lagi.
"Di keluarga ini, semua harus mempunyai pasanganya masing-masing, yang bisa melindungi wanita dari serangan musuh," titah Arvan, yang membuat Jenni ingin sekali muntah mendengernya.
"Mamah ke kamar dulu ya, Mamah sudah tidak sanggup mendengar kalimat Papah kamu yang otoriter dan sok bijaksana," sahut Jenni, memilih untuk pergi dari ruangan itu.
Arvan masih mengerti dengan sikap istrinya, namun biar mau di jelaskan seperti apapun Jenni tidak akan pernah mengerti, apa alasaan Arvan hingga membunuh bayi yang dikandung oleh Dara.
"Bagaimana denganmu Vika? Apakah kamu setuju jika Mamah kamu menikah dengan Uncle Kevin ?" tanya Arvan lembut kepada menantunya.
__ADS_1
Vika terdiam dan menatap bingung ke sekelilingnya, "Vika akan selalu mendukung apapun keputusaan Ibu, jadi jika Ibu mau menikah dan siap untuk menjalaninya, maka Vika akan merestuinya," jawab Vika.
Dia merasa bahwa selama ini Ibunya memang hanyalah hidup sendiri, sehingga tidak ada alasaan untuknya menolak, jika memang ada yang ingin menikahi dan bertanggung jawab untuk ibunya, mengapa tidak?.
"Baiklah, jika begitu kalian akan menikah besok pagi, dan saya akan menyiapkan semuanya," seru Arvan lagi, yang terlihat mulai bangkit dari duduknya.
"Baik Lord," sahut Kevin, yang kini sudah menunduk hormat pada Arvan.
Berbeda dengan Velli yang sedari tadi rasanya malu sekali dan ingin menenggelamkan wajahnya di air.
"Astaga berarti selama ini Lord Arvan tahu kalau aku menyukai anak buahnya," batin Velli meringis, merasa malu karena tertangkap basah oleh besannya karena sudah menyukai seorang pria, walaupun itu memang ternilai sangat wajar, namun di usianya saat ini yang ingin menikah, memanglah cukup membuat orang lain pasti memandangnya aneh.
To be continue.
😉😉
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
Follow IG Author @Andrieta_Rendra