
🌹 Happy Reading 🌹
"Cukup ibu!" Bentak Jendra di depan Veli.
"Bu jangan bicara seperti itu di depan Vita, kasian anak bu, apa lagi dia sudah besar dan kalimat seperti itu akan bisa merusak mentalnya nanti, tolong lah bu hal ini kita bisa bicarkan baik-baik tapi tidak di depan Vita." serunya yang membuat Veli semakin membencinya.
Melihat Veli yang di bentak seperti itu, membuat hati Vita menjadi sakit. "Om kenapa marahin Bunda om, kasian Bunda," lirih Vita dengan lembut, namun hati Jendra kembali sakit ketika mendengar anaknya kembali memanggilnya dengan panggilan yang sangat asing.
"Vita Papah gak marahin Bunda, Papah hanya bicara sedikit dan memang intonasi papah seperti ini sayang," serunya mengusap lembut kepala putrinya.
"Om Papah Vita? Tapi om gak pernah tuh datang ke Vita dan Mamah, kenapa ?" tanyanya dengan polos, namun mampu membuat bibir Jendra terdiam tidak menjawabnya.
"Karna papah sudah dapat mamah baru dan anak baru kan." sambungnya lagi dengan yakin karna itu dia dapatkan dari Mamah dan bundanya.
Jendra menggelengkan kepalanya pelan, "bukan nak, Papah belum menikah, papah tidak mempunyai Mamah dan anak baru, istri Papah cuman Mamah Vika dan anak Papah hanya Vita, tidak ada yang lain lagi."
"Sudah ya Jendra! Jangan pernah kamu meracuni otak Vita seperti itu, ayo Vita kita pulang sekarang!" Seru Veli yang tidak tahan dengan Jendra yang terus menerus meracuni otak Vita.
Veli langsung menarik paksa tangan Vita dan berjalan ke sembarangan arah.
Biiiiiipppppppppp klakson mobil panjang mengejutkan Veli dan juga Vita yang menyebrang sembarangan.
"Aaaaarrrggghghhhhhh," teriak keduanya.
"Ibbbu,Vita awaaassss......."""""""""" dengan cepat Jendra mendorong tubuh Veli dan Vita hingga jatuh ke bahu jalan.
Bbbbrrruuugggghhhhhhhhhh Karna tak sempat menghindar Jendra akhirnya tertabrak dengan sangat keras oleh mobil itu, hingga tubuhnya terpental beberapa meter.
"Jennndddrrraaaa," teriak Veli yang ketakutan melihat Jendra yang seperti itu.
Sedangkan Vita sudah menangis histeris karna ketakutan, hal yang selalu terjadi ketika dia merasa terancam sesuatu maka Vita hanya mampu menangis dengan histeris seperti itu.
Dengan cepat Veli langsung menghampiri tubuh Jendra yang sudah di kelilingi oleh Warga.
"Tolong pak,bu bawa dia ke rumah sakit,hisskk,,hiskk," tangis Veli pecah ketika melihat Jendra yang tidak sadarkan diri dengan tubuh yang sudah penuh dengan darah.
Dan wargapun dengan cepat menolongnya. "Ayo cepat,ayo cepat," seru beberapa warga itu langsung mengangkat tubuh Jendra naik ke salah satu mobil yang lewat sebagai bantuan.
*******
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Jendra langsung mendapatkan perawatan.
Dan di saat Veli dan Vita tengah duduk menunggu, datanglah sosok Dyzon dan Vina yang barusan di hubungi oleh pihak rumah sakit.
Papah Jendra datang dengan raut wajah yang sangat penuh dengan amarah, menghampiri Veli yang duduk menunggu putranya. "Ini semua pasti gara-gara kamu iya kan," bentaknya tepat di hadapan Veli dan Vita.
Vita yang melihat bundanya di bentak seperti itu langsung tidak terima dan mendorong tubuh Dyzon.
"Jangan bentak bunda ku? Bundaku gak salah," teriaknya dengan suara yang histeris.
Dyzon melihat Vita yang begitu mirip dengan Jendra, seketika langsung luluh mentap wajah itu, dia terduduk lemah di kursi, dengan Vita yang masih berada di depanya. "Maaf, saya tidak sengaja," lirihnya pelan di hadapan Vita.
"Keluarga pasiesn Jendra." Teriak dokter itu mencari keluarga Jendra.
Dengan cepat Dyzon dan Vina langsung berdiri menghadap dokter itu. "Saya dok, kami orang tuanya." sahut Dyzon dengan raut wajah yang khawatir.
Dokter itu terlihat memperbaiki kaca matanya menatap ke arah Dyzon dan Vina.
"Jadi bagaimana keadaan putra saya dok?" Ucap Vina dengan gelisah.
"Dia sudah berhasil melewati masa kritisnya tuan, hanya saja di bagian lenganya mengalami patah tulang, sehingga kita haru melakukan operasi penanaman pen agar bisa menyambungkan tulang itu kembali." Jelas dokter itu dengan tenang.
"Baik Tuan, setelah anda menandatangani surat persetujuan, kami akan segera melakukanya. "Balas dokter itu lagi.
"Baik dok." Jawab Dyzon.
Sedangkan Veli dan Vita hanya mampu terdiam di kursi mendengar semua penjelasan dari dokter tersebut.
***
Setelah memakan waktu yang cukup lama, operasi itu akhirnya telah selesai di jalankan.
Dan kini Jendra sudah berada di ruang perawatan, dengan Veli dan Vita yang masih menungguinya.
Sedangkan Dyzon dan Vina mereka berpamit pulang untuk mengambil keperluan Jendra selama di rumah sakit ini.
Melihat keadaan Jendra, Veli benar-benar merasa tidak tega, apa lagi dirinya yang menyebabkan Jendra menjadi seperti ini.
"Bunda ayo kita pulang, Vita capek." Keluhanya pada Veli yang terduduk sambil memejamkan matanya di sofa kamar perawatan itu.
__ADS_1
"Vita capek Nak?" terdengar Suara Jendra yang sontak membuat Veli membuka matanya dan melangkah mendekat ke arah Jendra yang sepertinya sudah sadar.
"Jendra kamu sudah sadar ?" tanya Veli dengan lembut, yang di ikuti oleh Vita di belakangnya.
Jendra tersenyum dengan ramah, "ibu kenapa masih di sini?" tanyanya pada Veli yang terlihat begitu khawatir denganya.
Vita yang terlihat mengerucutkan bibirnya itu menampilakan wajah ghemas di wajahnya, membuat semangat baru untuk Jendra. "Vita kenapa Nak? Kok cemberut seperti itu ?" Tanyanya lagi.
Plaaaakkkkk Veli memukul kaki Jendra dengan keras. "Adduuhhh ibu kenapa pukul Jendra," rintihnya sakit.
"Berani kamu ya buat orang tua khawatir, harusnya kamu tidak melakukan semua ini Jendra," seru Veli yang merasa hutang budi pada sosok pria ini.
Lagi-lagi Jendra tersenyum menanggapin itu semua. "Ibu, sakit ini bahkan mungkin tidak akan ada apa-apanya di bandingkan sakit hati kalian terhadap saya, dan jika itu mungkin tolong maafkan saya ibu, saya menyesal karna sudah menelantarkan Vika dan Vita, di saat itu pikiran saya masih labil ibu, saya masih belum bisa memedakan mana yang benar dan mana yang salah, dan kalimat yang meminta Vika mengugurkan Vita itu semua hanya spontanitas bu, bukan sesungguhnya tulus dari hati, ampuni saya ibu kasih saya kesempatan untuk membuktikan bahwa saya ingin berubah dan mau merawat putri saya ibu."mohonya dengan sangat kepada Veli, dengan air mata yang terlihat dari sudut matanya itu.
Veli merasa tersentuh dengan semua itu, dia menatap ke arah Vita yang masih setia berdiri di sebelahnya.
"Ibu akan memberikanmu kesempatan untuk mendapatkan maaf dari Vika, karna yang kamu sakiti adalah Vika, dan ibu harap kamu bersungguh-sungguh bisa membuktikan bahwa kamu layak untuk Vika dan Vita," jawan Veli yang sontak memberikan sebuah harapan kepada Jendra.
Jendra langsung terlihat menangis haru mendengar itu, "terima kasih ibu, terima kasih," lirihnya dengan lembut.
Entah mengapa Veli yang melihat seorang pria bisa menangis menyesal seperti itu, membuatnya merasa tersentuh.
Dia tidak tau pilihanya ini benar atau salah, yang jelas menurutnya memang Vita sebaiknya hidup dengan Ayah kandungnya dinbandingkan Ayah tiri, karna dia takut jika kejadian-kejadian yang sering dia lihat di TV itu bisa terjadi pada anak dan cucunya.
Alvita Naqueenza Fortuta
To be continue.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
**Jangan pelit! Mimin, *Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra
__ADS_1