
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
“Tidak, aku tidak mengenalnya.” Ujar Langit, dengan menatap ke arah Vita.
“Tidak aku tidak mengenalnya,” timpalnya lagi, namun kali ini berbicara kepada teman - temannya.
Vita yang mendengar akan hal ini, kini tersenyum kecut sembari terus mengeluarkan air matanya. “Jadi kamu tidak mengenalku?” Tanya Vita meyakinkan apa yang dia dengar kini tidak salah.
Vita kesal, dan memajukan langkahnya, lalu menarik kerah baju Langit dan mencengkramnya dengan keras. “Kamu bilang tidak mengenalku ha?” Pekiknya, dengan segala ungkapan amarahnya.
“Selama ini aku hanya mencintaimu, selama ini aku hanya menempatkanmu di hatiku, selama ini aku menahan sakit karena belum bisa mengikhlaskan kepergianmu, lalu kamu sekarang berkata kamu tidak mengenalku?” Vita benar - benar begitu emosi, hingga dia berteriak tanpa memperdulikan orang - orang sekitarnya.
Teman - temannya Langit merasa bingung melihat kejadian saat ini, sehingga mereka memilih untuk meninggalkan Langit untuk menyelasaikan masalahnya terlebih dahulu.
“Kami duluan Langit,” pamit mereka yang dijawab dengan anggukan kepala dari Langit.
Setelah teman - temannya pergi, Langit kembali menatap ke arah Vita.
“Kamu -“ ucapnya terhenti ketika melihat Vita pingsan tepat di hadapannya.
“Mbak, mbak,” panggil Langit menyadarkan Vita, tetapi tidak ada respon sama sekali.
Langit yang merasa bingung, kini langsung menggendong tubuh Vita, dan membawanya masuk ke dalam mobil miliknya yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka saat ini.
Sesampainya di mobil, Langit langsung memasukan Vita ke dalam kursi bagian penumpang, dan bergegas masuk ke dalam kursi pengemudi.
“Hufftt,” Langit menghela nafasnya berat, dirinya tidak paham dengan apa yang terjadi saat ini.
****
Sudah empat puluh menit Langit menunggu keadaan Vita yang masih diperiksa di dalam. Dirinya masih setia menunggu, sampai keluarga Vita datang.
“Kamu?” Ucap suara yang baru saja tiba, dan melihat sosok yang tidak asing baginya.
“Kamu Langitkan?” Tanya pria yang tak lain adalah Jendra, Papah Vita.
Tadi di saat baru tiba di rumah sakit, salah seorang perawat mengenal Vita dan langsung menghubungi Papahnya untuk mengabari jika Vita dilarikan ke rumah sakit.
“Maaf -“ ucap Langit dengan sopan, masih dengan ekspresi tidak mengenali wajah - wajah orang yang tiba - tiba saja memanggilnya.
Jendra yang begitu penasaraan, langsung menarik tangan Langit untuk menjauh dari sana, dan menariknya ke tempat yang sepi.
“Maaf Tuan, ini ada apa ya? Kenapa saya ditarik seperti ini?” Tanya Langit dengan bingung.
Merasa tempat ini sudah pas, Jendra akhirnya menatap wajah Langit dengan begitu lekat. “Apa yang sebenarnya kamu lakukkan di sini?” Tanya Jendra langsung to the point.
__ADS_1
“Saya?” Tanya Langit dengan sedikit senyum kebingungan.
“Saya membawa anak Anda tadi yang pingsan saat di danau,” jawab Langit begitu santai.
Bruggghhhh, Jendra memukul Langit dengan tiba - tiba, membuat pria muda itu tersungkur, dengan memegangi pipinya.
Jendra yang marah, langsung mencengkram kuat kera baju milik Langit. “Aku tidak akan pernah memaafkan orang yang pernah menyakiti putri saya, seperti kamu! Dan sekarang kamu berpura - pura lupa mengenalinya.” Jendra berkata dengan penuh tekanan di setiap kalimatnya.
Langit yang mendengar akan hal itu, langsung melepaskan tangan Jendra dengan kasar dari lehernya. “Saya?” Tanyanya dengan suara mengejek Jendra.
“Bukankah Anda yang meminta saya menjauhi Vita dari dulu?”
“Ketika Anda mendengar bahwa saya hilang di gunung, Anda yang membuat sandiwara pada semua orang jika saya sudah meninggal!l”
“Dan saya, yang akhirnya berhasil selamat, berkat bantuan orang - orang desa, dan ketika kembali, Anda mengatakan bahwa Vita telah bertunangan dan tidak mau melihat wajah saya lagi!”
“Wajah saya rusak parah di saat kejadian itu, dan Anda mengatakan bahwa Vita tidak akan pernah mau menerima keadaanku yang seperti itu.”
“Sampai seseorang datang dan membantu membiayai saya untuk mengembalikan kembali wajah saya.”
“Anda, mengkhawatirkan putri Anda! Tapi Anda merusak kebahagiaan orang tua saya!”
Langit kini membuka semua rahasia yang terjadi selama ini. Karena Jendralah dia bertingkah seolah - olah mati.
Setahun lamanya dia merasakan sakit Hidup tapi seperti mati, karena malu dengan wajahnya yang rusak akibat tertimbun batu di saat jatuh dari pendakian.
Tapi apa yang dia dapatkan? Setahun menunggu Jendra tak kunjung menetapi janjinya, hingga seseorang datang kepadanya dan langsung membiayai operasinya, tetapi dengan syarat yang sama sekali tidak dia pahami.
Hanya saja, kemarin sempat pria itu memintanya untuk ke German, tanpa memberitahu apa yang dia harus lakukkan.
Tetapi, kemarin orang itu mengatakan tugasnya sudah selesai, dan sekarang dia bisa kembali melanjutkan hidupnya dengan tenang.
Akan tetapi, siapa sangka, jika tadi dia bertemu dengan Vita, sesungguhnya dia juga sangat merindukan wanita itu. Tetapi, rasa sakit akibat ulah permainan Papahnya, membuat dirinya merasa sangat dendam pada dirinya.
“Papaaaaahhhh,” teriak suara, yang membuat Jendra beserta Langit langsung menoleh ke arahnya.
DEG, jantung Jendra berpacu dengan cepat, ketika melihat sosok putrinya berdiri tidak jauh dari posisi mereka saat ini.
“Gawat,” batinnya, yang merasa bahwa Vita mendengar semua apa yang dikatakan oleh Langit barusan.
Tidak berbeda dengan Langit, pria itu merasa legah, karena saat ini, tanpa harus dirinya bongkar, Vita memang sudah mendengar sendiri, bagaimana kebusukaan seorang Jendra yang tidak lain adalah Papahnya.
Perlahan Vita berjalan mendekat ke arah Jendra dan Langit, lalu menatap Jendra penuh dengan rasa amarah. “Vita, Papah bisa -“
“Kenapa Papah bisa sejahat itu sama Vita?” Tanyanya langsung tanpa berbasa - basi.
__ADS_1
Jendra yang panik, merasa bahwa dirinya telah tamat saat ini. “Sayang, dengarkan dulu Papah,”
“Mau dengarin apa lagi Pah? Vita sudah dengar semuanya! Hisk, hisk,” tangis Vita pecah, ketika dia mendapatkan jika Papahnya berulah sejauh itu.
“Vita, Papah lakukkan semua ini demi kebaikan kamu sayang, Papah -“
“Kebaikan yang mana Pah?”
“Kebaikan apa yang Papah lakukkan, jika sampai harus menghancurkan keluarga orang lain Pah?” Vita benar - benar tidak habis pikir dengan Papahnya yang berani melakukkan hal setega itu.
Langit sejujurnya merasa kasihan dengan Jendra, tetapi, rasa sakit akibat ulah pria tua itu, jauh lebih menyakitkan dibandingkan dia saat ini.
Vita merasa sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi saat ini pada Jendra, dia mengusap wajahnya yang telah banjir air mata, lalu dia menoleh pada Langit yang berada di sampingnya. “Langit, maafkan atas semua kesalahan Papah, Demi namaku, aku akan melakukkan apa saja, asal kamu bisa memaafkan Papah aku. Langit.” Mohonya pada pria itu.
Langit tidak tahu harus berbuat apa saat ini, dia merasa bingung dengan kejadian tiba - tiba seperti ini. Hari yang diawali dengan begitu cerah, kenapa berubah menjadi duka seperti ini?
******
Berbeda halnya di sisi lain, Brio yang merasa sudah bosan tinggal sendiri, kini baru selesai menjual rumah beserta prabotannya kepada orang lain.
“Hemm, cuman laku 200 Miliyar,” ucapnya pelan, melihat buku rekening yang baru dia cetak.
“20 Triliun di tambah 200 Miliyar,”
“Sepertinya cukup untuk membeli rumah dan mobil di Indonesia nanti,” ujarnya lagi, berbicara pada dirinya sendiri.
Dirinya yang baru saja keluar dari rumah yang baru di jual itu, kini berdiri dengan menatap rumah yang pernah menjadi kenanganya bersama dengan Vita.
“Jika Daddy tidak menarik Fasilitasku, pasti rumah ini tidak akan aku jual.” Gerutunya terus menerus.
Dengan membuang nafasnya kasar, Brio mencari taksi segera untuk menuju bandara.
Dia melihat tiket boording yang semalam sempat dia beli, menunjukann waktu di mana 1 jam lagi dia akan meninggalkan negara German.
“Ada transit di Singapore 10 jam, mungkin aku bisa mencari oleh - oleh di sana sejenak.” Gumannya, lalu menyimpan kembali tiket pesawatnya ke dalam saku bajunya. Mengalihkan pandanganya ke araha jalanan yang penuh dengan mobil - mobil semacamnya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*