
🌹 Happy Reading 🌹
Di Mansion Manopo, Arvan terlihat sangat marah saat ini, dia menghancurkan seluruh barang-barang yang ada di sekitarnya.
Jenni hanya diam saja sambil menggelengkan kepalnya pusing, karna di larang juga percuma, toh jika hancur dia bisa membelinya lagi.
"Aaaarrrgggh kurang ajar!! Aiden sudah terlalu ikut campur di dalam kehidupan putraku," marahnya dengan memperlihatkan seluruh urat di wajahnya.
Emosinya meledak ketika dia mendapatkan kabar dari Robert jika Alson dengan berani sudah menikahi Vika, dan parahnya lagi Alson sudah berani mengambil langkah kehidupan menjadi seorang Mafia yang akan membuat hidupnya sendiri celaka.
"Buat apa kamu marah, bukankah itu yang kamu inginkan, ingat Pah, dia mejadi keras karna kamu juga keras," seru Jenni dengan sinis.
Arvan mendekat ke arah istrinya dengan tatapan penuh amarah, "Mah, kamu tau jelas jika semua yang aku lakukan ini untuk kebaikan putra kita satu-satunya, dan kamu paham akan hal itu," bantah Arvan dengan keras.
Jenni berdiri dari duduknya kembali menatap Arvan dengan tajam, "terbaik buat kita belum tentu terbaik untuk Alson Pah, ingat dia adalah putraku yang tersisa, jangan terlalu keras kepadanya. Nanti jika dia sudah masuk dalam dunia hitam maka kamu tidak akan pernah bisa menariknya kembali, kamu mau mengorbankanya seperti Albert, jawab Pah!" teriak Jenni dengan kesal.
"Itu tidak akan pernah ku biarkan," jawabnya lalu beralih mengambil pistol yang terletak di atas meja.
"Kamu mau apa?" Bentak Jenni yang menghalangi gerakan Suaminya, "aku akan membunuh Vika dan Aiden, karna sudah berani ikut campur dalam urusanku," jawabnya dengan penuh penekanan.
Jenni menarik pistol itu dan melemparkanya ke sembarangan arah, "enggak, Vika adalah menantu kita sekarang, dan Aiden adalah keponakan mu, sadarlah Arvan kamu jangan bertindak gila sekarang! Kamu marah karna kepergian Albert tapi gak gini caranya, aku adalah ibunya dan aku yang paling sakit karna semua ini, tapi semua itu tidak lantas sebagai alasan kamu menyakiti semua orang, ingat Shea adik kamu, ingat Ibu Vika, jika kamu sudah merasakan sakit kehilangan anak, maka jangan buat orang lain ikut merasakanya," pinta Jenni dengan mulai menitihkan air matanya.
__ADS_1
Arvan yang melihat itu kini mengalihkan pandanganya, "jika Alson tidak mau kembali, maka detik itu juga aku akan membunuh istrinya," tegasnya dan melangkahkan kakinya pergi.
"Jika kamu berani melakukan itu, maka aku akan pergi dari hidupmu untuk selamanya," ancam Jenni kepada Arvan.
Arvan menghentikan langkahnya sejenak, "aku tidak perduli, karna aku yakin kamu tidak akan pernah bisa melangkahkan kaki mu keluar dari Mansion ini, dan jika kamu bunuh diri, kamu jelas tau aku kan, pasti aku akan berusaha menghidupkan mu kembali," jawab Arvan tanpa menoleh, dan kembali melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Jenni yang tidak percaya dengan kalimat suaminya.
"Apakah dia sudah sakit jiwa? Bahkan nyawa manusia tidaklah berarti baginya," tangis Jenni dalam keheningan.
Dia tidak marah dan sakit hati dengan kalimat Arvan, dia hanya marah dengan keadaan yang mengubah suaminya menjadi sosok monster yang mengerikan.
"Albert, jika bisa datanglah nak walau hanya di dalam mimpi, sadarkan Papahmu dari kegilaanya itu, kamu taukan jika dia adalah sosok yang hangat, namun entah mengap sekarang dia berubah menjadi sosok yang menakutkan, Mamah mohon sayang, datanglah," pintanya dalam hati, berharap ada keajaiban putra keduanya yang menasehati Papahnya walau hanya dalam mimpi.
Dia tidak perduli jika Vika atau siapapun meghalangi, maka dia akan segera melenyapkanya tanpa belas kasihan.
Robert yang sedari tadi memperhatikan Arvan itu, kini diam-diam mengirimkan teks pada Aiden untuk segera menyembunyikan Vika, dia takut jika Alson melawan maka orang lain akan mendapatkan akibatnya.
"Segera sembunyikan Vika, dan beritahu kelada Alson untuk tidak membantah atau menolak ke inginan Lord Arvan saat ini, jika tidak itu akan sangat berbahaya," tulisnya dalam pesan singakat itu.
Arvan memperhatikan gerak gerik yang mencurigakan dari Robert, lalu dia tersenyum iblis. "Percuma kamu mengrimkan pesan, karna aku sudah mengepung seluruh kediaman mereka," ucap Arvan yang sontak mengagetkan Robert.
"Lord-" Seru Robert terhenti ketika melihat tangan Arvan yang memberikan kode padanya.
__ADS_1
"Enough Robert, ini adalah masalah ku dengan putraku, dan ini semua salahmu karna tidak memberitahuku jika wanita itu ada di Indonesia, sehingga dengan bodohnya aku mempertemukanya dengan putraku." ucap Arvan yang merasa bersalah dengan pertemuan mereka.
Robert mengeduskan nafasnya kasar, "bukankah dia yang memintaku untuk mengehentikan pecarian dan penyelidikan tentang wanita itu, lalu sekarang dia menyalahkan ku, oh God, coba saja ada Albert, maka aku yakin mulutmu itu akan diam membisu Lord," batin Robert yang merasa kesal karna di salahkan oleh Arvan.
*****
Sedangkan di sisi lain, Aiden yang menerima pesan dari Robert itu, kini mati langkah, bahkan dia tidak bisa menghubungi siapapun karna jaringan ponselnya telah di blokir dan sudah jelas pelakunya adalah Arvan.
"Shitt! Tua bangka gak punya otak, beraninya kau," umpat Aiden yang berusaha mencari alternatif untuk segera menemui Alson dan tak lupa dia membawa Freya ikut bersamanya.
To be continue.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
**Jangan pelit! Mimin, *Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra
__ADS_1