
🌹 Happy Reading 🌹
Sebulan kemudian.
Semenjak hari itu, Arvan meminta Mario dan keluarganya tetap berada di Italia untuk bisa bersama dengan yang lainya.
Jika hanya masalah perushaan. Ada Jet pribadi yang sudah di setting dengan kecepatan penuh. Sehingga jarak antara Italia dan Paris, hanya membutuhkan waktu satu jam saja dari yang seharusnya 2 jam.
Saat ini terlihat dari para pria yang tengah mencari istri-istri mereka yang pergi hilang entah kemana.
"Arvan coba kamu gunakan akal pintarmu untuk mencari tau dimana istri-istri kita sekarang!" Perintah Mario yang nyaris frustasi karna Arvan yang tak kunjung mendapatkan dimana istri-istri mereka.
Karna di lihat dari CCTV mereka tidak ada jejak sama sekali, bagaikan hilang di telan bumi.
"Aku sudah berusaha mencarinya Mario, kamu bisa sabar tidak," bentak Arvan yang sama pusingnya dengan besanya satu ini.
Robert juga terlihat mencari keberadaan istrinya dan juga wanita lainya di sekeliling rumah, namun tidak menemukanya.
Alson terlihat merengek-rengek sedari tadi mencari keberadaan istrinya. Membuat Arvan tidak bisa berpikir jernih saat ini.
Namun tiba-tiba saja Mario teringat akan satu hal, ketika istrinya sering sekali berbuat seperti ini kepadanya. Dan sepertinya dia sudah tau jawaban keberadaan istri-istri mereka.
"Aku sudah tau keberadaan mereka di mana," ucap Mario tiba-tiba mengejutkan Arvan dan yang lainya.
Dengan antusias Arvan dan yang lainya menoleh ke arah Mario, "dimana ? Kalo kamu tau kenapa kamu tidak memberitahukanya sedari tadi," bentak Arvan yang sudah merasakan kesal pada besanya satu ini.
"Iya Daddy, di mana para wanita ini jika Daddy memang mengetahuinya." Sahut Alson juga yang sangat merasakan khawatir pada istrinya saat ini.
"Jika kalian ingin aman, maka cepatlah berpura-pura tidur sebelum masalah besar terjadi," jawab Mario asal. Karna dia sudah apanyang akan terjadi setelah ini.
Arvan, Alson dan Robert kini saling menatap dengan bingung, melihat Mario yang sudah mengambil posisi tidurnya.
Sedangkan di sisi lain, terlihat di sebuah ruangan para wanita sedang menangis tersedu-sedu menonton sebuah drama Boolywood yang sudah sangat jelas jika Edenlah yang meracuni pikiran mereka. Sehingga seperti saat ini para wanita yang lainya sudah ikut masuk ke dalam Virus sharulkhan.
"Hisskk,,hisskkk, itu kenapa sih bapaknya jahat banget, masa anaknya di biarkan bunuh diri dari pada pacaran, nanti aku laporkan dia sama Arvan biar di basmi," seru Jenni yang sudah terbawa suasana emosi dengan film mohabatten yang sedang mereka tonton itu.
Eden, Gina dan Vika yang sudah ikut menangis pun ikut menganggukan kepalanya setuju.
__ADS_1
Jangan lupakan Vika yang saat ini sudah bisa bicara karna bantuan Theraphy dari Gina selama sebulan ini.
"Tapi akhirnya bahagiakan, siswa tiga bisa menemukan cintanya," balas Gina yang menangis terharu melihat kebahagiaan mereka.
Dan setelah dua jam lamanya mereka menonton film, akhirnya drama itu tamat, menyisahkan rasa penasaraan dari mereka tentang sosok Sharulkha.
"Itu tidak mungkin, karna Mario selalu menolak permintaanku untuk bertemu dengan sahrulkhan." Jawab Eden ketika Jenni mengusulkan pendapat untuk meminta izin pada suami-suami mereka untuk membawa sharulkhan ke sini.
"Lalu bagaiamana caranya? Aku sudah sangat ingin bertemu denganya?" tanya Jenni lagi.
Gina dan Vika terlihat ikut berpikir saat ini, karna sebenarnya mereka juga menyukai bintang besar ini.
"Hemm,,sebenarnya ada satu cara yang mungkin akan berhasil," ucap Vika secara pelan namun masih terdengar oleh mereka.
Dengan antusias Eden dan Jenni mendengarkanya, "katakan sayang, katakan pada kami apa caranya?" Tanya Eden dan Jenni yang sudah tidak sabar mendengar ide itu.
Vika langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah vidio yang memperlihatkan ide darinya.
"Apa kalian yakin ini akan berhasil?" tanya Eden penuh keraguan.
Eden dan Jenni menganggukan kepalanya, "baiklah kita coba, tapi siapa yang akan melakukanya?" tanya Jenni bingung.
Namun Eden,Vika dan Gina langsung menatapnya dengan penuh permohonan, karna dia tau jika Jennilah wanita kesayangan dari Arvan. Dan keputusan Arvan adalah yang paling mutlak di antara mereka.
Jenni melemah seketika mendapatkan pendangan itu, "oke,oke," jawabnya pasrah.
Dan setelah itu mereka bersiap-siap untuk melakukan rencana mereka dengan berakting sedikit.
"Tolongg,,tollonngg,,tolong," teriak mereka bertiga bersama.
"Arrrgghh,,eengghhhrrr," raungam Jenni sepertin harimau, meleok-leokan tubuhnya berakting kesurupan.
Ketiga pria yang sedang bingung tadi, ketika mendengar jeritan ketiga wanita tersebut, langsung berlari mendatangi sumber suara itu.
Sedangkan Mario, memilih menulikan pendengaranya karna dia sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya. "Mudahan ketiga pria itu tidak bodoh untuk menyadari ide gila wanita-wanita itu." Gumamnya pelan, dan dengan diam-diam dia melangkah bersembunyi agar tidak menjadi sasaran selanjutnya.
Arvan,Alson dan Robert kini berlari mendatangi suata jeritan itu, "ada apa ini?" Tanya Arvan yang begitu khawatir melihat kondisi istrinya yang menjerit tak karuan.
__ADS_1
"Aaarrrggggg hayang sharulkhan,hayang sharulkhan," raungnya benar-benar gila.
Arvan langsung memeluk tubuh Jenni dengan erat, dan di susul oleh Alson yang memberikan ketenangan pada istrinya.
Sedangkan Gina dan Robert masih saja terlihat malu-malu kucing.
Jenni memberontak dari pelukan Arvan dan mendorongnya hingga telempar, "ini ada apa sebenarnya? Ada yang bisa tolong jelaskan," bentak Arvan yang menahan rasa khawtirnya.
Eden yang menyadari jika tidak ada suaminya, langsung mengirimkan pesan singkat kepada Mario, "lima menit kamu gak ada di sini, maka 5 hari gak ada jatah," ancamnya dengan tersenyum licik.
Dan benar saja, belum sampai beberapa menit Mario sudah menampilkan batang hidungnya takut jika tidak dapat jatah lima hari, bisa mati berdiri dia nanti.
"Sayang,heyy,Mah ini Papah, sadarrlah, ini Papah," seru Arvan frustasi melihat Jenni yang terus menerus meraung seperti orang gila.
Dengan replek Arvan langsung mengambil air putih di atas meja dan memberikanya pada Jenni agar dia bisa sadar, "minum dulu ya Mau," ucap Arvan lagi. Memberikan minuman itu pada Jenni.
Praaaannnggg Jenni menolak minum itu dan menepis tangan Arvan dengan kasar, "aku gak mau air putih," bentak Jenni dengan suara raunganya.
"Terus kamu mau apa Mah? Papah bingung kenapa sih kamu," Serunya bingung. Karna dia baru pertama kali melihat orang seperti ini.
"Arrrggghh, aku mau coca colaa, eennggh," balas Jenni masih berpura-pura kesurupan.
Alson dan Robert langsung menggaruk kepalan mereka bingung.
"Orang sakit boleh minta coca cola meh?" tanya Alson yang mengetahui jika itu adalah epilepsi.
To be continue.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal 😭*Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
Follow IG Author @Andrieta_Rendra
__ADS_1