
🌹 Happy Reading 🌹
Beberapa bulan telah berlalu, namun masih belum ada perkembangan apapun dari kondisi Vika.
Alson merasa pusing sendiri, Papahnya terlalu berkuasa untuk di lawan, hingga keluarga besar Lesham dan Jonathan saja tidak bisa bekutik untuk membantunya.
Pernah sekali dia mendatangi Aunty Stellanya untuk meminta donor mata, namun Stella hanya bisa diam dan tidak bisa menolongnya, karna hingga saat ini memang belum ada yang bisa di jadikan sebagai pendonor.
Sedangkan Mario dan Eden, juga sudah berusaha membantunya namun hasilnya masih sama, dalam beberapa bulan belakangan ini tidak ada yang mati mendadak atau misterius yang bisa di jadikan pendonor.
Saat ini Alson menatap Vika yang tengah terduduk di pinggiran kolam renang rumahnya, "sayang," tegurnya pada Vika yang menoleh mencari sumber suara.
"Aku antar ke kamar ya, kamu istirahat dulu," seru Alson dengan mulai menggengam tangan Vika dan menuntunya masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di dalam kamar, dengan perlahan Alson meletakan tubuh Vika dan duduk di atas tempat tidur.
Alson tersenyum mengusap lembut kepala kekasihnya. "Aku pergi dulu ya sayang, aku masih ada urusan sebentar,"pamintnya dengan lembut kepada Vika.
Namun ketika dia baru melangkah, Vika lebih dulu menahan tanganya. "Ada apa ? Aku tidak boleh pergi?" tanya Alson pada Vika yang terus menggengam tanganya.
Vika menganggukan kepalanya, dan meraba mencar alat tulis sebagai alatnya berkomunikasi.
Alson segera mencari Pulpen dan buku untuk Vika agar dia bisa menyampaikan apa yang dia ingingkan.
"Ini sayang," ucap Alson memberikan alat tulis itu pada Vika.
Dengan cepat Vika langsung menuliskan sesuatu di dalam situ, "T-A-M-A-N B-U-N-G-A," tulisnya pada kertas itu.
Alson berfikir sejenak untuk mengerti apa yang di maksud kekasihnya ini, "taman bunga, kamu mau ke taman bunga sayang?" tanyanya yang di anggukan oleh Vika.
"Oh nanti aku temanin ya sayang." Jawabnya lagi dengan pelan.
Namun Vika menggelengkan kepalanya pelan menolak apa yang di katakan oleh Alson. Dan kembali menuliskan sesuatu di dalam kertas itu, "S-E-N-D-I-R-I," tulisnya lagi yang sontak membuat Alson membulatkan matanya besar.
"Enggak Vika, kamu jangan gila! Kamu itu bukan orang sehat yang bisa berpergian sendiri," tolaknya pada permintaan Vika.
__ADS_1
Namun Vika dengan cepat menangis dan menangkupkan tanganya memohon agar Alson mau menurutinya. "Enggak Vika, aku tetap tidak akan mengizinkan kamu, apapun itu alasanya," tolaknya dan segera melangkah pergi.
Dia takut jika terus menerus melihat Vika yang memohon kepadanya nanti dia akan luluh. Sedangkan membiarkan Vika berpergian sendiri itu sama saja dengan mengantarnya pada kematian.
Alson yang pusing kini memilih pergi ke apartemen miliknya, untuk menenangkan sejenak pikiranya. Dia sudah tidak tau harus berbuat apa lagi, keuangan juga semakin menipis saat ini, berulang kali melakukan operasi pita suara namun tetap juga tidak membuahkan hasil.
Ketika dirinya sampai di Apartemen, Alson langsung mengambil botol Wine miliknya untuk menghilangkan segala beban di kepalanya, dia mengingat kembali saat dimana Jendra datang menemuinya pada waktu mereka baru pulang dari Singapore.
Flashback on.
Jendra terlihat datang menghampiri Alson yang tengah duduk di dalam restoran miliknya.
"Ada yang ingin aku bicarakan sebentar," seru Jendra dengan tersenyum tipis menatap Alson.
Dengan malas Alson mempersilahkan Jendra untuk duduk dan bicara denganya. "Ada apa?" Tanyanya langsung to the point.
"Aku menyerah Alson," serunya yang sontak membuat Alson nyaris tertawa mendengarnya.
"Menyerah? Kenapa kamu menyerah ? Berjuang aja belum," sinisnya menatap Jendra dengan penuh kebencian.
"Pergilah Jendra, saat ini aku sedang tidak ingin di gangu." Serunya yang merasa muak melihat tampang tidak bersalah dari mantan sahabatnya ini.
Jendra yang mengetahui bagaimana jika Alson marah, kini segera pergi dari hadapan Pria itu.
Karna dia bisa melihat jelas kobaran api amarah yang berada di dalam diri Alson.
Flashback off.
Di saat Alson tengah memejamkan matanya, tiba-tiba saja ponselnya berdering dan menampilkan nama Mamahnya di dalam.
"Hallo Mah." Serunya menganggkat panggilan dari Mamahnya.
".............."
"Alson akan masih berusaha sendiri Mah, tolong jangan paksa Alson untuk memilih di saat seperti ini, Mamah juga wanita harusnya tau dengan perasaan Vika saat ini. Jangan karna takut sama Papah, Jadi Mamah ikut-ikutan memaksa Alson Mah, please." Jawabnya langsung mematikan panggilan di ponselnya.
__ADS_1
Alson merasa pusing sendiri, setelah kepergian Albert semuanya benar-benar berubah, Papahnya kembali menjadi manusia kejam tak berperasaan, dan Mamahnya kini kembali menjadi pengikut Papahnya.
Bahkan tak jarang sekarang Arvan sering kali memperlihatkan sifat aslinya dan membunuh siapapun tanpa ada rasa kasian ataupun perduli dengan larangan dari Jenni yang meringis setiap melihat korban-korban dari papahnya.
Alson sudah mati langkah saat ini, dia juga nyaris menyerah melawan papahnya.
Ini bukan masalah yang bisa dia lalui dengan sendiri tanpa bantuan siapapun, mengingat kekuasaan Papahnya yang sangat sulit di tandingi membuatnya stuck dalam mengambil langkah.
"Vika, apakah jika aku meninggalkanmu maka semuanya akan baik-baik saja?" Gumamnya sendiri bertanya tanpa siapapun bisa menjawabnya.
"Mungkin jika aku tidak memaksa untuk terus bersamamu, kejadian ini tidak akan pernah terjadi, Papah ku tidak akan pernah mengancam ibumu dan tidak akan memaksamu kembali kepada pria itu, aku harus apa sekarang ya Tuhan, kenapa semuanya begitu rumit sekarang." Keluhnya yang benar-benar merasa frustasi dan terjepit dengan keadaan ini.
Saat ini dia hanya mempunyai dua pilihan saja, berhenti berjuang dan menerima semua yang di putuskan oleh Papahnya.
Atau terus berjuang dengan kemampuanya sendiri, namun tidak tau kapan harus berakhir.
Benar-benar sebuah keputusan yang sangat sulit untuk di ambil.
Bahkan sempar terlintas di dalam pikiran Alson untuk membunuh seseorang agar bisa mendapatkan donor itu.
Namun Alson bukanlah Albert yang bisa membunuh dengan sebegitu kejinya, bahkan ketika melihat hewan mati saja dia tidak tega apa lagi dia yang akan membunuh.
Itu sangatlah tidak mungkin di lakukan, karna ketika Vika tau nanti, pasti kekasihnya itu akan membenci dirinya dan tidak akan menerimanya kembali.
Alson yang merasa pusing tidak bisa mengambil jalan, kini lebih memilih untuk memejamkan matanya, dan mengistirahatkan otaknya sejenak. Dia terlalu lelah untuk berpikir tentang hari selanjutnya.
To be continue.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
**Jangan pelit! Mimin, *Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
Follow IG Author @Andrieta_Rendra