
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
Seperti yang dikatakan oleh Brio kemarin, kini Brio dan Vita, terlihat sudah begitu rapi dengan pakaian mereka masing - masing.
Vita yang terlihat cantik mengenakan Dress brokat sepanjang lutut itu, di tambah dengan Hairdo ala - ala darinya, dengan make up senatural mungkin. Membuat kesan remaja di wajahnya itu semakin terpancar.
Sedangkan Brio dengan kemeja putih tanpa dasi. celana kain ketat panjang, serta Jas hitam yang melekat ditubuhnya. Membuat kesan pria gentle itu melekat padanya.
Pakaian simple itu mereka gunakan, karena mereka merasa bahwa ini hanyalah pernikahaan ulang untuk menyatakan mereka kembali rujuk saja.
“Kamu sudah siap?” Tanya Brio pada Vita, yang terlihat masih sibuk dengan make upnya.
Vita menoleh sekilas pada Brio yang sedari tadi sedang menunggunya di depan pintu kamar. “Sudah,” jawab Vita, namun masih terus menatap cermin.
Brio tahu, bahwa Vita ini pasti tidak akan selesai jika tidak dirinya yang menghampirinya. Brio kembali melangkah masuk ke dalam kamar, lalu mendekap tubuh Vita dari belakang. “Brio! Lepaskan!” Pinta Vita, menepuk - nepuk tangan Brio yang sedang melingkar di pinggang kecilnya.
“Tidak akan lepas, sampai kamu juga selesai dengan make up mu!” Tekan Brio, membuat Vita tersenyum, sembari menatapnya dari cermin.
“Aku tidak suka kamu berdandan terlalu cantik,” ucap Brio seperti anak kecil, membuat Vita merasa gemas padanya.
“Kenapa?” Tanya Vita dengan iseng.
“Cause you’re mine.” Bisik Brio pelan di telinga Vita.
Vita tersenyum menggeleng - gelengkan kepalanya pelan. “Kamu ada - ada saja, memangnya siapa yang mau mengambilku.” Tandasnya, dan lalu mencubit tangan Brio, agar melepaskan dekapannya.
“Ayo berangkat, nanti telat lagi.” Vita berusaha mencari topik lain, agar jantungnya yang sedari tadi berdegup dengan kencang karena ulah rayuan Brio yang begitu biasa tapi menurutnya luar biasa.
Brio tersenyum, melihat wajah Vita yang sudah memerah seperti kepitung rebus. Apa lagi istrinya itu sampai tidak berani melihat wajahnya, karena menyembunyikan rasa saltingnya.
***
Setelah ke duanya pamit, dan menitipkan rumah pada Beverly, terlihat ke duanya sedang menunggu lift yang dari lantai bawah.
__ADS_1
“Hallo,” sapa seseorang kepada mereka.
“Hallo,” sapa Vita balik.
“Ohh, you all stay in this house?” Tanya seseorang itu.
“Yes, this is our house.” Jawab Vita dengan senyumannya.
“Ohh okey, my name is Zaidah, I stay in that house, so now iam your neighbor.” Seru wanita itu, yang terlihat seperti ibu - ibu keturunan India.
“Hi, hello Mrs Zaidah, nice to meet you.” Sapa Vita dengan begitu ramah.
“Nice to meet you to,” sahut Zaidah tak kalau ramah.
Di saat mereka sedang mengobrol, terlihat lift yang terbuka, dan mereka bertiga terlihat masuk ke dalamnya.
Tinggg, pintu lift terbuka dan sampailah mereka di lantai satu, yang menjadi tempat parkir mobil dan lain - lain untuk penghuni apartemen.
“Tetangga tadi ramah ya,” ucap Vita pada Brio, yang sepertinya tidak nyaman dengan obrolan Vita dengan tetangga tadi.
“Kamu kenapa sih? Tidak ada salahnya dong, kalau ada tetangga yang ramah sama kita.”
“Bisa sajakan, suatu saat kita memerlukan bantuan, dan tidak mungkin kita hidup secara invidualisme.” Ketus Vita, yang merasa bahwa Brio terlalu bersikap cuek, hingga masalah dirinya ngobrol dengan tetangga tadi, dirinya merasa kesal.
“Aku hanya merasa kurang nyaman saja sayang, dan inikan baru permulaan, dan mungkin aku juga akan menyesuaikannya.” Brio membela dirinya, agar Vita tidak terus kesal padanya.
Namun Vita sudah lebih dulu merasa kesal dengan jawaban Brio yang awal. “Ayolah Sayang, itukan hanya perasaan di awal.” Seru Brio lagi, yang merasa kalang kabut sendiri ketika melihat Vita memasang wajah cemberutnya.
Vita menghelas nafasnya kasar, “oke, oke,” sahut Vita, yang kembali harus menyesuaikan kebiasaan hidupnya serta kebiasaan hidup Brio yang terkesan sangat privasi.
***
Setelah masalah kecil ke duanya tadi selesai, kini Vita dan Brio terlihat menikmati perjalanan mereka menuju gereja tempat pemberkatan mereka akan berlangsung.
__ADS_1
Brio dan Vita sama sekali tidak berniat memberitahukan pemberkataan ulang ini kepada keluarga mereka masing - masing. Karena bagi mereka, mungkin hidup di Singapore dengan Brio yang bekerja sendiri berusaha menghidupkan keluarganya dengan hasil kerja kerasnya menjadi anak buah dari orang lain. Itu akan membuat kehidupan rumah tangga mereka menjadi berkat.
Vita juga sudah mengatakan pada Melly, mungkin secepatnya dia akan mengundurkan diri dari dunia hiburan serta modeling yang telah membesarkan namanya.
Di sinilah Vita berjanji di hadapan Tuhan, bahwa dia akan berusaha menjadi seorang istri dan ibu yang baik untuk mengurus rumah dan anak - anak mereka kelak nanti.
***
Tidak lama waktu yang mereka butuhkan untuk mendaftarkan kembali pernikahaan mereka. Kini Vita dan Brio sudah kembali duduk di dalam mobil, sembari menatap buku nikah mereka yang baru, serta cincin berlian yang Brio sematkan tadi di jarinya.
“Waahhhhhh, cincin ini sangat indah, Kapan kamu membeli cincin ini?” Tanya Vita, merasa penasaraan, kapan suaminya membagi waktu untuk mecarikannya cincin, sedangkan beberapa hari ini Brio terlihat sangat sibuk.
“Cincin itu aku beli, bersamaan dengan waktu aku membelikan semua barang - barang yang ada di rumah.” Jawab Brio jujur.
Vita menoleh melihat wajah suaminya, yang masih terus memandang buku nikah mereka. “Ada apa?” Tanya Vita.
“Aku hanya melihat buku ini saja, dan berharap jika ini adalah buku nikah terakhir kita.” Jawab Brio, membuat Vita yang mendengar kalimat itu, langsung memeluk lengan kekar milik suaminya, di ikuti dengan kepalanya yang menyender di bahu Brio.
“Berjanjilah untuk selalu hidup bersama, hingga cinta di dalam hati kita ini akan tumbuh dengan sendirinya.” Ucap Vita, sekali lagi memberitahukan kepada Brio, bahwa mereka akan terus selalu memegang kepercayaan pada diri mereka masing - masing.
Brio menganggukan kepalanya pelan. Mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Vita istrinya.
Diapun juga berharap bahwa ke depannya dia bisa menjadi seorang kepala keluarga yang baik dan bisa menjadi ayah serta suami yang bertanggung jawab untuk keluarganya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*