
🌹 Happy Reading 🌹
Ketika acara lamaran paksa antara Robert dan Gina berlangsung, Arvan segera menghubungi seluruh pihak keluarga. Seperti Stella, Alson dan Mario.
Dia menghubungi dan mengatas namakan jika Robertlah yang sudah kebelet ingin nikah. Bahkan tak segan-segan dia meminta agar Vika dan keluarganya untuk pindah ke Italia tinggal bersama di Mansion Manopo.
Saat ini Alson sedang memandang ke arah Vika dan ibu Veli yang sedang sama-sama terdiam dengan permintaan Lord Arvan yang terkesan sangat mendadak itu, "jadi bagaimana sayang? Apa kamu mau kita pindah ke Italia? Kasian Mamah Jenni sayang dia sendirian di sana," ucapnya memberikan pengertian pada istrinya.
"Tapi bagaimana dengan Papah kamu Al? Dia kan sangat menakutkan," sahut Veli yang ingat jika dulu pernah di ancam oleh si tua bangka itu.
"Papah kan sudah merestui kami Bu, dan dia juga bilang jika Vika bisa melakukan pengobatan di Italia saja," balasnya, terus berusaha untuk meyakinkan mertua serta istrinya ini.
Alson kembali menggengam tangan Vika dengan penuh kelembutan, "sayang ayolah, aku juga ingin dekat dengan Mamah, kamu pasti ngerti kan, bukankah lebih baik jika kita berkumpul jadi satu keluarga?" Pintanya pada Vika.
Dengan berpikir panjang, Vika menggukan kepalanya sebagai jawaban dari permintaan suaminya, dan membentuk tangan dengan kata OK.
"Terima kasih sayang," ucapnya dengan menghambur di pelukan hangat tubuh Vika.
__ADS_1
Veli tersenyum dengan bahagia melihat putrinya kini sudah mendapatkan sosok pria yang begitu sempurna mendampingi dirinya. "Baiklah jika begitu biar Ibu urus surat-surat Vita untuk pindah ke Negara lain ya," seru Veli dengan penuh bahagia.
"Eihh gak perlu Bu, Papah sudah mengurus semuanya, Vita akan home scholling di sana sebagai tanda dia melakukan pengenalan lingkungan negara barunya dulu," ucap Alson memberitahukan jika Papahnya sudah mengurus semuanya dengan sekali jetakan tangan saja.
"Ehm jika begitu, Ibu akan menyiapkan barang-barang untuk di kemas," lanjutnya lagi, namun Alson langsung tersenyum dan menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan.
"Tidak perlu Ibu, karna Papah sudah membelikan kalian semua barang baru, jadi kalian hanya tinggal peru bawa diri dan barang yang berharga saja, cukup itu," balasnya lagi.
Veli yang sudah tidak tau apa yang ingin di siapkan kini memilih duduk kembali, dan bermain bersama dengan Vita.
Di sisi lain di sebuah rumah, terlihat sebuah kamar yang telah hancur berantakan. Di dalamnya terlihat ada seorang pria yang sudah mengamuk menggila akibat depresi yang dia dapatkan.
"Aaaarrrrgggggghhhhh, Vikaaaa," teriaknya tidak karuan. Braaakkk praangggg, Suara seluruh barang yang dia hancurkan.
"Jendra tenanglah Nak, kamu tuh sebenarnya kenapa?" ucap Dyzon yang bingung melihat Jendra seperti ini.
Jendra terduduk dalam diam, dan menangis dengan menangkupkan kedua wajahnya, "aku tersiksa Pah, aku mencintainya tapi karna Papah yang egois aku jadi jahat di depanya, dari awal hanya dia yang aku cintai Pah, hanya Vika tapi kenapa Papah selalu mengancamku untuk selalu berjauhan denganya, hisskkk,,hisskk,"tangisnya yang sudah merasakan jiwa penolakan akibat seluruh perintah dari Papahnya.
__ADS_1
"Dulu ketika aku menidurinya, Papah juga yang menyuruhku menjauhinya, padahal Papah jelas tau jika aku bersalah dan ingin bertanggung jawab, namun karna gengsi Papah mengancamku dan memaksaku untuk berkalimat kasar denganya, hingga dengan tega aku menelantarkan Putriku, dan lalu Papah kembali melakukan hal seperti itu kepadaku, memintaku menyerah sebelum aku berjuang," serunya dengan menginat semua kejadian di masa lalu, ketika Dyzon mengetahui tentang kenakalanya di saat melalukan hubungan terlarang bersama Vika.
"Papah akan mencarikan wanita yang jauh lebih baik darinya Jendra, jangan bodoh kamu! Hanya karna merelakan satu wanita makankamu menjadi gila," balasnya Dyzon yang sama sekali tidak bisa melihat penderitaan anaknya sendiri.
Jendra menatap Papahnya dengan penuh kebencian, "sampai matipun aku hanya mencintai Vika dan putri kami, aku lelah dengan semua pengaturan Papah." Serunya lalu memilih melangkah pergi meninggalkan Papahnya sendiri di kamarnya.
Dia memilih untuk mengendarai mobilnya ke sembarangan Arah. Tidak tau kemana tujuanya saat ini.
Jujur saja hatinya begitu sakit mendengar Vika mencintai sahabatnya sendiri, namun dia bisa apa? Dia sudah begitu jahat dengan Vika dan putrinya, lalu sekarang dia mengharap jika Vika akan kembali kepadanya hanyalah mimpi saja.
Jika saja masa lalu bisa di putar kembali, maka dia akan memilih untuk meninggalkan rumah dan hidup sederhana bersama Vika, namun karna masih remaja, dia tidak bisa berfikir jauh ke sana, dia hanya takut jika Papahnya menarik semua fasilitasnya. Maka dia tidak bisa hidup bersenang-senang lagi.
Namun penyesalan tetaplah penyesalan, mau di kembalikan pun juga sudah tidak bisa. Karna kita akan bisa melihat sesuatu itu lebih berharga, saat kita mengetahui dia sudah hilang dan dimiliki oleh orang lain, ingat jangan terlalu senang mempermainkan hati yang benar-benar jatuh cinta kepadamu karena suatu saat nanti setelah ia memutuskan untuk pergi, dan kamu akan menyesalkan hal itu.
"Seandainya aku terlahir kembali, akan kuperbaiki kesalahan dan penyesalanku di masa-masa itu, penyesalan terbesarku adalah pernah hadir ke dalam kehidupanmu dan menghancurkan kesempurnaan hidupmu,"
\~\~Rajendra Vico Adriano\~\~\~
__ADS_1