
🌹 Happy Reading 🌹
Setelah beberapa hari di rumah sakit, kini tiba saatnya Vika sudah diperbolehkan untuk balik ke Mansion.
Tetapi, kali ini mereka harus pulang hanya dengan membawa salah satu putra mereka, yaitu Kali, sedangkan Kale terpaksa harus dirawat di rumah sakit, karena Dokter mengatakan bahwa berat badan Kale belum cukup untuk keluar dari incubator serta tubuhnya yang tiba - tiba saja menguning dan lagi waktu kelahirannya dia sempat mengalami sesak nafas yang begitu parah. membuatnya harus menerima perawatan lebih jauh lagi.
“Sudah, tidak apa - apa sayang, semoga aja besok Kale sudah bisa kita jemput.” Ucap Alson pada Vika yang terus saja merasa sedih karena ternyata dia tidak bisa membawa ke dua putranya bersama - sama.
“Sepertinya aku akan tinggal dulu di sini, untuk menjaga Kale, apakah bisa?” Tanya Vika tiba - tiba.
Alson berpikir keras untuk hal itu, memang benar jika putranya itu pasti membutuhkan ibunya yang harus selalu menjaganya, tetapi bagaimana dengan Kali?
“Sayang, aku akan pummping untuk menyediakan stock Asi untuk Kali, doakan saja semoga Kale bisa cepat keluar dari sini.” Ucap Vita lagi untuk meyakinkan suaminya, jika semuanya akan baik - baik saja.
Alson menganggukan kepalanya pelan, menyetujui apa yang diminta oleh istrinya, “Baiklah sayang, jika kamu di sini menjaga Kale, maka aku dirumah akan menjaga Kali,”
“Kamu tenang saja, aku juga sudah mengambil cuti 1 bulan dari Papah, dan selama sebulan ini, Papah dan Mamah juga akan mengambil libur. Jadi kami akan menjaga kalian bertiga.” Alson berkata, agar bisa menenangkan istrinya.
Dia pernah mendengar, bahwa tidak mudah menjadi sosok ibu, apa lagi salah satu putra mereka ada yang sakit, membuat Alson harus bisa memahami apa yang diinginkan oleh istrinya.
***
Setelah berkesepakatan tadi, kini tinggallah Vika sendiri di rumah sakit, menunggui putranya yang masih berada dalam ruangan Nicu, untuk di sinari, agar kulitnya yang menguning bisa kembali sempurna.
__ADS_1
Sedangkan Alson yang baru saja sampai di Mansion, kini disambut dengan hangat oleh Arvan dan Jenni, “Kali cucu Nenek,” ucap Jenni dengan begitu riang, dan langsung mengambil alih Kali dari tangan Alson.
“Beristirahatlah Nak, Papah dan Mamah akan menjaga Kali,” seru Arvan, yang sepertinya tahu, jika putranya ini sangatlah begitu lelah, karena menjaga anak dan istrinya kemarin.
“Tidak apa - apa Pah, Alson masih sadar sepenuhnya kok.” Dia sengaja berkata seperti itu, karena dia tidak mau Papahnya menganggap bahwa dirinya lelah.
Jenni yang sedari tadi hanya melihat saja intraksi antara suami dan anaknya, kini mulai mengelus kepala putra semata wayangnya itu.
“Mamah hanya berpesan, jaga baik - baik apa yang telah kamu punya saat ini, perlakukkan istrimu dengan baik, karena dialah satu - satunya wanita yang berani mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan putra - putramu!” Nasehat Jenni berikan kepada Alson, walaupun sebenarnya sedikit menyinggung lelaki tua yang berada di sampingnya itu.
Alson tersenyum, karena mamahnya ini tidak pernah berhenti untuk menasehatinya. “Pasti Mah, Alson akan menjaga dan meratukan Istri Alson selayaknya apa yang seharusnya dia dapatkan dari suaminya.” Balas pria yang baru saja resmi menjadi seorang ayah itu, tanpa memperdulikan laki - laki, yang sedari tadi sedang mengumpat di dalam hatinya.
“Apakah mereka sedang menyinggungku?” Gumamnya dalam hati, dengan sedikit tatapan sinis kepada ke dua sosok di hadapannya ini.
Tidak lama kemudian, kegiatan mereka terganggu dengan seseorang yang melaporkan bahwa orang - orang suruhan Arvan telah ada di luar.
“Apa lagi yang Papah ingin lakukkan? Jangan bilang Papah melakukkan hal yang tidak masuk akal lagi?!” Curiga Alson kepada Arvan, yang sontak membuat Jenni juga menoleh ke arah pria itu.
Arvan segera menggelengkan kepalanya pelan, “Tidak, Papah hanya memindahkan Ruangan Nicu Baby dan para Staff Rumah sakit yang mengurus Kali ke sini,” sahut Arvan dengan tatapan polosnya.
Belum sempat Alson mengeluarkan protesnya, dari luar sudah lebih dulu terdengar suara Vika, yang masuk dengan mengomel sepanjangan jalan, karena beberapa anak buah Arvan yang memaksanya pulang dari rumah sakit, dengan alasan sakit dipindahkan ke Mansion Utama.
“Mentang - mentang rumah sakit miliknya, sebabasnya saja memindah - mindahkan.” Umpat Vika, yang membuat Jenni hanya mampu menggaruk keningnya bersamaan denggan kedikan sedikit bahunya, karena tidak mau berkomentar apa - apa, ketika di tatap Alson untuk meminta pendapat.
__ADS_1
“Sayang, sepertinya aku akan meletakan Kali di kamar,” ucap Alson, ingin menghindari istrinya.
“Tidak, Mamah saya yang akan menjaga Kali, oke,” Jenni, dengan cepat membawa Kali yang sejak tadi memang ada di dalam gendongannya.
Alson ingin protes tapi dia tidak bisa berkata apa - apa, ketika melihat bayangan mamahnya sudah tidak ada di hadapan matanya.
Lalu kemudian Papahnya yang menjadi dalang dari semua ini, malah berpura - pura seakan dirinya tidak melakukkan apa - apa.
Akhirnya Alson pasrah dengan menghela nafasnya berat, “Sayang kita bicara di kamar saja ya.” Alson sengaja ingin membawa istrinya ke kamar, agar istrinya bisa sambil beristirahat. Sedangkan Kale sudah berada di dalam ruangan khusus yang disediakan untuk keperluannya dengan bersama tim dokter terbaik dunia.
“Tapi,” Vika ingin membantah ajakan Alson, tapi akhirnya dia merasa sepertinya percuma, mengingat bagaimana dan siapa mertuanya itu.
**To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*