
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
“Hahahahhahaa, tidak ah, aku tidak akan memberitahumu siapa laki - laki itu!” Kekeh Khanza, namun masih diiringi dengan tawa.
“Berhenti tertawa Khanza, kalau kamu tidak mengatakannya, aku akan menyiramu pakai air minum ini!” Ancam Brio, namun Khanza masih terus tertawa geli.
“Khanza, 1,” Brio sudah mulai berhitung, untuk menyiramkan air pada Khanza.
“Hahahahahah, bentar - bentar, ini tidak bisa berhenti, hahahahahahaha.” Khanza semakin mengencangkan suarnya tertawa membuat Brio kembali menghitung.
“2.”
“Oke, oke, hehe, laki - laki itu -,” Khanza menghentikan kalimatnya membuat Brio kembali mentapnya tajam.
“Tapi kamu janji, untuk tidak menghinaku, apa lagi membullyku!” Tegas Khanza, yang sepertinya merasa dirinya saat ini sangat memalukkan.
“Iya tidak! Cepat beri tahu!” Tekan Brio lagi.
“Papahnya Vita, mertuamu.” Ucap Khanza pelan, membuat Brio langsung menatapnya tajam.
“Papahnya Vita? Mertuaku, maksud kamu Om Jendra?” Tanya Brio dengan begitu terkejut, menatap ke arah Khanza, yang kini menganggukan kepalanya pelan.
“Hahahahhahahahahahahahahahahahahahahahah,” gantian kini Tawa Brio yang mengeglegar mengetahui bahwa Khanza menyukai seorang pria tua bangka seperti Jendra.
“Khanza, hahahahah,”
“Aku masih mempunyai teman kale dan Kali adiknya Vita yang bisa kamu jadikan gebetan, mayanlah dapat brondong dari pada kamu harus mendapatkan laki - laki yang tua bangka, Hahahahahahahha.”
“Uhukkk,,uhhukk,,uhukk,” Brio yang begitu asik tertawa tanpa sadar tersedak makanan yang sedang dia kunyah.
Tapi Khanza merasa begitu enggan menolong mengambilkan air minum untuk Brio, wanita itu malah terlihat begitu santai meminum air daro gelasnya sendiri.
“Aku lebih suka laki - laki yang sudah terlihatvmatang, dibandingkan laki - laki yanh seumuranku tetapi pemikiraanya masih seperti anak kecil.” Ujar Khanza membela dirinya.
Brio kembali tersenyum menggelengkan kepalanya, berpikir bahwa Khanza ini sudah benar - benar tidak waras.
“Kamu tahu Khanza, jika kamu menikah dengan si Tua Bangka itu, yang ada kamu bukan mendapatkan anak, tapi kamu akan mendapatkan cucu dariku.” Jelas Brio membantu Khanza untuk berpikir sedikit realistis.
Khanza memilih untuk mengedikan bahunya singkat. “Kan aku bilang baru menyukai, bukan berarti aku jatuh cinta.” Protes Khanza, yang memperbaiki pemikiran Brio kepadanya.
Brio tertawa mendengar penuturan Khanza yang sepertinya malu karena telah mengakui bahwa dirinya menyukai Jendra.
“Baiklah, terserah kamu saja, tapi jika pertemuan kita ke dua kalinya kamu masih menyukai Jendra, maka aku pastikan bahwa kamu akan menikahinya.” Ucap Brio, sebelum dirinya beranjak dari posisinya dan duluan masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat, karena besok pagi dia sudah harus bekerja.
__ADS_1
Sedangkan Khanza termenung mendengar kata - kata dari Brio, yang merasa bahwa dirinya tidak salah dalam mengutarakan perasaanyakan. Lagian itu hanyalah sebuah perasaan.
Bisa saja itu sebuah perasaan tentang rasa kagum atau perasaan yang lainnya. “Kamu terlalu menjudge perasaan seseorang.” Gumanya kesal, karena seharusnya dia tidak memberitahukan Brio tentang rasa ketertarikaanya pada Jendra yang merupakan Papah dari Vita.
“Tidak ada salahnya kan menyukai seseorang yang lebih tua, banyak tuh gadis muda yang menikahi kakek - kakek.” Khanza terus membela dirinya, walaupun sudah tidak ada Brio di sampinganya.
Khanza sudah tidak mau memikirkan hal lainnya, sehingga dia terlihat memilih untuk menyelesaikan makannya dan segera membersihkan sisa - sisa makanan mereka.
****
Brio yang sudah sejak tadi di dalam kamar, kini terlihat membaringkan tubuhnya setengah, dan setengahnya lagi dia biarkan masih bisa menyentuh lantai. Dengan sebuah Earphone Brio memilih untuk menenangkan jiwanya sejenak, dengan mendengarkan lagu - lagu kesukaannya.
Cukup lama dia di dalam posisi itu, hingga di detik selanjutnya dia membuka matanya dan melihat ke arah langit - langit pelafonnya.
Dia terus berpikir, apakah kehidupan ini akan bisa kembali baik - baik saja, tanpa ada ganguan lagi dari siapapun.
Hidupnya yang tertalu santai yang hanya berpikir tentang game, game dan game, kini telah hilang, di saat kebencian Griffin mulai meracuninya.
****
Di sisi lain, terlihat seorang wanita yang masih berbaring di atas tempat tidurnya kini menatap ke arah luar.
Vita, memang tadi sore sudah balik ke Jakarta karena kesehatannya memang sudah hampir pulih sepenuhnya.
Hanya sedikit rasa nyeri - nyeri di perutnya bekas operasi. Tetapi beruntung Omanya mengetahui sebuah ramuan China yang bisa cepat membuat bekas operasinya itu kering, membuat Vita mendapatkan kesembuhan dengan begitu cepat.
“Grandma,” gumam Vita, ketika melihat sosok Jenni yang berada di depan pintu.
Jenni tersenyum, “bolehkah Grandma masuk?” Tanya Jenni dengan begitu lembut.
Vita menganggukan kepalanya pelan, memperbolehkan wanita tua itu masuk ke dalam kamarnya.
“Vita lagi apa sayang?” Tanya Jenni dengan begitu lembut, sembari mengusap rambut mikik Vita.
“Tidak sedang apa - apa Grandma,” jawab Vita pelan.
“Grandma, kapan sampainya? Mamah? Papah Alson? Apakah ikut juga?” Tanya Vita yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Jenni.
“Papah Alson, dan Mamah kamu juga ada di bawah, tetapi Grandpa Arvan kini sedang berbicara dengan mereka, nanti kalau sudah selesai, mereka pasti akan naik ke sini untuk melihat keadaan Vita di sini.” Ucap Jenni menenangkan perasaan dari cucunya itu.
Walaupun cucu tiri, Jenni sama sekali tidak membedakan Vita dan cucu kandung yang lainnya. Dirinya begitu menyayangi cucunya, terutama Griffin.
Tetapi, sayangnya pria itu menolak kasih sayang padanya yang menurutnya hanyalah sebuah rasa kasihan saja.
__ADS_1
“Vita,” panggil Jenni lagi, ketika ke duanya terlihat saling diam dengan kecanggungan.
“Iya,” sahut Vita pelan, dengan suara yang begitu lemah.
“Jadi kamu dan Brio sudah menerima sertifikat pembatalan nikah,” Jenni berucap, membuat Vita menoleh ke arahnya.
“Ehmm, sudah Grandma.” Balas Vita.
Jenni sejenak terlihat menghela nafasnya, “mau dengar sebuah kisah tidak?” Jenni, mencoba menghibur Vita dengan kisah cerita yang dia punya.
“Mau.”
“Dulu, ada seorang pria yang menolong dua orang gadis yang terlibat kecelekaan. Salah satu dari gadis itu koma, dan gadis yang lainnya harus menolong gadis yang koma itu. Tetapi dia tidak mempunyai uang untuk membayar pengobatan, hingga seorang pria yang tadi menolong dua gadis itu, akhirnya bersedia menolong gadis yang koma, dengan perjanjian gadis yang sehat harus melahirkan keturunan untuknya.” Jenni mulai bercerita, dengan pandangan yang lurus ke depan, sembari tangannya menggengam tangan Vita.
“Jahat sekali pria itu Grandma, membantu dengan imbalan.” Seru Vita, memprotes peran laki - laki yang berada di cerita Jenni.
“Tidak hanya itu, bahkan laki - laki itu, terus menerus menyiksa gadis ini, baik fisik maupun batinnya, pria ini menikahi gadis ini lantaran hanya untuk mendapatkan sebuah keturuanan padahal hatinya masih untuk seorang kekasihnyanya yang sudah meninggal lama.”
“Suatu saat ketika gadis itu hamil, dia dikurung dan bahkan tidak diperdulikan sama sekali, hingga suatu saat pria itu mengatakan jika bayi yang dikandung oleh gadis itu bukanlah darah dagingnya, dan secara tidak langsung pria itu mengatakan bahwa gadis itu berselingkuh darinya sampai enggan untuk mengakui darah dagingnya sendiri, lalu -“
“Stop Grandma, Vita tidak bisa mendengar itu, Vita merasa benci dengan laki - laki yang berada di cerita Grandma itu, bahkan jika Vita mengenal pria yang seperti itu, maka akan Vita hajar pria itu.” Ucap Vita berapi - api. Merasa tidak senang jika ada seorang harga diri wanita disakitin.
Jenni tersenyum mendengar penuturan dari Vita.
“Tepat sekali, Grandma sudah menebak jika kamu pasti akan membenci laki - laki yang seperti itu.” Tandas Jenni, yang kini memasang senyum manisnya.
“Tentu saja Grandma, laki - laki seperti itu, pasti akan diberikan hukam oleh Tuhan sampai tujuh turunannya.” Ucap Vita, secara tidak sengaja, membuat senyum di wajah Jenni menghilang sejenak.
“Menurut kamu apa yang dilakukan gadis itu? Tanya Jenni, memberikan sebuah pertanyaan untuk Vita.
“Membenci laki -laki itu, tentu saja Grandma.” Jawab Vita dengan begitu yakin, namun Jenni lalah menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak, kamu salah.”
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
__ADS_1
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*