
🌹 Happy Reading 🌹
Alson memandang Arvan dengan menatap setiap detailnya, berharap jika Papahnya ini benar-benar sadar dan akan merestuinya. "Pah, Papah udah benar-benar sadar belum sih? Seriuskan Papah mau merestui hubungan kami?" tanyanya sekali lagi yang membuat Arvan dan Stella tersenyum lembut.
Stella berdiri mendekat ke arah keponakanya itu dan membawanya ke dalam dekapan hangat, "dia adalah Seorang Lord Master, jika dia sudah berkata maka itu yang akan terjadi, yakinlah jika semua akan baik-baik saja," seru Stella lembut kepada Alson.
Arvan yang merasa jika Putranya masih ragu, dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Robert.
"Ya Lord," sahut Robert di panggilanya sana.
"Bawa Vika dan salah satu Mayat yang kita simpan di markas ke rumah sakit milik adik ku, besok pagi biar dia melakukan operasi dengan mengambil mata dari mayat itu. Ingat pastikan pilih mayat yang baru!" Perintah Arvan yang membuat Robert merasa bingung sendiri.
Robert menarik ponselnya dan memastikan jika memang Tuanya lah yang menelpon, "sepertinya dia sedang kerasukan, tadi dia bilang bunuh sekarang suruh operasi, kenapa dia menjadi pikun seperti itu?" Gumam Robert yang merasa ganjal dengan semua ini.
"hallo, Robert kau mendengarkan ku tidak," seru Arvan di saat merasa tidak ada jawaban dari asistenya itu.
Dengan menarik nafasnya dalam-dalam Robert mendengar perintah Arvan itu, "Lord, are you okay? Apakah benar Anda akan memberikan pendonor itu kepada Vika menantu yang Anda tolak?" tanyanya begitu penasaraan.
Dan bukanya menjawab, Arvan malah menutup panggilan itu, dan Robert sudah begitu paham jika Lord Masternya sampai menutup panggilan tanpa menjawab, itu tandanya Lord Arvan mempunyai alasanya tersendiri tanpa perlu di beritahukan.
Dengan sabar Robert yang sedang bersama Vika kini menatap gadis malang itu dengan dalam. "Putar balik ke rumah sakit sekarang!" Perintahnya kepada Supir.
"Baik Tuan," Jawab Supir itu dan langsung memutar balik.
Selama perjalanan Robert memilih untuk menghubungi Gina di Markas.
Tutt,,ttuuut,,tutt nada sambung terdengar dari panggilan itu.
"Hallo," sahut Gina di ujung panggilan sana.
"Gina segera kirimkan satu mayat baru wanita ke Indonesia sekarang!" Pintanya dengan tegas.
__ADS_1
"Oh oke," jawab Gina santai dan langsung mematikan panggilanya.
Vika yang mendengar pria di sebelahnya meminta mayat dan ingin ke rumah sakit, kini merasakan khawatir yang teramat. "Alson, kamu dimana ? Aku takut," batinya sambil mengatupkan kedua tanganya gemetar.
Robert yang melihat reaksi dari Vika hanya bisa diam tanpa bisa menegurnya. Karna dia adalah sosok yang paling malas untuk menjelaskan suatu hal yang akan terjadi.
Sedangkan Arvan yang baru saja menutup panggilan itu, kini menatap ke arah Alson dengan lembut, "istrimu akan baik-baik saja Son." seru Arvan dan langsung memeluk tubuh putranya.
"Terima kasih Pah, Alson tidak tau harus berkata apa lagi. Papah memang Lord Masterku yang Terbaik, cuppp," balas Alson memberikan kecupan singkat di pipi Arvan.
Arvan terharu dengan ucapan putranya, "Oh God, aku hampir saja kehilangan putraku, maafkan aku karna kemarin sempat egois," batinya merasa sangat menyesal karna sikapnya yang menyakiti putra dan istrinya.
Stella merasa bahagia melihat kakak dan putranya yang mulai berbaikan, "Dad, Mom, Thank you so much for making older brother aware of his mistake," ucap Stella dalam hati.
"So jadi karna kalian sudah baikan, berarti besok kita Party ya," seru Stella yang paling menyukai party.
Plaaakk Arvan menoyor kepala adiknya yang mulai konslet itu, "aduuhhh kenapa kakak memukul ku," keluhnya dengan mengelus-ngelus keningnya.
Stella langsung tersenyum kikuk menanggapinya, "oh iya, hehhehe lupa-lupa cieehhh menantu," goda Stella dengan menaik turunkan alisnya sebagai raut wajah ejekan.
Arvan menggelengkan kepalnya pusing dengan tingkah konyol adiknya ini, "Alson, sekarang Vika sudah berada di rumah sakit. Kamu bisa menyusulnya dan memberikan dukungan kepadanya, Papah akan kembali malam ini ke Italia. Kasian Mamah sendirian," ucap Arvan.
"Tapi Pah," jawab Alson merasa bingung.
"Jangan khawatir, Papah akan kembali lagi ke sini besok lusa, Papah tidak akan mengingakari janji untuk menerima dan mengakui istrimu itu," balas Arvan, dia tahu jika putranya itu khawatir jika dirinya tidak mau bertemu dan mengakui istrinya.
Alson paham jika Papahnya itu sebenarnya masih perlu menata hati untuk bertemu dengan Vika, dia tau jika Papahnya tidak bisa menerima begitu saja. Mungkin saat ini mulut Papahnya berkata setuju tapi hatinya sangat terlihat jika dia masih enggan menerima Vika.
"Pah Alson hanya ingin memberitahu jika Vika adalah sosok wanita yang baik, Alson tidak menyesal sama sekali karna menikahinya. Mungkin dia pernah melakukan kesalahan di masa lalu, tapi itu bukan sepenuhnya salahnya, dan Papah bisa menyelidikinya sendiri jika setelah kesalahn itu dia tidak pernah berdekatan lagi dengan pria manapun selain Alson, dan lagi jika masalah pekerjaannya yang menjadi Model itu, aku jamin jika dia akan berhenti dan mengundurkan diri dari dunia hiburan," seru Alson dengan menjanjikan jika Vika akan selalu mengikuti keinginan Alson.
Arvan tersenyum tipis membalas ucapan dari anaknya itu, "Papah menyerahkan semuanya padamu, jika kamu menganggap dia baik, maka dia lah yang terbaik," jawab Arvan.
__ADS_1
"Terima kasih ya Pah." balas Alson dengan menghambur kepelukan Papahnya.
"Baik-baiklah Son, dampingi istrimu menghadapi operasinya besok, dan jika masalah pita suara, Papah akan mengirim Gina ke sini untuk melakukan thrapy pada Istrimu," ucap Arvan lagi yang benar-benar membuat Alson merasakan sangat beruntung memiliki Papah yang sangat hebat seperti Arvan.
"Siap Lord Master, aku patuh dengan semua perkataanmu," balasnya dengan hormat.
Arvan tertawa melihat anaknya yang terus menerus memanggilnya dengan formal seperti itu. "Anak nakal," lirih Arvan membuat Alson dan Stella tertawa bahagia.
"Sudah sana pergi tamui istrimu! Papah juga akan menemui istri Papah, dan kamu-," serunya menoleh pada adik kecilnya.
"Apa," sahut Stella dengan galak.
"Sana pergi menemui bantalmu dan tidur!! Jangan terlalu banyak mengkhayal, suamimu akan lama pulang," sindir Arvan dengan tersenyum sinis.
"Cikhhh, sombongg, Anda menemui istri belum tentu bisa Morena, palingan sampai Mansion tidur di kamar sebelah aahahhahah," balas Stella dengan tertawa jahat.
Dengan senyum terpuas Stella mengejek kepada Arvan dengan bergoyang dan melangkah keluar.
"Oh senangnya dalam hati, kalo bersuami lima, oh seperti dunia, ana yang punya oy,,oy, hidup suami lima, nanti aku ajak Jenni bersuami sebelas, biar kakak langsung struk gak bisa jalan," ucapnya dan segera berlari sebelum mendapatkan hantaman dari kakaknya itu.
"Ish,,ishh Shea markona ini, benar-benar." Gumamnya dengan pusing melihat kelakuan adiknya yang semakin tidak jelas.
To be continue.
Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya😎
**Jangan pelit! Mimin, *Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya😘😘 *
Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh 😭😭😭
Terima kasih🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
Follow IG Author @Andrieta_Rendra