
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Setelah mereka berjalan jauh ke atas, mereka sedang merasa was - was ketika melihat Jurang yang berada di sekeliling mereka, "kalian semua hati - hati ya, ini sedang bahaya banget," ucap Rafli, ketua tim mereka.
Vita yang sedang menikmati perjalanan mereka dengan menggunakan headset di telinganya, sehingga dia tidak begitu fokus mendengar arahan - arahan dari ketua tim mereka.
Sepanjangan jalan, mata Vita terus memandang ke arah bunga - bunga yang berada dipinggir curam jurang yang tinggi. "Wih, keren nih bunga, aku pengen ambil ah, yang di atas itu sepertinya tidak terlalu berbahaya," guman Vita, dan kini langsung memecah dari kelompoknya mencari jalan yang lain.
**
"Vita mana ya?" tanya Langit, ketika dirinya tidak mendapatkan sosok Vita dibelakangnya.
"Vita ada kok in -," ucap Ririn terhenti, ketika melihat Vita yang sudah tidak lagi berada di sampingnya.
"Arggghhh," teriak suara Vita, yang terdengar begitu nyaring dipendengaran teman - temannya.
"Vita," seru Langit, dan langsung berlari mengedarkan pandanganya mecari sosok Vita yang tidak tahu berada di mana.
"Kosmos, hey," panggil Rafli ketua klompok mereka.
"Ayo teman - teman, kita tolongin Vita dan Kosmos," sahut Rafli dan yang lainnya.
Mereka berjalan mengikuti arah suara teriakan Vita.
"Vita - Vita, kamu di mana?" Teriak Langit, sekeras mungkin.
Vita sedang menangis saat ini, dia begitu takut jika dirinya benar - benar jatuh ke dalam jurang.
"Tolongin aku, please, siapapun tolongin aku," Vita berusaha memegang ranting yang bisa menyelamatkaanya. Dan beruntungnya tubuhnya yang kecil mampu bertahan walaupun keadaan ranting itu sangat kecil.
"Vita," teriak Langit, yang sangat terkejut melihat Vita berada diambang kematian.
"Langit," gumam Vita ketika mendengar suara pria yang begitu dia kenali, memanggil namanya.
"Langit - Langit, tolongin aku," teriak Vita lagi.
"Vita, kenapa kamu bisa disana?" tanya Langit, namun dirinya segera bergegas mengulurkan tangan untuk menolong Vita terlebih dulu.
"Aku takut hiskk,, hisk ," tangis Vita, yang sudah menampilkan wajah pucatnya.
"Tidak apa Vita, ayo sini gapai tangan aku, kamu pasti bisa." Langit semakin menjatuhkan tubuhnya ke bawah.
__ADS_1
Dengan sekuat tenaga keduanya berusaha untuk keluar dari situasi ini. Terlebih lagi Langit begitu merasa takut jika sampai dirinya tidak bisa menolong Vita.
Dan di saat mereka sedang berusaha, teman - teman kelompok mereka, yang baru saja datang kini langsung ikut menolong Vita dan Langit.
Atas kerja sama mereka semua, akhirnya Vita berhasil mereka selamatkan walaupun ada luka - luka sedikit di tubuhnya.
Vita langsung memeluk tubuh Langit karena dirinya benar - benar merasa sangat takut sekali.
"Sudah, sudah aku di sini Vit, tenanglah," ucap Langit, sembari mengusap lembut punggung belakang Vita.
Langit ditugaskan oleh Rafli untuk membawa Vita kembali ke tenda, dia sangat takut jika nantinya Vita malah akan trauma dengan kejadian ini semua.
Jarak yang cukup jauh Langit terjanh untuk menggendong tubuh Vita, walaupun dia lelah, dia tetap berusaha membuat wanita yang telah mengubah kehiduapaanya itu merasa nyaman denganya.
"Langit, kamu bisa menurunkanku jika kamu merasa lelah," ucap Vita, yang merasa tidak enak dengan Langit, karena sudah menyusahkan pria itu dengan sedemikian rupa.
"Tidak apa Vita, aku tahu kamu pasti masih merasa takut, lagian ini hanya 3km jadi masih oke untuk aku," jawab Langit.
Dan mulai dari hal itulah hubungan mereka mulai membaik hingga akhirnya mereka dekat tanpa harus berpacaran.
Karena Langit sangat menghormati keputusan Vita yang tidak boleh berpacaraan terlebih dahulu sebelum dirinya lulus sekolah. Walaupun yang lain menganggap mereka berpacaraan, namun hubungan mereka hanya Langit dan Vita saja yang mengetahuinya.
Flash Back Off
Sudah beberapa hari ini Vita hanya diam dan sama sekali tidak mau membuka ataupun mengeluarkan suaranya. Membuat Brio semakin merasa frustasi bahkan nyaris gila mendapatkan Vita yang seperti ini.
"Kamu yang sabar sayang, Mommy yakin, jika Daddy pasti akan mendapatkan dokter terbaik untuk Vita," ucap Eden, yang sudah dari semalam datang ke rumah mereka di Jerman.
Brio sangat beruntung ketika di dalam keadaan seperti ini Mommy dan Daddynya masih terus mendampingi dan sama sekali tidak pernah meninggalkannya.
"Mom, Son," panggil Mario yang baru saja datang, dan pastinya dirinya tengah mendapatkan informasi besar.
"Dad, bagaimana? Apakah daddy sudah mendapatkannya?" tanya Brio langsung to the point.
Sudah dua hari ini dia menunggu daddynya datang dengan membawa data riwayat kesehatan Vita dulu.
Eden menggengam tangan Mario yang terlihat sangat lelah saat ini. "Sayang," lirih Eden pelan. Mario yang paham atas kekhawatiran istrinya kini hanya bisa menganggukan kepalanya pelan.
"Aku baik - baik saja Mom, hanya saja, data riwayat Vita yang telah daddy dapatkan ini, mungkin isinya akan membuat kamu kecewa my Son," jelas Mario, dan seketika membuat Brio memandang daddynya bingung.
"Kecewa? Kenapa harus kecewa dad?" tanya Brio.
__ADS_1
"Sayang, lebih baik kita duduk saja dulu ya, kita bicarakan ini semua dengan baik - baik," ucap Eden, meminta agar suami dan putranya duduk terlebih dahulu. Karena sangat tidak nyaman jika bicara dengan berdiri seperti ini.
Mario dan Brio sama - sama menganggukan kepalanya, lalu mengikuti arahan mommy mereka untuk duduk terlebih dahulu.
Setelah mereka semua terlihat nyaman, kini Mario mulai memberikan dokumen riwayat itu kepada putranya.
Dengan cepat Brio mengambil data itu, lalu langsung membuka dan membacanya dengan sangat teliti.
Mata Brio membulat seketika, dia tidak percaya dengan semua ini. Bagaimana bisa? wanita sesempurna Vita pernah depresi bahkan menjadi orang gila hingga setahun lamanya.
"Apa ini dad? Kenapa ini laporannya seperti ini?" tanya Brio, yang kini mulai menuntut jawaban dari daddynya.
Eden yang juga begitu penasaraan, kini langsung mengambil data itu dari tangan putranya dan kini ikut membacanya dengan saksama.
Tidak jauh berbeda dengan Brio, kini Eden juga hanya bisa menutup mulutnya tidak percaya dengan semua ini.
Terlebih nama dokument ini bukanlah nama Vita, jadi bagaimana mereka harus percaya?
"Kalian pasti ingin bilang bahwa daddy sedang membawa dokument palsu, bukan begitu?" Mario menghela nafasnya sesak, entah ingin mulai dari mana dia bercerita, dan bagaimana dia bisa mendapatkan semua itu.
"Seharusnya yang bisa menjelaskaan ini hanyalah satu orang saja," sambung Mario lagi, yang kini membuat Brio semakin bingung dengan jawaban daddnya yang semakin berputar - putar.
"Dad, please dad." ucapnya terhenti, ketik dirinya sudah berhasil memikirkan apa maksud dari semua kalimat daddynya.
"Ya, daddy benar, hanya dialah yang bisa menjawab tentang semua pertanyaan kita ini Dad." Sambungnya, yang kini dijawab anggukan kepala oleh Mario.
"Daddy akan mengurus itu semua nanti, sekarang kamu dan mommy di sini saja dulu menjaga dan merawat Vita hingga sembuh. Daddy akan berusaha mencari obat untuk Vita, jadi kamu tenang saja ya ," ucap Mario, sebelim akhirnya dia berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
Dia merasa sangat membutuhkan istirahat terlebih dahulu, sebelum kembali berangkat ke Negara yang lainnya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
__ADS_1
*Terima kasih**ππ»ππ»*