
🌹 Happy Reading Gengs 🌹
Saat ini terlihat Brio baru saja kembali dari bawah, dengan beberapa barang yang ada di tangannya.
Dia yang baru masuk, melihat Khanza dengan tampilan yang begitu memukau.
Tubuhnya yang tinggi tegap, dengan tinggi yang sekitar 175cm, di sandingkan dengan dirinya yang 185cm. Masih terlihat sangat serasi.
Khanza yang hanya menggunakan hot pants, serta Thirts yang terlihat begitu pas ditubuhnya, serta celemek yang terpasang, mengingatkan Brio dengan Mommynya yang hampir sama persis dengan apa yang dilakukkan Khanza sekarang.
Rambut yang dicepol asal, serta kulit tubuh yang tidak terlalu putih, membuat wanita itu terlihat sangat begitu cantik.
“Permisi, paket.” Suara Brio, membuat Khanza menoleh kepadanya.
“Taruh saja barang - barangnya di sana, di atas meja makan, nanti aku susun.” Perintah Khanza pada Brio.
Dengan patuh, Brio meletakan barang belanjaan mereka tadi di atas meja, lalu memperhatikan Khanza yang sangat sibuk dengan masakannya. “Kenapa tidak aku saja yang meyusunnya?” Tanya Brio, menawarkan dirinya untuk membantu Khanza.
Khanza menoleh sedikit sembari terus fokus dengan masakannya, “Memangnya kamu bisa?” tanya Khanza, seperti meremehkan Brio.
“Tentu saja,” jawab Brio dengan angkuh. Karena memang dirinya bisa melakukkan hal itu.
Dia masih ingat jelas, waktu dirinya dan Vita habis pulang berbelanja, Vita sama sekali tidak tahu cara meletakan barang - barang pada tempatnya. Sehingga mau tidak mau, Brio melihat ke Youtube dan mulai mengikutinya.
Tadi juga, waktu berbelanja, Brio merasakan suasana yang berbeda dengan Vita dulu. Jika dulu bersama dengan Vita, mereka sama sekali tidak tahu, apa yang harus dibeli dan apa yang tidak harus dibeli, apa yang bisa dihemat, dan apa yang tidak bisa dihemat. Berbeda dengan Khanza, wanita itu sepertinya memang mahir dalam kebutuhan apa pun, sehingga dengan cekatan wanita itu memilih tanpa ada sedikitpun mengajak berdebat untuk membeli barang.
“Hahahah, kalau begitu, cobalah,” seru Khanza, yang ingin melihat, apakah Brio benar - benar bisa meletakan barang pada tempatnya atau tidak.
“Baiklah,” sahut Brio, yang langsung memulai pekerjaannya.
Sedangkan Khanza yang melihat Brio telah fokus dengan pekerjaanya, kini tersenyum dan kembali melanjutakan masakannya.
***
Tiga puluh menit berlalu, kini makananpun telah dihidangkan dengan sempurna di atas meja. “Makanan sudah siap.” Seru Khanza, memanggil Brio yang juga baru selesai dengan pekerjaanya.
“Oke,” sahut Brio, yang kemudian, membantu Khanza mengambil piring dan sendok garpu untuk mereka berdua.
__ADS_1
Khanza menerima piring dan teman - temannya itu, lalu meletakkannya di meja. “Wahhh, kelihatannya masakan kamu enak.” Ujar Brio, menatap ke arah makanan yang tersedia itu satu persatu.
Khanza tersenyum, lalu mulai mengambilkan nasi beserta lauk pauknya kepada Brio. “Jika kamu tidak mencobanya, kamu tidak akan mengetahuinya.” Balas Khanza, yang membuat Brio ikut tersenyum, sambil menunggu Khanza selesai melayaninya.
Setelah Khanza mengambilkan makanan untuk Brio, kini dia terlihat melepaskan celemek dari tubuhnya, lalu juga ikut mengambil nasi beserta lauknya untuk di piringnya sendiri.
“Hari ini, aku memasak tumis brokoli dan Cauli Flowers, dan juga ayam saus mentega,” ucap Khanza, yang memberitahu kepada Brio menu makanan mereka siang ini.
“Sederhana sih, tapi ya cukuplah, untuk empat sehat lima sempurna kita.” Sambungnya lagi, yang membuat Brio tertawa.
“Baiklah - baiklah, aku coba ya.” Ucap Brio, yang langsung memasukan sesuap nasi dan ayam ke dalam mulutnya.
Khanza menunggu dengan antusias penilaian Brio untuk masakannya. “Gimana?” Tanya Khanza dengan begitu penasaraan.
“Ehmmm,” Brio masih menimbang - nimbang rasa dari masakan Khanza, lalu dia mencoba sayurannya, dan kembali mencoba ayam tanpa nasi.
“Ehmmm, 9,9 lah, enak banget,” pujinya pada masakan Khanza.
“Benarkah?” Tanya Khanza antusias, lalu dia mencoba sendiri masakannya.
“Kenapa tidak 100 saja sih.” Protes Khanza, ketika angka yang diberikan Brio untuk penilaian masakannya itu sangatlah tanggung.
Khanza menganggukan kepalanya pelan, membenarnkan apa yang dikatakan oleh Brio, masakan Ibu memanglah tidak tertandingi oleh siapapun.
“Ada apa ini? Kenapa aku merasa begitu bahagia dan tidak berhenti untuk tertawa dan tersenyum.”
“Apakah aku jatuh cinta dengan Khanza?” Batin Brio, yang kini diam - diam menatap Khanza dengan begitu lekat.
“Tetapi kenapa semudah itu? Padahal aku menikah dan berhubungan dengan Vita, apakah yang kemarin itu bukan perasaan Cinta terhadap Vita? Apakah kemarin itu hanyalah perasaanya yang tidak jelas.”
“Tapi, kenapa baru sebentar saja, aku sudah merasa bahwa aku bahagia dan merasa nyaman bersama dengan Khanza, tidak pernah aku merakan ini dengan Vita sebelumnya.”
“Apa lagi, aku sedikitpun tidak merasakan khawatir atau sedih, karena berpisah dari Vita.” Sambungnya lagi, senbari terus menatap wajah Khanza.
*****
Di sisi lain, Vita yang tidak ingin terus menerus berbaring di tempat tidur, kini mulai bisa berjalan - jalan dengan perlahan di sekitaran kamarnya. Dia ingin segera pulih untuk kembali pada aktifitas seperti sedia kala.
__ADS_1
“Hallo, assalamuallaikum,” ucap seseorang yang baru saja datang, dan masuk ke dalam kamarnya.
“Walaikumsalam,” sahut Vita, ketika melihat sosok Langit yang baru saja tiba, dengan membawa sebuah bucket bunga yang begitu besar.
“Loh, kamu kok berjalan sendiri, Papah kamu kemana?” Tanya Langit, ketika hanya melihat Vita seorang diri di dalam kamar.
“Papah dan Opa ada keperluan sebentar, sedangkan Oma, sedang mengambil obat yang disuruh oleh perawat tadi.” Jelas Vita pada Langit.
“Eh, ini, bunga yang indah, untuk orang yang sepesial.” Rayu Langit, yang lalu meletakan bucket bunga yang dia bawa ke atas meja, karena tentu saja, Vita tidak bisa membawanya.
Vita tersenyum mendengar gombalam Langit, “kamu, bisa saja.” Elaknya, pura - pura tidak mempan pada rayuan dari Langit. Padahal wajahnya sudah sangat merah seperti kepiting rebus.
“Oh ya, Langit, kenapa kamu berada di sini?” Tanya Vita yang begitu penasaraan, kenapa Langit bisa ada di Bogor. Bukankah pria itu sedang pulang karena dimarahin orang tuanya.
“Memangnya kenapa? Aku tidak boleh di sini?” Tanya Langit balik, berpura - pura kesal oleh pertanyaan Vita tadi.
“Bukan, tetapi bukannya harusnya kamu ada di Jakarta?” Vita memperbaiki pertanyaannya untuk Langit.
Langit yang mengerti, kini menganggukan kepalanya pelan, lalu mendekat ke arah Vita, untuk membantu wanita itu duduk sejenak. “Orang tuaku memang begitu marah, ketika melihat sekandalku denganmu, tetapi ketika aku sudah menjelaskannya tadi di telpon, serta surat keputusan pembatalaan Nikahmu bersama Brio keluar, akhirnya orang tuaku bisa mengerti, dan bilang kepadaku untuk bertanggung jawab sampai selesai untuk masalah yang aku buat.” Jelas Langit kepadanya, membuat Vita semakin merasa tidak enak kepada Langit.
“Maafkan aku ya Langit, seharusnya aku jujur sama kamu dari awal, jadi kamu tidak terkena masalah.” Ungkapnya penuh penyesalan.
“Tidak apa - apa Vit, bukankah kalau semua ini tidak terbongkar, aku tidak pernah tahu jika kamu masih sangat begitu mencintaiku, hingga mengalami deperesi karenaku.” Ucap Langit dengan begitu tulus.
“Langit.”
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***🙏🏻🙏🏻* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganya🥰 jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**😎*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **😭Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****😘😘
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***😭😭😭*
__ADS_1
*Terima kasih**🙏🏻🙏🏻*