
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Eden yang mendengar alasan ambigu dari menantunya, serta melihat emosi putranya yang sedang memuncak, kini merasa takut sendiri jika putranyalah yang telah bertindak kasar kepada Vita.
"Bagaimana bisa? Kamu sampai terbentur gitu Vit?" Pertanyaan yang Eden layangkan, kini membuat suasana semakin tegang.
Namun dengan malas Brio memilih untuk melangkahkan kakinya pergi, "Brio mau kemana kamu?" pekik Eden, tidak menyukai cara Brio yang selalu saja seperti ini.
Sedangkan Brio kini bersikap acuh, dan menulikan telinganya untuk berpura - pura tidak mendengar panggilan mamahnya.
"Ihh, dasar - dasar anak ini," umpat Eden, yang sudah tidak bisa menahan amarahnya kepada anaknya yang selalu saja marah tanpa alasan yang jelas.
Eden melihat sekelilingnya, dan mendapatkan hanger baju yang ada di atas tempat tidur.
"Sepertinya kamu sudah lupa, rasa sakitnya hanger ini," gumam Eden, yang kini langsung berlari keluar mengejar Brio.
Melihat kelakuaan ibu dan anak yang seperti kucing dan tikus, membuat Vita memijat keningnya pusing.
Vita benar - benar harus menyiapkan fisiknya secara lahir dan batin untuk menghadapi sifat Brio.
***
Sedangkan di dalam dapur, Brio langsung mengambil air minum dingin yang berada di dalam kulkas.
"Damn it! Berani - beraninya pria itu menyentuh wajah istriku," umpatnya benar - benar merasa kesal.
Dia bahkan tidak menyadari jika mommynya sudah berada dihadapaanya saat ini.
Plaakkkk, tanpa basa basi Eden langsung memukul putranya yang selalu saja bersikap kepala batu.
"Awwwh, apa sih Mom," Brio tidak bereaksi apapun. Dirinya masih terlalu fokus dengan pemikiraanya terhadap Vita di dalam.
Eden terus memarahinya dengan mulut yang nyaris berbuih, namun seperti masuk kiri keluar kanan. Brio sama sekali tidak memperdulikaan apa yang sedang dikatakaan oleh mommynya.
"Sudahlah mommy capek, karena mommy sangat yakin jika kamu tidak akan mendengarkan mommy."
"Tapi satu yang mommy minta dari kamu Io, terlepas itu kamu atau bukan yang membuat wajah Vita memar seperti itu, tapi mommy mohon dengan sangat, jangan pernah kamu ringan tangan terhadap Vita atau siapapun, karena daddy ataupun mendiang kak Albert, tidak pernah melakukan hal itu kepada mommy ataupun kakak kamu, jadi-,"
"Mom, please lah, aku gak mungkin mukul istri aku sendiri," jawabnya bohong. Dia tidak ingin membahas hal yang sama sekali tidak ingin dia bahas.
__ADS_1
"Mommy hanya menasehati kamu Io, apa lagi ada bayi kalian berada di dalam rahim Vita, mommy harap kamu bisa menumbuhkan sedikit saja rasa empati atau rasa untuk bisa menghargai orang lain, jangan selalu seperti ini." Brio menggelengkan kepalanya pelan, menolak semua yang mommynya ucapkan.
"Mom, aku capek, aku butuh istirahat, jadi lebih baik Mommy keluar deh," dia mengusir mommynya agar tidak terus mengucapkan kalimat - kalimat yang menurutnya sangat - sangat tidak penting.
Eden menghela nafasnya panjang, dan memilih untuk menuruti saja apa yang diinginkan oleh putranya. "Pesan terakhir mommy, lebih baik kamu menghargai dan mencintai apa yang telah kamu punya saat ini, dari pada suatu saat nanti kamu akan kehilangan dan tidak akan pernah mendapatkaanya kembali, itu akan sangat terasa sakit." Ucapnya sebelum akhirnya dia benar - benar melangkahkan kakinya pergi untuk melihat suaminya, meninggalkan Brio yang masih terduduk di sofa ruang tamu dengan perasaan kesalnya.
"Butuh berapa lama lagi mereka mau menyentuh wajah milik Vita," gumamnya terus menerus. Berharap agar sesi rias itu cepat berakhir.
Dengan rasa kesal, Brio kembali melihat ke arah ponselnya yang diletakaan oleh mommynya di atas meja.
"Bermain game itu lebih baik sekarang," pilihnya tidak ingin membuang - buang waktu dengan hal yang tidak berguna.
****
Sedangkan di dalam kamar, Vita yang masih dirias kini sama sekali tidak bisa bergerak, tetapi dia merasa sangat lapar. "Emhh, ini masih lama tidak ya?" tanya Vita pada Jeremi.
"Cukup lama nona, mungkin sekitar satu jaman seperti itu," jawab Jeremi.
"Kenapa nona?"
"Ahh tidak, aku sepertinya sangat lapar sekarang, bisakah aku mendapatkan sedikit cake atau apapun yang bisa mengganjal perutku?" Pintanya pada Jeremi.
Selama hamil ini, Vita memang lebih sering merasakaan lapar. Bahkan terkadang di tengah malam dia juga mencari makanan. Padahal Vita sendiri adalah wanita yang selalu menjaga bentuk tubuhnya agar tetap sempurna.
"Nona, sekarang saatnya suami Anda yang butuh dirias, bisakah Anda memanggilangnya nona?" tanya Jeremi kepada Vita.
"Oke," balas Vita singkat, lalu mengambil ponselnya yang berada di atas meja, untuk mengirimkan pesan singkat pada Brio.
"Aku sudah mengirimkan pesan kepadanya, tetapi sepertinya dia sedang bermain game, jadi mungkin nanti baru dia masuk," lirihnya pelan, seperti tahu apa yang sedang dilakukan Brio di luar sana.
Jeremi manganggukan kepalanya pelan, dan mengerti apa yang dikatakaan oleh Vita.
Setelah itu mereka diam dan mengerjakaan kegiatan mereka masing - masing. Jika ditanya kemana Brio? Kenapa tidak datang - datang? Maka jangan hiraukan dia, karena pesan dari Vita saja dia tidak membukaanya sama sekali.
***
Beberapa saat kemudian, terlihat Jendra yang masuk ke dalam kamar hotel putrinya, karena pintunya memang terbuka, jadi dia tidak perlu menekan bel ataupun mengetuk pintu.
Namun, baru saja dia melangkahkan kakinya masuk, tatapannya kini jatuh ke arah pria yang merupakaan suami putrinya sedang asik dengan ponselnya sendiri.
__ADS_1
Jendra tidak ingin menegurnya, karena itu adalah hak Brio, dia lebih memilih untuk menghibur putrinya yang pasti sudah merasa stress beberapa hari ini.
Dia kembali mengayunkan langkahnya masuk ke dalam kamar yang terdengar banyak suara orang tertawa. "Hallo," sapa Jendra, membuat empat orang yang berada di kamar itu langsung menoleh dah melihat Jendra yang tengah berdiri dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Papah," sahut Vita dengan senyum yang manis.
Jeremi yang melihat senyum natural dari wajah Vita itu akhirnya ikut tersenyum, karena sedari tadi wanita itu hanya menampilkan senyum terpaksanya dan membiarkan Jeremi yang mengatur selanjutnya.
"Waaah, putri papah cantik sekali sayang," puji Jendra, dengan raut wajah bahagianya. Walau di dalam hatinya menyimpan seribu luka, yang dia tahu bahwa putrinya saat ini sedang tidak baik - baik saja.
Jendra kembali melangkah mendekati putrinya, dan mengecup singkat kening putrinya yang sudah menggunakan riasan besar dikepalanya.
"Apa ini? Kamu menggunakaan adat jawa di Paris sayang?" tanya Jendra, merasa takjub ketika putrinya masih memilih gaun tradisional Negaranya.
Vita menganggukan kepalanya pelan, baru detik ini dia merasa bahagia karena kehadiraan papahnya.
"Sedari dulu ketika teman aku menikah, aku selalu bosan pah, ketika mereka hanya menggunakan gaun putih panjang, jadi ketika aku menikah, aku ingin menggunakan pakaian jawa untuk resepsiku," balas Vita, dengan begitu antusias memperlihatkan riasan kepala dan make up yang sudah hampir selesai.
"Putri papah itu mau pakai apa saja tetap cantik kok, lihat wajah kamu saja bagaikan pinang dibelah dua sama papah," goda Jendra, sambil mendekatkan kepala putrinya dengan kepalanya bersampingan.
"Eh iya loh, bisa gitu ya," sahut Jeremi, yang sedari tadi begitu penasaraan dari mana gen cantik yang dimiliki oleh pelanggannya ini. Sebab sedari tadipun dia belum melihat mamah dari mempelai wanita.
Jendra tertawa menaggapi kalimat dari Jeremi, "papah tunggu sini ya sayang, papah ingin melihat seberapa cantik putri papah, dan setelah kamu selesai baru papah akan kembali ke dalam kamar papah," ucapnya meminta izin pada putrinya agar boleh stay dalam kamar itu.
Karena dia jelas tahu, jika putrinya saat ini sedang membutuhkan seseorang untuk menghibur dan menghilangkan rasa duka yang ada di dalam hatinya.
"Boleh dong pah, aku malah senang banget kalau papah ada di sini," jawab Vita, sembari tersenyum tanpa ingin mengingat - ingat kejadian yang tadi di antara dirinya dan juga suaminya.
*To Be Continue. **
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
__ADS_1
*Terima kasih**ππ»ππ»*