
πΉ Happy Reading ya Gengs πΉ
Vita berlalu begitu saja dari hadapan White, dia benar-benar tidak habis pikir dengan seorang pria yang segampang itu ingin melayangkan tangan kepadanya.
Jendra yang baru pertama kali melihat Vita pulang dengan seorang pria, kini langsung menghentikan langkah putrinya yang baru saja ingin masuk ke dalam rumah.
"Siapa dia, Vita?" tanya Jendra langsung to the point.
Mendadak Vita jadi bingung apa yang harus dijelaskan dengan Papahnya ini.
White membalikkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya hormat tepat di hadapan Jendra.
"Hallo, Om. Selamat malam, saya adalah White, Om, teman dari Vita," serunya memperkenalkan diri.
"Teman?" gumam Jendra bingung. Pasalnya putrinya itu sama sekali tidak pernah bercerita tentang teman seorang pria.
"Apakah kalian ini pacaran?" tanya Jendra yang langsung membuat mata Vita membulat seketika.
"Ya enggaklah, Pah, aku tidak akan punya pacar, dan tidak mau juga," sahut Vita, merasa kesal dengan pertanyaan papanya dia segera masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan White saat ini merasa canggung ketika berhadapan dengan Jendra.
"Bagaimana Vita bisa bersama dengan kamu malam ini?" tanya Jendra lagi, mulai mengintrogasi pria yang sudah membawa anak gadisnya pergi dari rumah hingga malam.
"Kami hanya party biasa, Om," jawab Brio asal. Hingga Jendra menyunggingkan senyuman yang tidak biasa di wajahnya.
"Saya dulu adalah juara MMA, jadi jangan pernah kamu macam-macam dengan putri saya," ancam Jendra, dengan mengpalkan tanganya kuat, membuat White hanya bisa menelan salivanya kasar.
"I--iyah, Om, aman," balas White, dengan perasaan kurang nyaman.
"Baik, kalau begitu kamu pulanglah, anak saya sudah berada di rumah, dan kamu tidak perlu mengantarnya sampai ke dalam," serunya mengusir White dari rumahnya.
White menampilkan senyumnya seramah mungkin, walaupun di dalam hati dia terus menerus mengumpat tidak suka dengan sikap Jendra kepadanya.
"Siaalan orang tua satu ini, belum tahu saja dia apa yang sudah aku lakukan dengan anak gadisnya, eh salah dia kan bukan gadis lagi," gumamnya bermonolog sendiri di dalam hati.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Om. Selamat malam, Om," pamitnya, dan segera melangkahkan kakinya pergi dari rumah Vita.
Dari kejauhan Jendra terus menatap White sampai mobilnya hilang tidak terlihat lagi.
Sesungguhnya Jendra merasa ada yang aneh dari mereka berdua, maksudnya bukan aneh tapi Jendra sudah mencurigai Vita dan pria tadi itu memiliki hubungan yang sangat intim.
Mungkin Jendra memilih untuk tidak menikah, akan tetapi dia bukanlah orang bodoh yang tidak bisa memahami apa yang saat ini sedang terjadi.
Melihat putrinya yang pulang dengan mengenakan kemeja pria, sedangkan pria yang bernama White tadi hanya menggunakan kaos oblong dengan celana boxer biasa, terlihat sangat santai. Dan mungkin kalau diteliti lebih lanjut, tidak ada yang aneh dari semua itu.
Namun, Jendra bisa mencium aroma tubuh Vita yang sama persis dengan aroma tubuh White, kemeja yang dia gunakan adalah milik pria tadi, dan terlebih, yang paling membuat Jendra mendadak pusing saat ini adalah.
__ADS_1
Tanda kissmark yang ada beberapa di leher putrinya, dan itu sangat jelas terlihat walau sudah tertutup dengan kerah kemeja.
Jendra mengepalkan tanganya dengan kuat, jika yang ada di dalam pemikirannya saat ini adalah benar, maka itu menunjukkan bahwa dia sudah gagal menjadi seorang ayah untuk Vita.
Dan bisa jadi, setelah kejadian ini sampai ke tangan Vita, maka sudah tidak ada lagi harapannya untuk bisa mendapatkan hak asuh Vita itu lagi.
Dengan perasaan marah, Jendra langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Vita.
Ini adalah pertama kalinya dia marah semarah-marahnya terhadap putrinya itu.
Buggghhh,,bugghhh, "Vita, buka pintunya, Papah ingin bicara denganmu," pekik Jendra dengan berusaha mengumpulkan segala kesabarannya.
Vita yang baru saja selesai mandi kini terkejut mendengar papahnya yang menggedor-gedor pintu kamarnya.
"Papah kenapa?" tanyanya bingung. Lalu di detik selanjutnya dia mengingat bahwa tadi di luar dia meninggalkan White dengan papahnya berdua.
"Jangan-jangan," gumamnya pelan, kali ini dengan perasaan kalutnya.
Seketika Vita jadi panik dan berusaha untuk berpikir, "Iya Pah, sebentar. Vita lagi pakai baju dulu," sahut Vita sambil berdiri di depan kaca untuk melihat penampilannya.
Namun seketika matanya membulat sempurna ketika melihat dua tanda kissmark yang berada di lehernya.
"Shittt! Pria ini benar-benar." Rasa kesal yang benar-benar menghampirinya kali ini membuatnya benar-benar harus berpikir dengan baik langkah apa yang harus dia ambil.
"Ahhh aku tahu, aku harus melukai sedikit leherku, agar papah mengira jika ini adalah gigitan dari serangga," lirihnya pelan, lalu mengambil sebuah silet untuk menggoreskan sedikit lehernya itu.
Setelah Vita rasa aman, dia langsung segera membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan papahnya untuk masuk.
"Ada apa sih, Pah? Kok kayak orang rusuh gitu pakai gedor-gedor segala?" tanya Vita dengan santai, merasa bahwa sikap papahnya ini sangatlah aneh hari ini.
Jendra langsung duduk di sebuah sofa yang berada di dalam kamar putrinya, dan menatap Vita dengan teliti dari ujung rambut hingga ke ujung kaki.
"Papah kenapa sih, pah? Lihat Vita udah kayak liat musuh aja," ucap Vita dengan tenang, berusaha menyimpan semua perasaan takut yang ada di dalam hatinya.
"Katakan sama Papah! Apa yang sudah kamu lakukan dengan pria itu seharian ini, Vita!" bentak Jendra yang benar-benar di luar batas.
Sumpah demi Tuhan, Vita sangat takut sekali saat ini dengan wajah papahnya. Ini pertama kalinya dia dibentak sedemikian rupa oleh Jendra, dan itu semua hanya karena pria tidak tahu malu itu.
"Hahaha.... Apa sih, Pah? Papah lapar, ya," elaknya, mulai mengalihkan pembicaraan.
"Vita, lebih baik kamu jangan berkelit sama Papah. Kalau tidak, Papah akan bawa kamu ke dokter sekarang juga untuk memeriksakan dirimu," ancam Jendra tidak bermain-main dengan kalimatnya.
Tubuh Vita seketika menegang, dia sangat tahu jika yang dimaksud papahnya saat ini adalah pemeriksaan Virgin, dan itu tidak mungkin dia lakukan karena pada kenyataannya dia memang sudah tidak virgin lagi.
"Pah, sebenarnya apa yang ingin Papah ketahui? Aku tadi tuh habis syuting, terus baju aku basah, dan kebetulan White memang lagi di lokasi, dan dia meminjamka kemejanya kepadaku, Pah," seru Vita mulai gugup.
"Kenapa kamu bicara seperti itu? Papah bahkan belum menanyakan kepadamu apa yang sedang Papah curigai denganmu pada saat ini," sahut Jendra, yang semakin membuat tubuh Vita gemetaran.
__ADS_1
"Ya-ya Papah kan sedari tadi pasti berpikir kalau aku melakukan hal di luar batas bersama dengan White, kan, makanya aku pulang menggunakan kemeja pria," balas Vita, dengan tetap berusaha tenang.
Jendra menganggukkan kepalanya pelan, namun tatapannya tetap fokus pada leher Vita.
"Lalu itu?" tunjuknya pada bekas kemerahan yang dia yakini adalah sebuah kissmark.
"Aaahhh ini, papah mau liat?" tanyanya pada papahnya.
Dan tanpa menunggu jawaban dari papahnya, Vita mendekat ke arah Jendra dan memperlihatkan tanda merah di lehernya itu.
"Ini tuh tadi digigit semut angkarang itu deh, Pah, soalnya gatal, terus perih, coba lihat, Vita garuk sampai berdarah gini," lapornya pada papahnya.
Keberuntungan saat ini berpihak kepadanya, Jendra meneliti tanda merah itu dan benar-benar seperti gigitan semut api.
"Maafkan Papah, ya, Sayang, karena sudah menuduhmu yang bukan-bukan," lirih Jendra pelan, merasa menyesal karena sudah berpikir macam-macam kepada putrinya yang baik hati.
Vita tersenyum dengan manisnya, lalu segera memeluk tubuh papahnya dengan sayang, "Pah, Vita masih tahu batasan pergaulan, jadi tidak mungkin Vita mau mengecewakan Papah dengan melakukan hal yang pasti akan membuat Papah dan keluarga ini malu, Pah," ucap Vita dengan penuh kebohongan.
Dalam hatinya, dia ingin sekali menangis dengan keras karena sudah berani berbohong seperti ini, namun dia melakukan semua ini demi menyelamatkan Papah dan perusahaan kakeknya, dia tidak ingin banyak yang tersakiti akibat keegoisan White yang ingin memiliki tubuhnya saja.
Jendra berkali-kali mengecup kening putri kesayangaanya itu dengan lembut. "Kamu tahu, Sayang, Papah akan menjadi ayah yang paling gagal di dunia ini, jika kamu sampai berbuat seperti itu."
"Karena kalau sampai kamu melakukan hal yang tidak pantas untuk dilakukan, itu tidak akan hanya merugikan kamu saja, tetapi merugikan banyak pihak," jelas Jendra pada putrinya.
Berusaha memberikan sebuah wejangan agar anak perempuannya ini bisa mengerti bahwa di dalam dunia akan sealu ada batasan-batasan yang dia harus hindari.
Terlebih sendiri, Jendra yang sebenarnya selalu merasa waswas, karena ketakutaan akan sebuah karma yang dulu dia perbuat terhadap Vika, yang bisa terjadi suatu saat nanti pada putrinya.
Seperti bayangan kesalahaan masa lalu yang selalu menghantuinya di setiap saat ketika putrinya pergi jauh dari sisinya.
"Tuhan, jika suatu saat nanti karma itu benar-benar ada, maka berikanlah saja padaku, Tuhan, karena aku yang berbuat, jangan libatkan putri kecilku dalam kesalahan dosa yang tidak dia perbuat," batin Jendra, terus menerus memohon pada Tuhan agar tidak melibatkan Vita dalam kesalahaan yang dulu dia perbuat.
Tanpa sama sekali dia ketahui, bahwa karma atas kejahatannya dulu, kini sudah benar-benar didapatkan oleh putri semata wayangnya itu.
**To Be Continue. *
**Note : teman-teman, kalau bisa babnya jangan di tabung ya, karena itu akan berpengaruh dengan Level yang akan Mimin dapatkan nanti ***ππ»ππ»* dan Akan mimin pastikan bahwa karya ini bukanlah promosi, dan akan selalu ada di sini sampai tamat.
*Dan Jangan lupa yah, dukunganyaπ₯° jangan Sinder.*
*Woy sedekah woy!!!! Jempolnya itu di goyangk'an jempolnya**π*
Jangan pelit! Mimin, jangan jadi pembaca gelap woy, legal **πLike,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, jangan lupa biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya****ππ
**Kalo malas-malasan entar Mimin juga malas-malasan loh ***πππ*
*Terima kasih**ππ»ππ»*
__ADS_1